November 28, 2020

Review : Spider-Man: Homecoming


“I’m nothing without the suit!”

“If you’re nothing without the suit, then you shouldn’t have it.”


Reboot lagi, reboot lagi. Mungkin begitulah jawaban sebagian pihak tatkala mengetahui film terbaru si insan laba-laba, Spider-Man: Homecoming, memulai guliran pengisahannya dari awal mula (lagi!) alih-alih melanjutkan apa yang tertinggal di dwilogi The Amazing Spider-Man yang juga merupakan sebuah reboot dari trilogi Spider-Man asuhan Sam Raimi. Bisa jadi tidak banyak yang tahu – kecuali kau rajin mengikuti perkembangan gosip film terkini – bahwa keputusan untuk ‘back to the start’ ini dilandasi alasan supaya Spider-Man sanggup melebur secara mulus (dan resmi) ke dalam linimasa Marvel Cinematic Universe (MCU). Sebelum hak pembuatan film merapat lagi ke Marvel Studios yang diumumkan pada tahun 2015 silam, segala bentuk film yang berkenaan dengan alter ego Peter Parker ini memang berada sepenuhnya di tangan Sony Pictures. Itulah mengapa kita gres benar-benar bisa melihat Spidey bergabung bersama para personil Avengers untuk pertama kalinya dalam Captain America: Civil War (2016) selepas janji kerjasama antara Sony Pictures dengan Marvel Studios sukses tercapai. Menyusul perkenalan singkat nan berkesan yang menyatakan bahwa si insan laba-laba telah ‘pulang ke rumah’ di film sang kapten tersebut, Spidey kesannya memperoleh kesempatan unjuk gigi lebih besar dalam film solo perdananya sebagai kepingan dari MCU yang diberi tajuk Spider-Man: Homecoming

Dalam Spider-Man: Homecoming, Peter Parker (Tom Holland) dideskripsikan sebagai seorang remaja Sekolah Menengan Atas berusia 15 tahun yang mempunyai otak encer, penuh semangat, sekaligus masih labil. Pasca diajak berpartisipasi oleh Tony Stark (Robert Downey Jr) dalam pertempuran antar personil Avengers akhir perbedaan prinsip mirip diperlihatkan di Civil War, Peter berharap banyak dirinya dalam wujud Spider-Man akan dipercaya seutuhnya untuk menjadi kepingan dari kelompok Avengers. Berbulan-bulan menanti panggilan dari Tony yang tidak kunjung datang, Peter pun menentukan beraksi kecil-kecilan seorang diri di lingkungan sekitar kawasan tinggalnya dengan impian suatu ketika akan menghadapi pelaku kriminal sesungguhnya. Tidak berselang lama, gayung bersambut. Peter berhasil menggagalkan agresi pembobolan ATM dari sejumlah perampok yang memakai senjata berkekuatan luar biasa dan berlanjut pada memergoki penjualan senjata ilegal dari pihak sama yang ternyata dikomando oleh mantan kontraktor yang menyimpan dendam kesumat pada Tony, Adrian Toomes (Michael Keaton). Dengan dukungan sang teman yang mengetahui jati diri Peter yang lain, Ned (Jacob Batalon), dan perlengkapan canggih hasil kreasi Tony, Peter/Spider-Man berupaya menerangkan kepada sang mentor bahwa dirinya telah memenuhi kualifikasi untuk bergabung ke dalam Avengers dengan cara menghentikan rencana besar Adrian untuk mencuri senjata berteknologi tinggi dari pemerintah.

Hanya butuh tiga abjad untuk mendeskripsikan mirip apa Spider-Man: Homecoming, yakni F-U-N. Ya, sajian rekaan Jon Watts (Clown, Cop Car) ini sanggup menawarkan sebuah pengalaman sinematik yang bukan saja mengasyikkan tetapi juga memuaskan sehingga gampang untuk menempatkannya di jajaran terdepan dari film terbaik Spider-Man – berdasarkan saya, hanya kalah dari Spider-Man 2. Guyonan yang dilontarkannya berulang kali membuat derai-derai tawa, sementara rentetan sekuens langgar yang dikedepankannya pun amat seru. Terhitung sedari adegan Spidey melawan gerombolan Adrian Toomes di dalam bilik ATM yang menghadirkan semangat pula canda tawa, setahap demi setahap Watts mulai meningkatkan level kegentingan yang dihadapi pahlawan kita bersama ini yang membuat perjalanan selama 132 menit berlangsung tanpa terdengar helaan nafas panjang tanda munculnya kejenuhan. Tercatat setidaknya ada tiga momen langgar mendebarkan yang mencuri atensi saya secara penuh di Spider-Man: Homecoming. Pertama, ketika si insan laba-laba mencoba untuk menyelamatkan rekan-rekan sekolahnya yang terjebak di dalam lift yang hendak terperosok. Kedua, penghormatan terhadap adegan kereta listrik dari Spider-Man 2 tatkala Spidey melawan Vulture – jelmaan Adrian – di kapal feri yang berujung pada terbelahnya kapal tersebut. Dan ketiga, konfrontasi final yang panas dan dipicu oleh ‘interogasi’ tak disangka-sangka. 

Segala bentuk gegap gempita penuh kesenangan tersebut bisa kau jumpai dengan gampang semenjak babak pembuka hingga epilog dalam Spider-Man: Homecoming yang penceritaannya dilantunkan memakai pendekatan film remaja 80-an bertemakan coming of age mirip milik mendiang John Hughes (The Breakfast Club, Ferris Bueller’s Day Off) ini. Satu hal yang saya sukai sekaligus kagumi dari film solo untuk para superhero yang tergabung dalam MCU ialah adanya sempalan genre lain dibalik tampilan luar yang sepintas kemudian tampak seragam sebagai superhero movie yang semata berhura-hura. Lihat bagaimana mereka membentuk Captain America: Winter Soldier selaiknya tontonan spionase, kemudian Guardians of the Galaxy ibarat space opera dengan bumbu komedi nyentrik, dan Ant-Man yang kentara terasa dipengaruhi oleh heist movie. Dalam Spider-Man: Homecoming, keputusan untuk membawanya ke arah film remaja pencarian jati diri terbilang masuk nalar alasannya ialah pendekatan ini efektif dalam mengenalkan pula mendekatkan penonton kepada sosok Peter/Spidey melalui serangkaian konflik internal khas remaja kebanyakan (contoh memendam asmara pada gadis tercantik di sekolah, teralienasi dari pergaulan dan haus akan pengakuan) yang dihadapi Spidey sebagai anggota paling muda di Avengers. Kita bisa mendeteksi semangatnya yang kelewat meletup-letup, idealismenya yang acapkali kebablasan, kepolosan generasi muda yang belum tersentuh pahitnya dunia, hingga ketidakstabilan emosinya sehingga membuat keberadaan Tony Stark di sisinya pun sangat bisa dipahami. Lagipula, bukankah menyegarkan melihat sepak terjang superhero remaja yang masih labil sesudah selama ini kita lebih sering menyaksikan agresi para superhero remaja yang memahami benar apa motivasi mereka dalam bertempur? 

Tom Holland bisa menerjemahkan itu semua secara prima, termasuk ketengilan Spidey kala beraksi dan kekikukkan Peter dalam berinteraksi sosial. Meyakinkan. Apiknya performa Holland turut menerima sokongan pula dari lini pendukung yang menghadirkan lakonan tak kalah apik; Michael Keaton ialah seorang villain yang mengintimidasi baik ketika mengenakan kostum maupun tidak (tengok adegan di mobil!) serta manusiawi di ketika bersamaan menyelidiki motivasinya yang bukan semata-mata ingin menguasai dunia, Jacob Batalon ialah seorang teman kocak yang ingin kita miliki, Zendaya sebagai teman sekolah Peter ialah seorang wanita dengan aura misterius yang ingin kita kenal, dan Marisa Tomei sebagai Bibi May ialah seorang bibi keren yang kita kagumi. Disamping mereka masih ada juga sumbangsih tugas dari Jon Favreau, Robert Downey Jr., Tony Revolori, serta Chris Evans (dalam tugas singkat yang bikin gemes!) yang membuat film kian mempunyai cita rasa meriah. Meriah? Ya, memang demikian adanya Spider-Man: Homecoming mirip halnya kebanyakan film yang tergabung dalam MCU. Namun lebih dari itu, nada penceritaan sarat hingar bingar yang dipilih oleh Jon Watts sendiri merupakan sebentuk representasi untuk Peter/Spider beserta masa mudanya yang penuh gejolak. Masa mudanya yang mengasyikkan, seru, dan penuh warna karena mempunyai banyak kesempatan mengeksplor kekuatan gres tak terbayangkan sebelumnya. 

Note : Pastikan kau bertahan hingga layar bioskop telah berubah sepenuhnya gelap. Ada dua adegan aksesori tatkala credit title bergulir yang berada di pertengahan dan penghujung.

Outstanding (4/5)