October 20, 2020

Review : Sin


“Aku akan selalu ada buat kamu.”

Betapa nelangsanya nasib Minke (Iqbaal Ramadhan). Usai kisah cintanya dengan Annelies (Mawar De Jongh) dipaksa kandas karena sang pujaan harus berpindah ke Belanda, sekarang ia pun harus mendapatkan kenyataan pahit bahwa dirinya telah ditikung oleh teman baiknya sendiri. Jan (Bryan Domani) yang diberi kepercayaan untuk mengawal Annelies ternyata rahasia menaruh rasa kepada Annelies… dan mereka pun ada kemungkinan mempunyai korelasi darah dari pihak ayah (!). Kacau betul, bukan? Berhubung Tuan Mellema gemar bermain perempuan, maka plot twist ini tentu tidak mengherankan meski tetap akan bikin diri ini geleng-geleng kepala sekaligus mengernyitkan dahi bila benar-benar ditulis oleh Pramoedya Ananta Toer. Tapi syukurlah, korelasi cinta terlarang antara Annelies dengan Jan tersebut bukan serpihan dari dongeng kelanjutan Bumi Manusia, melainkan dari film bertajuk Sin keluaran Falcon Pictures yang menempatkan Mawar De Jongh beserta Bryan Domani di garda pemain utama. Dan memang, ada narasi mengenai cinta terlarang yang dikemukakan melalui tagline berbunyi “saat kekasihmu ialah kakakmu sendiri” yang mendorong beberapa mitra untuk melempar komentar julid: kok berasa sinetron ya? Saya sih tidak pernah berpikir hingga ke sana ya, sebab memang jarang sekali nonton sinetron. Malah, saya jadi teringat pada satu film erotis asal Thailand, Jan Dara (2001), yang sempat tayang di bioskop lokal dengan tajuk My Lover My Son. Same energy, rite? Berhubung masyarakat Indonesia sedang sangat relijius dan menaruh perhatian sangat tinggi kepada perkara berbau moral, saya tentu sama sekali tidak kaget begitu mengetahui bahwa kesamaan energi antara dua film ini hanya hingga di tampilan luar semata.

Sin yang didasarkan pada novel rekaan Faradita sendiri sejatinya merupakan film percintaan dewasa biasa. Kebetulan, konflik yang disodorkan agak dirumit-rumitkan demi memberi kesan berbeda. Di sini, penonton dikenalkan kepada Ametta Rinjani (Mawar De Jongh), siswi paling manis di sekolah dan telah mempunyai reputasi besar lengan berkuasa sebagai seorang playgirl. Dia kerap bergonta-ganti pasangan hanya untuk mencari kesenangan sementara tanpa pernah sekalipun berniat untuk menjalin korelasi secara serius. Petualangan Metta dalam berburu pria hasilnya mencapai ujungnya sehabis ia dibentuk bertekuk lutut oleh Raga (Bryan Domani). Berbeda dengan para lelaki di sekolah yang berusaha mati-matian untuk menerima perhatian dari Metta, Raga justru bersikap hirau tak hirau kepadanya. Bahkan, ia cenderung terganggu dengan kehadirannya. Demi sanggup menaklukkan perjaka misterius ini, Metta pun menguntitnya yang membawanya menuju sebuah arena pertandingan tinju ilegal dimana Raga menjadi salah satu petarungnya. Rahasia yang disembunyikan dalam-dalam oleh Raga ini lantas dimanfaatkan sebagai sebuah bahaya oleh Metta. Dia memberi pilihan kepada lelaki yang ditaksirnya; menghabiskan waktu bersamanya atau rahasianya dibongkar ke seantero sekolah. Berada dalam posisi terpojok, Raga pun mau tak mau kerap menemani Metta kemanapun ia pergi yang secara perlahan tapi niscaya menumbuhkan suatu rasa berbeda. Sebuah rasa yang seharusnya tidak tumbuh diantara mereka karena Raga dan Metta rupanya mempunyai korelasi darah yang selama ini sengaja ditutup-tutupi oleh pihak keluarga demi kebaikan bersama.


Saat film isyarat Herwin Novianto (Aisyah Biarkan Kami Bersaudara, Gila Lu Ndro) ini meletakkan fokus narasinya pada upaya Metta menaklukkan Raga, Sin sebetulnya masih cukup renyah untuk dikudap. Memang sih secara plot terbilang sangat klise, tapi ada dua faktor yang menciptakan tontonan ini naik kelas: 1) sinematografi manis dari Edi Michael Santoso yang sanggup menyulap Jakarta sehingga memberi kesan ibarat megapolitan mewah, dan 2) performa kompeten Mawar De Jongh dimana ia menguarkan aura seduktif nan bitchy yang mengakibatkan huruf Metta tampak unik di genrenya. Saya menyukai bagaimana Mawar sanggup tampil sangat menyebalkan di hadapan orang-orang yang tidak disukainya, kemudian beralih sangat menarik hati di depan Bryan Domani, dan kemudian bermanja-manja ketika Raga dikisahkan mulai sanggup mendapatkan kehadiran Metta. Berkat chemistry yang terjalin diantara dua pelakon utama ditambah bubuhan humor yang melingkungi korelasi antik keduanya, ada kalanya saya ikut tersenyum-senyum gemas. Para penonton dewasa yang memenuhi gedung bioskop di daerah saya menyaksikan film ini pun kentara ikut dibentuk jatuh hati. Mereka terkekeh, ada satu dua yang terdengar berseru “awww…”, dan penonton di sebelah saya tampak salah tingkah dibuatnya. Mesti diakui, Sin tergolong berhasil dalam memancarkan pesona romansanya di paruh awal, khususnya kepada sasaran pasarnya. Tapi ketika film tetapkan untuk memperlihatkan pelintiran pada dongeng dengan mengubah nada penceritaan menjadi sangat dramatis, pada ketika itulah Sin terhadang banyak problematika. 
  
Sebetulnya, keputusan untuk menciptakan jalinan pengisahan Sin lebih dari sekadar popular girl fall in love with an innocent boy layak diapresiasi. Ada pembicaraan soal obsesi, ada pula dialog wacana korelasi orang renta dengan anak di sini. Hanya saja, kedua topik menggelitik ini tak pernah benar-benar dikulik lebih jauh karena film mengalami kebingungan untuk memilih pijakannya. Apakah Sin ini diniatkan sebagai film percintaan yang ringan-ringan saja atau memang berencana membawa narasinya ke arah lebih kompleks? Karena bila niatan pertama yang ingin dicapai, perubahan nada dongeng yang drastis di paruh kedua membuatnya terasa sangat janggal. Dan bila niatan kedua yang ingin disasar, upayanya pun tak maksimal karena sebagian besar durasi dihabiskan untuk menyoroti kisah kasih dua protagonis yang gemas, tanpa pernah diberi landasan memadai menuju ke duduk perkara utama. Konflik besar mengenai “kekasihku ialah kakakku sendiri” pun gres benar-benar dibahas di tiga puluh menit jelang tutup durasi yang menciptakan paruh tamat terasa penuh sesak dan terlampau bergegas. Tak ada keharuan mencuat tatkala Metta berjumpa dengan ayah kandungnya (kayak biasa aja tuh), Raga mendadak berkenan untuk berkomunikasi dengan ayah yang tadinya sangat dibencinya, salah satu teman baik Metta mendadak menjelma psikopat lengkap dengan tawa menggelikannya, dan konflik mendadak sanggup diselesaikan dengan sangat gampang yang menciptakan saya bertanya-tanya, “mengapa duduk perkara ini sanggup ada kalau begitu?”. Ditambah rentetan adegan di babak titik puncak yang menciptakan saya berulang kali mengucap istighfar karena saking ajaibnya (pertarungan di bawah hujan yang hujannya cuma disitu doang? Sahabat Raga yang hebat melacak keberadaan seseorang? Mbak psikopat yang belum terbiasa memegang cutter?), Sin yang tadinya memulai langkah dengan menjanjikan pun hasilnya hanya menciptakan saya mengalami migrain ketika keluar bioskop alih-alih ikut baper. 

Panadol mana Panadol.

Acceptable (2,5/5)