June 27, 2020

Review : Single Part 2


“Hidup itu penuh kejutan. Ada yang bikin sedih, ada yang bikin seneng. Dan gue harus selalu siap-siap, alasannya ialah gue nggak pernah tahu kejutan apa yang menanti selanjutnya.”

Sedari menerjunkan diri ke dunia perfilman, Raditya Dika hampir selalu mengapungkan topik pembicaraan seputar “kenelangsaan jomblo” dalam rangkaian film yang dibintangi maupun diarahkannya. Berhubung sambutan publik terhitung hangat dan beliau kerap menemukan angle menarik buat dikulik, saya sanggup memahami keputusannya untuk tetap mengedepankan gosip tersebut. Baru beberapa tahun terakhir ini Dika mencoba keluar dari zona nyamannya dengan melepas judul-judul ibarat Hangout (2016), The Guys (2017), beserta Target (2018), yang ternyata memperoleh penerimaan beragam. Bagi saya pribadi, terasa ada sesuatu yang ‘hilang’ dari ketiga film tersebut alasannya ialah Dika memang sejatinya memberikan kekuatan berceritanya tatkala beliau berkutat dengan problematika jomblo. Hanya saja, mengingat beliau telah melepas status lajang dan sudah pula dikaruniai momongan, saya seketika dibentuk bertanya-tanya. Akankah Dika masih mempunyai kepekaan dalam ngelaba maupun bertutur soal pahit manisnya seorang bujangan yang tak mempunyai ikatan asmara? Menyadari penuh bahwa dirinya telah mengucap janji suci kesepakatan nikah dan tak lagi kelabakan mencari pendamping hidup yang setia menemani, maka film terbarunya yang merupakan kelanjutan dari film rilisan tahun 2015, Single Part 2, berupaya mengedepankan pembahasan lebih cukup umur ketimbang sekadar single shaming. Sebuah pendekatan yang mesti diakui berani menyelidiki pangsa pasarnya meski upaya pembaharuan ini sayangnya tak lantas menjadikannya lebih menggigit dari sang predesesor.

Di penghujung film pertama, kita melihat Ebi (Raditya Dika) kesudahannya sanggup bersatu dengan wanita yang ditaksirnya, Angel (Annisa Rawles yang masih saja memesona), di pesta kesepakatan nikah sang adik, Alfa (Frederik Alexander). Kala itu, penonton memang tidak mendapati keduanya memproklamirkan kekerabatan asmara mereka dengan berciuman atau saling melontarkan tiga kata keramat. Saya sempat menduga, si pembuat film ingin menyampaikannya secara implisit melalui kesediaan Angel untuk menggandeng lengan Ebi di pesta pernikahan. Tapi keberadaan Single Part 2 kemudian mengonfirmasi segalanya: mereka ternyata tak pernah jadian. Apa pasal? Rupa-rupanya, pengecap Ebi menjadi kelu setiap kali hendak mengutarakan perasaannya kepada Angel. Dia juga tak ingin pertemanan mereka retak andaikata Angel menolak dan kekerabatan mereka tiba-tiba menjadi janggal. Kegalauan si huruf utama untuk “nembak atau tidak” ini terus bertahan hingga beberapa tahun selepas beliau memperoleh kesempatan emas untuk menyatakan cintanya di selesai jilid terdahulu. Ebi masih betah melajang, sementara huruf yang dimainkan oleh Pandji beserta Babe Cabiita dikisahkan telah menikah. Lantaran tak lagi mempunyai support system, Ebi tetapkan pindah ke kos gres dimana beliau berkawan dengan jomblo menahun, Nardi (Ridwan Remin), dan pengantin baru, Johan (Yoga Arizona). Dari mereka, Ebi memperoleh dua perspektif berbeda mengenai status lajang yang lantas mendorongnya untuk membuat perubahan bagi hidupnya sebelum usia menapaki kepala 3.


Dalam banyak sekali kesempatan, Dika pernah berujar bahwa Single Part 2 bukanlah suatu upaya mendegradasi status lajang dengan menjadikannya sebagai materi olok-olok melainkan suatu upaya untuk mengajak penonton berkontemplasi. Merenungkan tujuan dibalik pilihan untuk tetap melajang, merenungkan kekerabatan antara status lajang dengan kebahagiaan. Apakah benar menjomblo secara otomatis mendatangkan kesengsaraan jawaban kesepian? Atau jangan-jangan, anutan tersebut muncul jawaban tekanan masyarakat yang kerap mengasosiasikan kesepakatan nikah sebagai solusi terbaik untuk memperoleh kebahagiaan? Ya, tak ibarat pendahulunya yang cenderung enerjik dan gegap gempita, laju penceritaan Single Part 2 tergolong damai mengikuti pendekatan kontemplatif yang ditempuh oleh si pembuat film. Gagasan Dika untuk memperbincangkan wacana status lajang secara cukup umur ini mesti diakui memang terdengar menggugah selera… di atas kertas. Lebih-lebih, saya bersama-sama lelah mendengar ocehan berkonotasi negatif dari lingkungan sekitar terhadap kaum bujang: bujang berarti nelangsa, bujang ialah nasib. Hanya saja, Dika mengalami hambatan tatkala mengejawantahkan inspirasi menariknya ini ke dalam bahasa gambar. Usahanya untuk berceloteh secara mendalam terganjal oleh narasi kelewat berlarut-larut mengenai “misi menembak Angel” yang belakangan jalan di daerah hingga mengaburkan pesan yang hendak diutarakan, sementara candaan khasnya yang tetap dipertahankan biar penggemar tidak merasa teralienasi mencapai titik garing level lanjut jawaban konfigurasi pemain yang kurang ciamik.

Seperti diketahui bersama, guyonan dalam film-film kreasi Dika seringkali bergantung pada karakter-karakter pendukung ketimbang huruf yang dimainkan oleh Dika sendiri. Maka ketika Pandji dan Babe yang sebetulnya lucu di film pertama dihempas, saya telah was-was. Apa mungkin penggantinya sanggup menandingi kebodoran mereka? Saya meyakini, Ridwan Remin dan Yoga Arizona tentu telah berjuang untuk membuat keriuhan di sekitar huruf Ebi. Tapi apa daya, comic timing keduanya seringkali meleset dan mereka tidak pula dibekali obrolan sarat tonjokan-tonjokan kocak yang menimbulkan kehadiran mereka urung berkontribusi terhadap pinjaman nyawa film. Mereka ada atau lenyap dari layar, tidak ada perbedaan signifikan. Apalagi guliran penceritaan sepenuhnya terfokus kepada huruf Ebi yang berjuang mengenyahkan status lajangnya. Berhubung derai tawa nrimo berkat celetukan atau momen-momen komediknya nyaris tak terdeteksi nadinya, saya pun mengalihkan keinginan ke elemen percintaan dan dramatik yang sekali ini ditekankan oleh Dika. Berbeda dengan lawakannya, nada serius dalam Single Part 2 tergolong cukup baik. Memang sih plot seputar pengungkapan cinta kepada Angel yang terus diulur-ulur menjadi repetitif, melelahkan dan membuat huruf Ebi menjadi kurang simpatik karena perilaku insecure-nya berimbas pada lewatnya kesempatan emas yang tertampang konkret berulang kali. Durasi yang merentang sepanjang 128 menit pun sangat mungkin dipadatkan dengan memangkas seabrek adegan tak perlu ibarat klub Jomblo yang entah apa faedahnya. Akan tetapi, ditengah-tengah penceritaan yang terasa kurang mempunyai daya cengkram ini, saya masih menjumpai adanya beberapa adegan yang terkemas bagus (seperti makan buah ceri di dalam mobil) atau menghangatkan hati (seperti perbincangan Angel dengan sang ibu) yang sedikit banyak membantu menyelamatkan Single Part 2 dari keterpurukan.

Acceptable (2,5/5)