October 24, 2020

Review : Spectre


“Welcome, James. It’s been a long time. And, finally, here we are.” 

Dengan Sam Mendes telah standar begitu tinggi bagi franchise James Bond melalui Skyfall, bergotong-royong sedikit tidak rasional mengharapkan film kelanjutannya akan lebih menakjubkan – melampaui segala pencapaian di seri sebelumnya – walau pada alhasil ekspektasi tersebut sulit terhindarkan terlebih usai menyidik barisan pemain anyarnya yang ‘wow’. Siapa coba tidak tergiur untuk menyaksikan Christoph Waltz, Monica Bellucci, serta Lea Seydoux (komoditi panas di dunia sinema dikala ini) beradu akting dalam sebuah film Bond? Belum apa-apa, Spectre terlihat siap untuk bergabung bersama jajaran film terbaik dalam franchise ini. Mungkin tidak satu level dengan Skyfall apalagi Casino Royale, perwakilan seri terbaik dari kala Daniel Craig, namun sudah cukup tinggi sehingga menciptakan para penggemar terus menerus mengenang kehebatannya. Akan tetapi, segala hype yang bergema dengan indahnya ini perlahan tapi niscaya mulai terkena noda dimulai dari bahan promosi asal jadi (dalam hal ini, poster) hingga lagu tema dari Sam Smith, Writing’s On the Wall, yang melempem. Kekhawatiran bahwa Spectre tidak akan sekuat dua kakaknya pun mulai menyeruak yang pada alhasil memang dibuktikan oleh hasil final filmnya yang jauh dari kesan impresif. 

Kekacauan besar yang memporakporandakan beberapa titik di Meksiko berdampak pada dilayangkannya teguran keras dari M (Ralph Fiennes) kepada James Bond (Daniel Craig) untuk menghindari kiprah lapangan sementara waktu. Memiliki tekad merampungkan misi yang dititahkan mendiang M (Judi Dench), Bond pun mengindahkan segala bentuk larangan dari sang atasan dan rahasia melanglang buana ke Italia guna menghadiri pemakaman lawannya yang lantas menuntunnya kepada sebuah organisasi kriminal raksasa berjulukan Spectre. Berbekal derma dari Q (Ben Whishaw) dan Moneypenny (Naomie Harris), Bond mencoba menguak keterkaitan antara Spectre dengan serentetan kasus yang dihadapinya, termasuk dari masa lalunya sekalipun, yang membawanya pada kekerabatan rumit dengan putri dari musuhnya, Madeleine Swann (Lea Seydoux). Tanpa pernah disadari baik oleh Bond maupun M, misi rahasia yang dijalankan Bond ternyata berafiliasi dekat dengan problematika besar yang dihadapi M di London terkait masa depan MI6. Konon, Kepala Badan Keamanan Nasional Inggris yang baru, Max Denbigh (Andrew Scott), mempunyai rencana merger MI6 dengan MI5 sekaligus menghapuskan kegiatan 00 untuk selamanya! 

Berlatar kemeriahan parade Day of the Dead di Meksiko, Spectre memulai guliran pengisahannya dengan hentakan yang sangat kuat. Mood penonton dibumbungkan tinggi-tinggi melalui gelaran agresi sangat mengasyikkan yang akan seketika menyita perhatian sekaligus membuatmu menahan nafas selama beberapa detik dari gedung luluh lantak, kejar-kejaran diantara kerumunan pemirsa parade yang padat hingga pertarungan di dalam helikopter yang terbang tak terkendali di atas lokasi parade. Memperoleh entrée pembangkit adrenalin semacam ini, Sam Mendes seolah menjanjikan bahwa selama dua setengah jam ke depan – phew, durasi yang sangat panjang! – penonton akan disuguhi sajian kurang lebih senada. Dan tentu saja Mendes tidak sepenuhnya mengobral komitmen palsu sebab kau masih akan mendapat rentetan agresi menyenangkan khas film 007 dalam Spectre – tidak sebatas pada adegan pembuka ini semata – menyerupai ‘balap mobil’ di jalanan kota Roma, pertarungan tangan kosong Bond melawan Mr. Hinx (Dave Bautista) di kereta api, dan tembak-tembakan antara pesawat dengan kendaraan beroda empat di pegunungan Alpen, sekalipun kadar keasyikkan yang dikandungnya sayangnya kesulitan menandingi apa yang digeber oleh Mendes sesaat sebelum tembang mendayu-dayu dari Sam Smith mulai berkumandang tersebut. 

Hanya saja rentetan adegan agresi ini tidak cukup berpengaruh dalam menyangga sisi penceritaan Spectre yang terhidang kurang matang. Terhitung sejak Bond bertolak ke Italia, laju pengisahan mulai bergoyang-goyang tak stabil diikuti tensi ketegangan yang terus menerus menukik dengan sesekali saja menanjak padahal pokok pembahasan yang diajukan terhitung menarik terkait babak berikutnya dari masa kemudian James Bond serta nasib di ujung tanduk MI6. Tidak bisa memperlihatkan kedalaman yang diharapkan pada guliran konflik, problem demi problem yang hadir secara silih berganti di sini hanya meninggalkan cita rasa cuek karena emosi penonton gagal digaet. Mengingat durasi mengalun panjang, maka cuek pun seketika bersinonim dengan menjemukan. Si pembuat film kurang bisa menggambarkan nuansa serba genting yang seharusnya menyergap di titik-titik krusial film, termasuk perjumpaan Bond dengan sang supervillain untuk pertama kalinya dalam sebuah rapat rahasia, pertemuan MI6 bersama pemerintah membahas mengenai kelangsungan organisasi, atau konfrontasi final yang menempatkan tokoh-tokoh penting pada kondisi terjepit. 

Kehambaran guliran pengisahan turut dirasakan pula pada barisan karakternya. Daniel Craig memang masih terlihat gahar sebagai Bond walau untuk sekali ini tampak sedikit kelelahan sedangkan Ben Whishaw, Ralph Fiennes dan Naomie Harris memperlihatkan sedikit kesejukan berkat porsi tampil lebih banyak (sekaligus mendapat kesempatan untuk terlibat dalam adegan aksi!), akan tetapi para pendukung gres seakan-akan hanya sekadar numpang lewat. Monica Bellucci tampil sekelebat saja, Dave Bautista mempunyai potensi menjadi villain menjengkelkan sebab kemampuan tarung hebatnya namun kemunculannya pun tak berbeda jauh dari Bellucci, Lea Seydoux menyegarkan biro rahasia mengantuk (ya, hanya itu, beliau sama sekali tidak setipe dengan Vesper Lynd dari Casino Royale), serta paling memilukan, Christoph Waltz yang memerankan salah satu huruf terpenting di franchise ini nyaris tidak meninggalkan kesan mengerikan maupun mengancam sebagai (katanya sih) supervillain terlebih jikalau menyandingkannya dengan Raoul Silva milik Javier Bardem dari Skyfall lalu. Sungguh tersia-sia. 

Ya, berpatokan pada; 1) lagu tema yang entah bagaimana bisa sedemikian sendu, 2) jalinan pengisahan membosankan dengan durasi terlalu panjang, dan 3) karakter-karakter gampang dilupakan, khususnya sang penjahat yang lebih tampak cemen ketimbang berbahaya, ada baiknya kau yang tetapkan ekspektasi tinggi-tinggi bagi Spectre untuk menurunkannya secepatnya. Jilid ke-24 dalam rangkaian seri James Bond ini terang tidak berada dalam level yang sama dengan Skyfall maupun Casino Royale, bahkan cenderung lebih melelahkan buat disimak ketimbang Quantum of Solace yang diuntungkan oleh durasi jauh lebih pendek. Duh, dek. Jika ada yang menyelamatkan muka Mendes sekaligus menghindarkan Spectre dari label film terburuk dalam franchise James Bond dari segala era, maka itu yaitu Hoyte Van Hoytema yang memberi tangkapan gambar berkomposisi cantik, rujukan setumpuk ke film-film 007 lawas yang pastinya akan menciptakan para penggemar berat kegirangan (bersiaplah untuk menyambut kembalinya gun barrel opening sequence, hooray!), dan gelaran adegan aksinya yang masih tergolong seru pula mengasyikkan buat disantap khususnya pada adegan pembuka yang sangat mendebarkan tersebut. Sungguh disayangkan Spectre tidak turut ikut memperpanjang daftar spy movies memuaskan tahun ini yang anggotanya terdiri atas Kingsman: The Secret Service, Spy, The Man From U.N.C.L.E. dan Mission: Impossible – Rogue Nation. 

Acceptable