June 28, 2020

Review : Skyscraper


“Tell me, how much do you love your family?” 

Saat kau mempunyai rencana untuk menciptakan sebuah film laga minim nutrisi berbujet besar yang di dalamnya sarat ‘boom boom bang’ dan membutuhkan satria penuh karisma yang sulit terkalahkan, kau tentu tahu siapa yang mesti digaet untuk memerankan sang jagoan. Jika tebakanmu yaitu Dwayne Johnson (atau The Rock), aku bisa menyampaikan bahwa tebakanmu tidaklah meleset. Karena nyaris tidak ada pemain drama laga Hollywood dalam satu dekade terakhir yang sekarismatik Babang The Rock sampai-sampai beliau juga mempunyai kekuatan lain berupa pesona yang akan membantu menyelamatkan film dengan naskah seamburadul apapun. Sebuah definisi pahlawan yang bahu-membahu – setidaknya bagi para petinggi studio. Maka begitu Legendary Entertainment mengajukan wangsit film laga memakai kata kunci, “sebuah hiburan teman makan popcorn yang memadukan antara Die Hard (1988) dengan The Towering Inferno (1974)”, kita sudah bisa menerka siapa yang bakal ditugaskan. Usai menyelamatkan keluarga fiktifnya dari petaka yang meluluhlantakkan pesisir Atlantik, kemudian berkembang menjadi menjadi tokoh perkasa dalam mitologi Yunani, dan menjinakkan seekor gorila raksasa yang membabibuta di perkotaan, sekarang Dwayne Johnson dipercaya untuk mengeluarkan keluarga fiktifnya yang lain (apes bener yaa menjadi anak dan istrinya!) dari gedung pencakar langit yang dilalap kobaran api dalam film terbarunya bertajuk Skyscraper

Melalui Skyscraper yang menandai untuk kedua kalinya Dwayne Johnson berkolaborasi bersama sutradara Rawson Marshall Thurber sehabis Central Intelligence (2016) ini, Dwayne Johnson berperan sebagai mantan biro FBI berjulukan Will Sawyer. Selepas sebuah peristiwa yang merenggut separuh kakinya sehingga beliau mengenakan kaki palsu, Will mengakhiri karirnya di FBI dan beralih menekuni profesi sebagai konsultan keamanan. Pekerjaan yang dijalaninya selama satu dekade tersebut membawa Will beserta sang istri, Sarah (Neve Campbell – hello, Sidney, long time no see!), dan kedua anak kembarnya (McKenna Roberts, Noah Cottrell), ke Hong Kong. Will direkomendasikan oleh koleganya semasa masih di FBI pada taipan Zhao Long Ji (Chin Han) yang sedang membutuhkan analisis keamanan untuk gedung pencakar langit miliknya, The Pearl, yang digadang-gadang sebagai bangunan tertinggi di dunia melampaui Burj Khalifa dan Empire State Building. Perjalanan bisnis yang mulanya berlangsung lancar-lancar saja ini mendadak berubah menjadi petaka tatkala sekelompok teroris asal Skandinavia menyantroni The Pearl. Guna menjebak Zhao yang menjadi incaran utama di griya tawangnya, mereka meretas sistem keamanan dan aben lantai 96 yang merupakan titik tengah bangunan. Yang luput dari perhitungan para teroris, disamping Zhao, sisi atas gedung turut dihuni oleh keluarga Will. Maka begitu mengetahui istri beserta anak-anaknya terperangkap di The Pearl yang membara, Will terperinci tidak tinggal membisu dan mencari segala cara untuk menyelamatkan mereka.

Hanya dengan menengok bahan promosi Skyscraper, kemudian membaca sinopsinya, dan melihat jajaran pemainnya, kau tentu sudah bisa menetapkan ekspektasi menyerupai apa yang seharusnya dibawa masuk ke gedung bioskop. Bukan tontonan laga sok serius, sok njelimet, atau sok cerdas, melainkan sesederhana tontonan laga amat ringan yang akan menciptakan para penontonnya melupakan permasalahan hidup barang sejenak. Itu artinya, kau akan melihat Dwayne Johnson sekali lagi memerankan aksara yang bisa melakoni apa saja (literally!) hanya bermodalkan otot-otot kekarnya. Meski aksara yang dimainkannya dalam Skyscraper diceritakan memakai kaki palsu dan beliau telah usang tidak memegang senjata, bukan berarti beliau lantas beralih memanfaatkan otaknya untuk menyusun strategi. Kalau begitu, dimana letak serunya? Ini film laga yang dibintangi oleh Dwayne Johnson lho! Lagipula, kita sudah tahu bahwa Dwayne Johnson bisa melaksanakan apa saja, maka disinipun bukan pengecualian. Dia tetap bisa berlari, melompat, bahkan meringkus lawan-lawannya memakai tendangan. Dia tetap tidak terkalahkan dan kita pun tidak keberatan. Karisma kuatnya menciptakan sosok Will gampang untuk dicintai, lebih-lebih motivasinya dalam menerabas gedung pencakar langit yang terbakar api tersebut yaitu demi menyelamatkan keluarganya. Sebuah misi yang mulia, tentu saja. Pun begitu, Rawson Marshall Thurber yang juga meracik skenarionya tidak menghadirkan cukup momen untuk menciptakan hati penonton merasa terenyuh (walau tetap hadir di satu dua titik) sebab fokusnya hanya satu: laga, laga, dan laga. 
Rasa-rasanya, sebagian besar penonton yang menetapkan untuk menghabiskan waktu dan uangnya dengan menyaksikan Skyscraper di bioskop pun tidak berharap lebih-lebih. Toh, Skyscraper telah sangat berhasil menjalankan fungsinya sebagai teman makan popcorn yang mengasyikkan. Jalinan pengisahannya memang klise banget, terbilang menggelikan, dan minim nutrisi (siapapun asal khatam film laga, bisa menulis skrip ini), tetapi sulit bagi aku untuk mengeluh ketika film bisa menciptakan aku menahan nafas, berteriak, hingga alhasil bertepuk tangan riuh di dalam bioskop bersama ratusan penonton lain di separuh durasinya. Bahkan ada kalanya meremas pegangan dingklik dan kaki-kaki gemetaran ketika Will bergelantungan di sisi gedung The Pearl seperti tingginya hanya beberapa meter saja. Mengingatkan pada agresi Tom Cruise di Mission Impossible: Ghost Protocol (2011), hanya saja kali ini lebih absurd dan absurd sebab melibatkan lakban (!) sehingga tentu saja tidak kondusif bagi kalian yang mempunyai acrophobia (fobia pada ketinggian). Skyscraper sendiri mempunyai sederet keseruan kala menyaksikan atraksi Will dari melompat menerabas gedung di lantai 100-an memakai crane, dilanjut bergumul dengan api, hingga konfrontasi simpulan yang kesemuanya diperoleh dari kombinasi performa Dwayne Johnson (serta Neve Campbell yang badass!), ketepatan si pembuat film dalam mengatur tempo, pergerakan kamera yang dinamis, dan penyutingan yang gesit. Selama menyaksikannya, diri ini mencicipi sensasi menyerupai menonton film laga bergaya old school dari abad 80-90’an yang cenderung to the point sekaligus enggan ribet dalam bernarasi. Asal bisa menggenjot adrenalin, puas sudah.

Exceeds Expectations (3,5/5)