July 4, 2020

Review : Slender Man


“He gets in your head like a virus. Some he takes, some he drives mad. Once you see him, you can’t unsee him.” 
Dua hari silam selepas menonton Slender Man, saya berbincang dengan kekasih melalui telepon genggam. Saat saya menyampaikan bahwa ini ialah film horor, terdengar nada terkaget-kaget dari ujung telepon. “Hah, ini film horor? Saya kira film superhero lho sebab ada ‘man-man’-nya,” begitu kata doi. Awalnya sih diri ini hanya bisa terkekeh mendengar kepolosannya, tapi kemudian tak berselang usang saya tersadar, siapa ya yang kini masih mengingat (atau setidaknya mengetahui) mengenai sosok Slender Man di Indonesia? Rasa-rasanya, kecuali mereka memang menaruh minat pada kisah supranatural dan gemar berselancar di dunia maya sedari satu dekade lalu, tidak banyak yang erat dengan makhluk mistik fiktif rekaan Eric Knudsen ini. Ketenaran dari sosok yang dideskripsikan mempunyai badan amat ramping, tanpa wajah, dan mengenakan jas ini sendiri dimulai usai sang kreator memenangkan kompetisi Something Awful. Penggambaran beserta mitologinya yang creepy (konon, beliau mempunyai kebiasaan menculik anak kecil serta memburu siapapun yang mencari tahu wacana latar belakangnya!) membuatnya kerap diperbincangkan di internet sampai-sampai menginspirasi tercetusnya web series, permainan video, hingga upaya pembunuhan dari dua bocah berusia 12 tahun yang menggegerkan seantero Amerika di tahun 2014 silam. 

Anehnya, sekalipun popularitas Slender Man telah merosot drastis utamanya sesudah bencana tersebut, Sony Pictures melalui bendera Screen Gems tetap nekat menawarkan lampu hijau untuk pembuatan film horor bertajuk Slender Man yang menempatkan Sylvain White (The Losers, Stomp the Yard) di bangku penyutradaraan. Guliran pengisahan yang dikedepankannya sendiri tidak mempunyai keterkaitan dengan bencana yang telah disebutkan maupun mitologi utamanya yang melibatkan belum dewasa demi menghindari kontroversi, melainkan membentuk narasi (yang gotong royong tidak) baru. Film ini menempatkan empat cukup umur perempuan; Hallie (Julia Goldani Telles), Wren (Joey King), Chloe (Jaz Sinclair), dan Katie (Annalise Basso), yang mempunyai ikatan persahabatan yang sangat berpengaruh (sampai-sampai mengetahui password laptop masing-masing) sebagai aksara utama. Seperti halnya sekumpulan cukup umur kurang cerdas dan kurang kerjaan di film horor pada umumnya, mereka iseng-iseng melaksanakan ritual pemanggilan Slender Man di suatu malam sesudah membaca serentetan kisah angker mengenai makhluk ini. Ya namanya juga dipanggil, tentu saja si makhluk misterius tersebut ‘menyahut’. Slender Man (Javier Botet) menebar teror pada Hallie beserta konco-konconya secara perlahan tapi niscaya melalui mimpi jelek beserta halusinasi yang sulit untuk dijelaskan yang kemudian mencapai puncaknya sesudah satu demi satu dari empat sahabat ini mendadak raib dari muka bumi. 

Tatkala beberapa dari mereka raib tanpa jejak, semestinya ada rasa takut, sedih sebab kehilangan, sekaligus ingin tau yang menguar dalam diri. Perasaan yang sewajarnya muncul apabila kita bisa menginvestasikan emosi pada barisan aksara dalam suatu film. Akan tetapi, mungkin sebab saya memang tidak mempunyai hati atau sebab memang si pembuat film enggan membentuk empat sahabat ini sebagai aksara yang nyata, saya justru bersuka cita begitu mereka dimangsa oleh si aksara tituler. Tanpa tersadar, saya bersorak “horeee!” setiap kali ada yang lenyap sebab itu berarti, stok aksara menyebalkan dalam film ini mulai berkurang. Heh. Tapi tentu saja, Sylvain White dan David Birke selaku perancang skenario tidak ingin kita berbahagia sedari awal sebab sosok paling bikin hati dongkol dalam Slender Man ialah Hallie yang ditakdirkan sebagai ‘final girl’. Digambarkan senantiasa skeptis terhadap keberadaan Slender Man walau kedua sahabatnya telah terang menghilang dan beliau sempat pula melihat bayangannya, Hallie terang menyebalkan. Yang kemudian mendorong saya untuk mengklasifikasikannya sebagai aksara antagonis ialah ketika beliau masih sempat-sempatnya berenak-enak dengan lelaki yang ditaksirnya sementara di waktu bersamaan, Wren kewalahan mencari cara untuk mengalahkan si makhluk ceking. Kalau saya berada di posisi Wren yang nyawanya ibarat dicabut ketika mendengar kelakuan Hallie, mungkin tanpa pikir panjang, saya akan menjadikannya sebagai tumbal. Sahabat macam apa yang meninggalkan sahabatnya yang sedang kesusahan hingga nyaris gila, hah? Hah? 
Ketidaksanggupan untuk bersimpati kepada barisan aksara yang tampaknya sudah keburu ngacir ketika Tuhan membagikan otak ini turut diperparah oleh pengarahan dari sang sutradara yang tidak bernyawa. Padahal Slender Man mempunyai satu dua momen yang gotong royong berpotensi menjadikan mimpi jelek bagi penonton. Disamping video pemanggilan yang mempunyai visual pembangkit bulu kuduk, ada pula adegan yang berlangsung di perpustakaan dan rumah sakit yang kalau ditangani oleh sutradara dengan sensitivitas tinggi akan membuatmu meringkuk di bangku bioskop. Sayangnya, Sylvain White bukanlah sosok pencerita dongeng angker yang ulung. Sentakan yang didapat dari dua momen potensial ini bukan berasal dari kengeriannya, melainkan bersumber dari musik pengiring yang ketajaman suaranya mengoyak gendang telinga. Duh. Yang juga disayangkan, sosok Slender Man di sini lebih terlihat menggelikan ketimbang mengerikan. Keputusan untuk enggan menjlentrehkan mitologinya secara mendetail (hanya dipaparkan sekilas kemudian saja) dan memaksa si makhluk ceking untuk berkejar-kejaran dengan korbannya alih-alih berdiam diri sedikit banyak berkontribusi terhadap terpangkasnya kengerian film ini. Selama durasi mengalun sepanjang 93 menit yang terasa ibarat 2 jam lebih sebab alurnya yang merangkak, saya tak kuasa menahan kantuk mengikuti narasi basinya yang entah sudah berapa kali didaur ulang oleh film horor ini. Satu-satunya ketakutan yang saya dapatkan usai menonton Slender Man ialah membayangkan uang dan waktu yang bisa saya alokasikan untuk sesuatu yang lebih berfaedah, malah saya hambur-hamburkan secara percuma demi menonton film ini.

Poor (1,5/5)