September 30, 2020

Review : Si Doel The Movie


“Selama ini Bang Doel juga selalu nyariin Sarah. Kan Bang Doel nggak bisa ngelupain Sarah. Bang Doel tu masih cinta sama Sarah.” 
Anak Betawi ketinggalan zaman, katenye… 
Anak Betawi nggak berbudaye, katenye… 
Apa kau familiar dengan pecahan lirik di atas? Jika kau pernah mencicipi gegap gempita kurun 1990-an, rasa-rasanya tidak mungkin tidak mengenali lirik dari lagu tema untuk salah satu sinetron legendaris Indonesia, Si Doel Anak Sekolahan. Mengudara pertama kali di susukan televisi RCTI pada tahun 1994, sinetron ini menjadi buah bibir pada masanya dan dikategorikan sebagai program wajib tonton. Jika kau tidak tahu menahu mengenai sinetron ini, jangan bayangkan formula yang diterapkannya ibarat sinetron zaman kini yang tayang saban hari dengan plot yang bikin darah mendidih. Si Doel Anak Sekolahan hanya tayang setidaknya sekali seminggu dan narasi yang ditawarkannya pun membumi. Dekat dengan realita. Ini salah satu alasan yang membawanya ke puncak popularitas, disamping mempunyai penulisan aksara yang kuat. Siapa sih yang bisa melupakan Doel, Sarah, Zaenab, Babe, Mak Nyak, Mandra, Atun, Engkong, hingga Mas Karyo? Hingga bertahun-tahun sehabis sinetron ini resmi rampung pada tahun 2006, nama-nama tersebut masih terus dikenang dan menempel di ingatan. Itulah mengapa ketika tren sekuel atau remake untuk film legendaris mengemuka di perfilman Indonesia, mencuat pengharapan dalam diri ini untuk melihat mereka kembali berlakon sekalipun sudah tidak dalam gugusan utuh (beberapa pemain inti telah meninggal dunia). Terlebih, kisah cinta segitiga Doel-Sarah-Zaenab sejatinya belum menjumpai titik terang sehingga sang kreator, Rano Karno, masih mempunyai materi mencukupi untuk dikembangkan lebih lanjut. 

Berselang tujuh tahun dari versi FTV yang bertajuk Si Doel Anak Pinggiran (2011), Karnos Film berhubungan dengan Falcon Pictures menjawab pengharapan aku dengan menelurkan Si Doel The Movie yang secara khusus dipersiapkan untuk tontonan layar lebar. Dalam versi bioskop ini, Doel (Rano Karno) diceritakan telah menikahi Zaenab (Maudy Koesnaedi) dan hidup senang bersama Mandra (Mandra), Atun (Suti Karno), serta Mak Nyak (Aminah Cendrakasih) yang kini tergolek lemah di atas kasur. Konflik lantas dimulai sehabis sahabat usang Doel, Hans (Adam Jagwani), mengundangnya ke Amsterdam, Belanda, untuk membantunya mempersiapkan ekspo kebudayaan Betawi di sana. Ditemani oleh Mandra yang kegirangan alasannya ialah bisa menjejakkan kaki di luar negeri sekaligus mempunyai kesempatan untuk mengejek Atun yang tidak diajak serta secara terus menerus, Doel bertolak ke Belanda tanpa sedikitpun meragukan ada maksud lain dibalik ajakan Hans. Setelah beberapa waktu di Amsterdam, perlahan tapi niscaya Doel menyadari bahwa perjalanan ini bukanlah semata-mata bersifat bisnis. Doel kesannya memperoleh kebenarannya tatkala ia berjumpa lagi dengan istrinya yang ‘hilang’, Sarah (Cornelia Agatha), di Museum Tropen. Pertemuan singkat yang berlanjut pada ajakan makan siang ini seketika membangkitkan lagi kebimbangan dalam diri Doel. Dia harus menentukan antara kembali ke pelukan Sarah yang masih dicintainya dan kini membesarkan anak mereka seorang diri, atau tetap bersama Zaenab yang mencintainya tanpa syarat. 

Jangan percaya dengan trailer buruknya yang memberi kesan bahwa Si Doel The Movie telah kehilangan esensinya dan bertransformasi sebagai film jalan-jalan menikmati sederet lokasi turistik di Belanda. Jangan. Karena kenyataannya, Si Doel The Movie masih mempertahankan segala ciri khasnya yang telah berjasa dalam mendatangkan seabrek penggemar berat untuk versi sinetronnya. Kamu akan menjumpai konflik di area percintaan tatkala hati Doel terombang-ambing karena dihadapkan pada dua pilihan pendamping hidup yang sama baiknya, kau akan mendapati humor segar ketika temu kangen bersama Mandra si lisan nyablak yang terus berseteru dengan Atun, dan kau juga akan memperoleh narasi wacana keluarga yang menghangatkan hati. Mengingat bahwa film ini ditangani secara pribadi oleh sang kreator, tidak mengherankan jikalau kemudian sensasi rasa yang dihadirkannya tidak berbeda jauh dengan materi sumbernya. Indera perasamu masih akan mengenalinya sebagai Si Doel Anak Sekolahan. Kalaupun ada perbedaan mencolok, itu ialah tampilan visual yang terkesan mahal – menyesuaikan dengan medium barunya – dan sulit untuk dipungkiri, interaksi antar aksara yang tidak lagi setajam dulu. Penyebabnya, beberapa aksara besar lengan berkuasa yang menghadirkan tektokan seru mirip Babe, Engkong, maupun Mas Karyo, tidak lagi dihadirkan alasannya ialah para pemain drama yang memerankannya telah berpulang. Dalam satu wawancara, Rano Karno pun menegaskan bahwa ia enggan mencari pemain drama lain untuk mengisi peran-peran tersebut alasannya ialah tak ada yang bisa menggantikan mendiang Benyamin Sueb, Pak Tile, serta Basuki. 
Syukurlah, Si Doel The Movie masih mempunyai Mandra dan Suti Karno untuk menjaga dinamika film yang tentunya akan berjalan datar-datar saja apabila fokusnya sebatas pada kegalauan si aksara tituler yang tidak mampu membuatkan senyum barang sedikitpun ini. Mandra yang dikenal sering ketiban apes, mempunyai kesempatan untuk ‘balas dendam’ ketika ia diajak Doel ke Belanda. Salah satunya ditunjukkan dengan kiriman seabrek foto di banyak sekali kesempatan (bahkan sebelum naik pesawat!) yang dikirimkan Mandra ke Atun via Whatsapp. Ini menggelitik, terutama bagi penonton yang mengetahui mirip apa riwayat Mandra di versi sinetronnya. Gelak tawa yang dipersembahkan oleh aksara favorit banyak penonton ini terus berlanjut ketika ia mengalami gegar budaya sesampainya di negeri orang, kemudian melontarkan komentar-komentar kepada Doel yang seringkali nampol, hingga bagaimana ia terlihat sangat menikmati perjalanan ini. Performanya yang begitu enerjik tetapi tetap alami ini menciptakan Mandra senantiasa mencuri perhatian dalam setiap kemunculannya dan mengakibatkan film terasa menyenangkan untuk ditonton. Jajaran pemain lainnya mencakup Rano Karno, Maudy Koesnaedi, Cornelia Agatha, Suti Karno, Adam Jagwani, serta Aminah Cendrakasih (yang dedikasinya untuk film ini sungguh luar biasa sekalipun sudah tak bisa melihat dan tak bisa beranjak dari kasur) pun memberi performa anggun mirip kita ingat dari serial televisinya. Tambahan dua pemain drama cilik, Rey Bong beserta Ahmad Zulhoir, yang masing-masing memerankan putra dari Doel dan Atun sedikit banyak mengingatkan kita ke masa muda dari aksara orang renta mereka. 

Disaat film tidak menyoroti tingkah polah Mandra yang (sayangnya) bukan jualan utama Si Doel The Movie, kupasannya menitikberatkan pada pergolakkan hati ketiga aksara sentral; Doel, Sarah, dan Zaenab, yang tidak ingin kehilangan satu sama lain. Kegalauan Doel kian menjadi-jadi ketika ia bertemu dengan putra kandungnya untuk pertama kalinya. Pertemuan keduanya ini mempersembahkan satu dua momen yang akan membuatmu menyeka air mata haru. Ada rasa hangat yang tertinggal di hati, sekalipun pengaruh yang diberikannya bisa jadi akan lebih menonjok apabila Rano Karno bersedia untuk mengeksplorasi kekerabatan bapak-anak di sini. Mungkin Rano ingin menghindari dramatisasi berlebihan atau kemungkinan lainnya, menyimpannya untuk dikembangkan di film berikutnya. Cukup disayangkan bekerjsama mengingat durasi masih memungkinkan untuk direntangkan (hey, 85 menit terlalu pendek!) dan pertengahan film yang terasa agak berlarut-larut pun bisa dimanfaatkan untuk menjlentrehkan subplot ini. Tapi jikalau ternyata tujuan Si Doel The Movie hanya sebagai pijakan menuju sebuah franchise baru, keputusan tersebut tentu bisa dimengerti. Berhubung Si Doel The Movie mempunyai penggarapan yang apik – dan berhasil menguarkan aroma nostalgia di beberapa titik – aku terang tidak sabar menanti sekuelnya andaikata Rano Karno benar-benar merealisasikan film kelanjutannya. Semoga benar-benar berlanjut ke film kedua ya.

Exceeds Expectations (3,5/5)