October 17, 2020

Review : Split


“I’ve never seen a case like this before. Twenty three identities live in Kevin’s body.” 

Pernah ada masanya M. Night Shyamalan digadang-gadang sebagai sutradara terkemuka di masa depan. Menapaki abad milenium, sutradara berdarah India asal Philadelphia, Amerika Serikat, ini berturut-turut menelurkan karya jempolan semacam The Sixth Sense, Unbreakable, Signs, serta The Village. Ciri khas yang gampang dikenali di barisan filmnya tersebut yaitu kuatnya pembentukan karakter, bangunan atmosfer mengusik yang menghasilkan rasa tidak nyaman, serta twist ending. Ya, Shyamalan sempat pula menerima julukan “rajanya twist ending” karena kebiasaannya memperlihatkan pelintiran di ujung kisah dalam film-film arahannya. Belakangan karirnya mengalami kemerosotan drastis, utamanya sesudah mencoba meninggalkan ranah thriller yang dikuasainya dan mengorkestrai genre berbeda semacam The Last Airbender yang lempengnya tiada ketulungan (Ugh!) beserta After Earth yang hampa. Diprediksi tidak akan lagi bisa merengkuh kepercayaan khalayak ramai, tiba-tiba saja Shyamalan kembali dengan sebuah kejutan kecil yang manis: The Visit. Menghadirkan gelaran found footage yang amat creepy (si nenek!), ternyata The Visit semacam pemanasan sebelum penebusan dosa sesungguhnya melalui Split dimana kita kesannya bisa mengatakan, “welcome back, Shyamalan!.” 

Tiga cukup umur perempuan; Claire (Haley Lu Richardson), Marcia (Jessica Sula), dan Casey (Anya Taylor-Joy), mendapati diri mereka terbangun di sebuah ruangan terkunci yang sama sekali aneh bagi ketiganya. Masih dalam keadaan terguncang, seraya mencoba menyusun kepingan-kepingan memori yang berantakan, para gadis disambut oleh seorang laki-laki yang menculik mereka, Dennis (James McAvoy). Tampak menyerupai laki-laki biasa tanpa kekuatan lebih, sempat terbersit di pikiran Claire dan Marcia untuk melumpuhkan Dennis dengan memakai kemampuan beladiri mereka yang lantas urung diwujudkan usai Casey menganggapnya sebagai inspirasi buruk. Benar saja, Dennis nyatanya tidaklah sesederhana kelihatannya alasannya yaitu perjumpaan para gadis dengan sang penculik di kesempatan selanjutnya mengungkap bahwa laki-laki tersebut mengidap dissociative identity disorder (DID) atau mudahnya, kepribadian ganda. Di satu waktu mereka bisa saja berjumpa Dennis yang terobsesi pada keteraturan, sementara di waktu lain mereka akan disambut Patricia yang anggun atau Hedwig yang mengaku masih berusia 9 tahun. Tercatat setidaknya ada 23 kepribadian berbeda yang hidup dalam badan si penculik dan berdasarkan mereka, kepribadian ke-24 bernama The Beast akan segera tiba yang konon kabarnya merupakan kepribadian paling mengerikan diantara semuanya. 

Laju awal Split cenderung merambat. Usai adegan pembuka berintensitas cukup tinggi, Shyamalan lantas menguranginya begitu mengajak penonton menapaki ruang bawah tanah yang dimanfaatkan sang antagonis untuk menyekap ketiga wanita belia ini. Kita diberi kesempatan menjalin keakraban bersama para korban – terutama Casey yang diberi jatah kilas balik berulang kali, demi memunculkan kepedulian atas nasib mereka, serta mengenali beberapa kepribadian mayoritas yang menghinggapi badan sang penculik. Bagi penonton yang terbiasa dengan film angker penuh asupan jump scares, kesunyian dan pelannya film boleh jadi akan menguji kesabaran. Shyamalan sendiri enggan mempergunakan metode ‘cilukba’ disusul skoring musik menyayat gendang indera pendengaran guna memacu detak jantung penonton. Seperti halnya film-film ia terdahulu, rasa ngeri yang timbul dalam Split bersumber dari atmosfir yang sangat mengganggu dan menguarkan aroma misterius. Lorong-lorong panjang berpencahayaan redup, ruangan-ruangan sempit di bawah tanah yang akan menciptakan penonton dengan klaustrofobia blingsatan di dingklik bioskop, dan huruf villain yang tindak tanduknya sulit untuk diprediksi – gampang beralih tanpa diberi isyarat terlebih dahulu sebelumnya. 

Dihadapkan pada perasaan tidak nyaman menyerupai ini, secara otomatis film telah mengondisikan penontonnya untuk senantiasa waspada kalau-kalau ada peningkatan level ketegangan mendadak menyerupai perlawanan dari pihak korban atau si penculik menampilkan kepribadian barunya yang lebih ganas. Jujur, sebelum Split tutup durasi, sulit untuk benar-benar menghembuskan nafas lega sekalipun ada bubuhan serbuk humor di beberapa titik guna mencairkan rasa cekam. Bahkan, sesi terapi antara Dennis yang hadir memakai kepribadian Barry, sang desainer kemayu, bersama psikolognya, Dr. Karen Fletcher (Betty Buckley), pun memiliki intensitasnya tersendiri. Momen ini memang dipergunakan Shyamalan untuk mengajak kita mempelajari karakteristik sang antagonis lebih mendalam termasuk motivasi-motivasinya yang sekaligus menghindarkannya dari sosok karikatural, namun sulit disangkal ada sensasi berdebar-debar melihat percakapan kedua belah pihak. Karen berupaya mengulik kegiatan yang coba disembunyikan Barry (atau bersama-sama ia yaitu Dennis?) rapat-rapat, sementara Barry yang menyadari gelagatnya mulai terbaca berusaha mengelak. Satu pertanyaan lantas mencuat, “apa yang akan terjadi berikutnya seandainya tidak ada celah lagi bagi Barry untuk berkelit dan pengukuhan yaitu satu-satunya jalan keluar?.” 

Ya, Split dituturkan oleh Shyamalan dengan apik. Tapi kehebatannya dalam merajut kisah tidak akan terbaca tanpa performa kelas kakap dari James McAvoy yang bisa bertansformasi secara mulus ke banyak sekali kepribadian. Berkatnya, perilaku dingin, konyol, mengancam, bengis, hingga ringkih dari si penculik yang masing-masing merepresentasikan identitas tertentu sanggup tersalurkan dengan baik ke penonton. Kadangkala kita bisa mengenali kepribadian yang sedang mendominasi melalui gaya berbusana, namun tidak jarang pula, peralihannya hanya bisa terdeteksi apabila kita cermat mengamati intonasi bunyi dan gestur yang diperagakan oleh McAvoy. Beruntungnya McAvoy – selain memperoleh dukungan skrip beserta pengarahan bagus, ia didampingi jajaran pelakon yang bermain mengesankan pula. Lupakan Haley Lu Richardson dan Jessica Sula yang tidak istimewa (menampilkan stereotip wanita terkenal elok yang hanya bisa meratap), Split masih memiliki Betty Buckley yang simpatik dan Anya Taylor-Joy yang tangguh sekaligus misterius di ketika bersamaan. Perpaduan antara ekspo akting ciamik dengan penceritaan lancar dari si pembuat film yang juga mahir menghadirkan daya cekam maksimal inilah yang menciptakan Split layak disejajarkan bersama barisan film-film terbaik Shyamalan. Plus, jangan lupakan adegan penutupnya yang bakal menciptakan para penggemar maupun penonton setia karya-karyanya berteriak kegirangan. Gokil! 

Trivia : Salah satu kebiasaan Shyamalan yaitu ikut numpang tampil di film-film garapannya, termasuk Split. Nah, berperan sebagai siapakah ia di film ini?

Outstanding (4/5)