October 16, 2020

Review : Soegija


“Jika rakyat kenyang, biarkan Romo yang terakhir merasa kenyang. Jika rakyat lapar, biarkan Romo yang pertama merasa lapar.”

Sekitar final bulan Mei 2012, para pemilik BlackBerry dihebohkan dengan sebuah broadcast message yang berisi permintaan untuk memboikot film terbaru Garin Nugroho, Soegija, karena kontennya yang dianggap sebagai upaya Kristenisasi. Tudingan yang tak beralasan, terlebih filmnya sendiri belum beredar di bioskop manapun. Akan tetapi, bad news is good news. Soegija berhasil menumbuhkan rasa ingin tau di beberapa kalangan. Kebenaran akan rumor yang beredar dirasa perlu untuk dibuktikan. Tak hanya para akseptor pesan serta pecinta film saja yang menantikan kehadiran film ini, sejumlah gereja dan sekolah-sekolah Kristen pun menghimbau para jemaat dan siswa untuk menyaksikan film ini di bioskop. Hasilnya, dalam 4 hari pemutaran, Soegija selalu dipenuhi penonton. Tiket di beberapa bioskop telah habis terjual hingga beberapa hari ke depan. Dan seketika hal ini pun menjadi pembicaraan hangat. Saya pun sempat bertanya-tanya, apa yang membuat Soegija menjadi begitu Istimewa sehingga banyak pihak merasa perlu tiba berbondong-bondong ke bioskop? Apakah alasannya yakni film sejarah yang mengangkat tokoh Kristen sangat jarang ditemukan di perfilman nasional? 

Soegija yakni Mgr. Albertus Soegijapranata SJ, uskup pribumi pertama di Hindia Belanda yang juga merupakan hero nasional. Sepak terjang Soegija tak dikemas Garin Nugroho dalam bentuk sebuah film biopik semoga tak menjadi film dakwah. Garin memutuskan untuk menyoroti satu fase kehidupan Soegija di tahun 1940 hingga 1949 tatkala Jepang menyerbu Semarang dan Sekutu menduduki Jogja. Sejumlah insiden sejarah yang direkam yakni pendudukan Jepang di Indonesia, pecahnya Perang Dunia kedua, pengeboman di Hiroshima dan Nagasaki, deklarasi kemerdekaan Indonesia, Pertempuran Lima Hari di Semarang, hingga Agresi Militer Belanda. Peristiwa-peristiwa besar bersejarah tersebut tak diwujudkan dalam bentuk visual, melainkan hanya dituturkan dalam bentuk gosip radio melalui tokoh berjulukan Pak Besut (Margono). Sungguh mengecewakan. Akan tetapi, tidak ada yang membuat saya merasa lebih kecewa daripada menyadari bahwa Soegija bukanlah film mengenai Soegija. Ini yakni film yang salah judul. Seharusnya Garin Nugroho memberinya judul ‘Soegija dan Kawan-Kawan’ atau ‘Mariyem & Soegija’. Selama 115 menit, sang tokoh utama bahkan muncul tak hingga separuh dari durasi film. Piye iki?  

Armantono dan Garin Nugroho bersama-sama memiliki wangsit yang bagus dengan mencoba membuat beberapa tokoh fiktif yang dimaksudkan untuk mencerminkan fatwa dari Soegija (Nirwan Dewanto). Sayangnya, tokoh-tokoh pembantu ini malah justru kelewat mayoritas sehingga sang tokoh utama pun seakan tak berguna. Saya justru merasa ini yakni film perihal Mariyem (Annisa Hertami), bukan mengenai Soegija. Porsinya dalam film serasa tak utuh dan terkesan sebagai ‘alat jual’ belaka. Penonton yang mengharapkan akan melihat usaha Soegija di tanah Jawa hingga dia mendapat gelar sebagai hero nasional, akan mendengus kecewa. Walaupun semenjak awal telah ditekankan bahwa film ini hanya mengambil sepenggal dongeng hidup Soegija atau Romo Kanjeng, namun saya sama sekali tidak menduga hasil hasilnya akan ibarat ini. Informasi yang dibeberkan supaya kita lebih mengenal sosok dia teramat sedikit. Jangankan mengetahui masa kecilnya di Solo dan Wirogunan, jasa-jasanya terhadap negeri tercinta ini pun kurang terekspos. Peran penting Romo Kanjeng ketika vacum of power, Pertempuran Lima Hari di Semarang, hingga Agresi Militer tak tergambarkan. Hingga film berakhir kita dibiarkan bertanya-tanya, “Apa yang telah dilakukan oleh Soegija sehingga dia dianggap sebagai pahlawan?” 

Terlalu banyaknya tokoh pendukung (dan sialnya, fiktif) yang dijadikan poros menjadi bumerang bagi film ini sendiri. Dengan durasi yang terbatas, tiap tokoh mendapat jatah yang serba sedikit. Tahu-tahu adegan melompat ke adegan lain, tanpa diberi aba-aba. Dan ini terjadi berulang kali. Plot yang melompat kesana kemari tak beraturan membuat film menjadi kurang nikmat untuk dinikmati. Sejumlah adegan yang disiapkan untuk memancing tawa penonton, membuat suasana romantis dan membuat emosi bergejolak menjadi terasa hampa. Wibawa Romo Kanjeng pun kurang terlihat jawaban kemunculannya yang selalu dalam suasana konyol. Pun begitu, bukan berarti film Garin Nugroho yang paling gampang dicerna ini sama sekali gagal karena naskahnya yang berantakan. Soegija masih terbantu dengan akting para pemainnya yang maksimal, musik skor yang indah serta sinematografi plus tata artistik yang patut diacungi jempol. Pemilihan lokasi syutingnya pun tepat. Suasana Tanah Air di tahun 1940-an tervisualisasikan dengan baik. Kucuran dana sebesar Rp 12 Miliar sama sekali tak sia-sia. Sungguh disayangkan gambar yang sudah tertata rapi dan elok dinodai oleh naskahnya yang kurang ciamik. Soegija terasa ibarat buatan sutradara debutan, bukan seorang Garin Nugroho.

Poor