October 17, 2020

Review : Single


“Jujur, kadang aku ngerasa bila kita suka sama orang, IQ kita bisa turun hingga 10 poin” 

Single menjadi semacam penegasan bahwa Raditya Dika memang ada baiknya diberi kepercayaan lebih untuk mengarahkan sendiri film-film kepunyaannya daripada sekadar berlakon dan menulis naskah. Telah mengenal dengan baik kontennya sendiri dan pangsa pasar yang dituju, Dika pun secara otomatis lebih lancar pula mempunyai keleluasaan dalam menuturkan dongeng serta melemparkan humor-humor di waktu yang tepat. Walau kesannya tidak selalu berakhir mulus – Dika sempat tersandung parah di Malam Minggu Miko Movie – namun dua dari tiga film terbaik Dika sejauh ini, yakni Marmut Merah Jambu dan Single, merupakan film-film yang menempatkan si ‘ikon jomblo tanah air’ di balik kemudi. Melalui dua film tersebut, khususnya Single, Dika memperlihatkan bukti bahwa kapabilitasnya dalam berceloteh lewat medium bahasa gambar sudah selayaknya mulai lebih diperhitungkan. Single tidak saja berhasil tawarkan kesenangan maksimal melalui banyolan-banyolan yang sekali ini terasa lebih kocak ketimbang film-film Dika sebelumnya tetapi juga menawarkan kehangatan pada hati dari guliran pengisahannya. 

Raditya Dika ialah cowok jomblo menahun tanpa pekerjaan tetap berjulukan Ebi yang tinggal di sebuah rumah kos bersama dua sahabatnya, Wawan (Pandji Pragiwaksono) dan Victor (Babe Cabiita). Dalam usia mendekati kepala 3 (atau malah sudah melewatinya?), Ebi dirisaukan oleh ketidakmampuannya menjalin kekerabatan dengan lawan jenis karena senantiasa kesulitan membuat komunikasi yang baik. Kegalauannya tentang asmara ini kian menjadi-jadi tatkala sang adik, Alva (Frederik Alexander), dengan kehidupan jauh lebih mapan dibanding Ebi mendadak memutuskan untuk menikah. Tidak ingin harga dirinya jatuh di depan ibu (Tinna Harahap) yang sempat mengemukakan keinginannya menimang cucu kepada Ebi secara terang-terangan, Ebi pun mulai memberanikan diri mencari pendamping hidup dengan proteksi dari Wawan dan Victor. Perhatiannya tertambat pada Angel (Annisa Rawles), mahasiswi Kedokteran yang gres saja pindah ke kos Ebi. Hanya saja, tidak gampang memenangkan hati Angel karena kekikukan Ebi yang mengganggu dan Angel ternyata mempunyai seorang ‘abang’ berjulukan Joe (Chandra Liow) yang terus menerus menghalangi upaya Ebi untuk mendekati Angel. 

Topik pembicaraan di Single memang tidak jauh berbeda dengan aneka macam film Dika sebelum ini. Tanpa perlu menjadi jenius, dari judul saja kita sudah bisa menduga film akan mencelotehkan soal nestapa jomblo bertampang pas-pasan yang problematika utamanya dalam hidup ialah menemukan pasangan tepat. Ya, Dika masih berada di comfort zone-nya dengan kembali bermain-main di area yang telah dikuasainya betul-betul. Akan tetapi, satu hal menarik yang perlu dikonfirmasi, untuk merealisasikan Single yang notabene menurut dongeng orisinil (bukan pembiasaan dari buku atau serial televisi si kreator), Dika berkolaborasi dengan Soraya Intercine Films yang dikenal murah hati dalam menggelontorkan bujet besar demi kepentingan menampilkan production value berkualitas tinggi. Dengan privilege sebesar ini, satu pertanyaan yang berkelebat di benak adalah, “sejauh mana Dika akan memanfaatkannya untuk menopang guliran pengisahannya?.” Berkaca pada trailer, kita mengetahui Dika sama sekali tidak menyia-nyiakannya dan sesudah menyaksikan film ini secara penuh di layar lebar… phew, ternyata aktivis buku laku Koala Kumal ini mendayagunakannya dengan jitu sehingga mendongkrak keseluruhan kualitas film. 

Ada kebut-kebutan kendaraan beroda empat di jalan raya, berlanjut ke ledakan mobil, disusul terjun payung dari atas pesawat, dan tidak ketinggalan lanskap Pulau Dewata yang dibingkai bagus oleh Enggar Budiono. Bagusnya, kesemuanya ini yang terbungkus dalam visual grande khas Dinasti Soraya tidak dimunculkan sekadar untuk gaya-gayaan atau memamerkan besarnya bujet melainkan mempunyai bantuan penting terhadap penceritaan serta menghasilkan impact lebih tajam pada lontaran guyonan-guyonan Dika yang biasanya dihantarkan sederhana saja. Mempunyai ruang lebih untuk bergerak, terlebih beliau juga menduduki dingklik penyutradaraan, membuat Dika sanggup mengeksplor candaannya sehingga kesan gila-gilaan (bahkan terkadang seolah lepas tanpa beban) sanggup dirasakan sekali ini. Areanya tentu masih tidak jauh-jauh dari kenaasan si tokoh utama dalam merajut asmara, hanya saja kombinasi antara ketepatan timing melempar ‘bom humor’ dan rangkaian dialog-dialog menggelitik sanggup menjunjung Single ke level terhormat sekaligus menghindarkannya dari sekadar tontonan pepesan kosong. 

Ini masih belum ditambah barisan pemain yang juga piawai dalam ngelaba. Dika dikaruniai rekan-rekan yang paham betul kapan dan bagaimana menerjemahkan tulisan-tulisannya menjadi lakonan pengundang tawa, ibarat Pandji Pragiwaksono, Tinna Harahap, Chandra Liow, dan paling mencuri perhatian berkat celetukan absurd-nya yang tak pernah gagal membuat aku terbahak-bahak, Babe Cabiita. Merekalah ujung tombak dari Single, disamping pendatang gres Annisa Rawles yang betul-betul tampak charming sehingga kita memaklumi mengapa Ebi bisa dibentuk mabuk kepayang olehnya. Kegemilangan Single tidak terhenti hingga pada sesi melucu saja alasannya sesudah deraian tawa selama hampir dua jam, Dika sedikit membelokkannya ke ranah drama. Belum sepenuhnya terbebas dari lawakan, memang, namun sekitar 15 menit terakhir Single merupakan salah satu bab terbaik film alasannya secara mengejutkan Dika berhasil hantarkan konklusi yang begitu hangat, manis menggemaskan dan mengena di hati sampai-sampai senyuman senang pun tetap mengembang dikala melangkahkan kaki ke luar gedung bioskop. Bagus dan sangat menghibur, go watch it! 

Note : Apakah sesudah menonton Single, kau kecanduan lagu temanya yang dibawakan oleh Geisha, ‘Sementara Sendiri’, sampai-sampai kesulitan berhenti bersenandung “ku benci sendiri, ku benci sendiri…”? Jika ya, welcome to the club!

Outstanding