October 20, 2020

Review : Spotlight


“I know there’s things you cannot tell people. But I also know there’s a story here people will hear about it.” 

Apakah kau pernah membaca (atau setidaknya mendengar) rangkaian artikel perihal pemerkosaan belum dewasa oleh ratusan pastur Kristen Roma yang dipublikasikan di The Boston Globe pada tahun 2002? Jika ya, maka film terbaru dari Tom McCarthy bertajuk Spotlight ini akan mengajakmu melongok proses di rahasia dari pembuatan artikel yang membuahkan Pulitzer Prize bagi tim investigasinya. Tapi jikalau belum mengetahuinya sedikit pun, maka bisa lebih baik lagi alasannya kau akan mendapati temuan fakta-fakta mencengangkan yang mengguncang emosi selama berjalannya investigasi. Bahkan meski kau telah mengenal cukup baik pemberitaan yang menghebohkan Boston dan banyak sekali penjuru dunia ini – kemana film ini akan bermuara pun sejatinya telah terterka semenjak awal – sama sekali tidak mengurangi kenikmatan dalam menyantap Spotlight alasannya selama kurun durasi dua jam, McCarthy akan terus menerus mencengkram dekat perhatianmu lewat pemaparan yang begitu padat, rapi, namun tetap mempunyai cita rasa renyah untuk dikunyah. Dan pada ketika itulah kau menyadari bahwa Spotlight memang sebuah film yang hebat. 

Mengambil latar pertengahan tahun 2001 hingga awal 2002, Spotlight memfokuskan penceritaan pada upaya sekelompok jurnalis di tim Spotlight – sebuah grup kecil di The Boston Globe yang bertugas menulis perihal artikel-artikel pemeriksaan dengan riset mendalam – dalam mengungkap skandal pemerkosaan yang dilakukan oleh seorang pastur berjulukan John Geoghan. Gagasan penulisan artikel kontroversial ini dicetuskan editor gres Globe, Marty Baron (Liev Schreiber), sesudah membaca mengenai kasus tersebut di suatu kolom. Mengingat lebih banyak didominasi penduduk Boston memeluk agama Katolik, begitu pula dengan para jurnalis di tim Spotlight, maka mengkreasi artikel yang membongkar malu dari seorang petinggi agama Kristen terdengar menyerupai ilham buruk. Walau sempat ada keragu-raguan, toh karenanya tim kecil yang terdiri dari Walter Robinson (Michael Keaton), Sacha Pfeiffer (Rachel McAdams), Michael Rezendes (Mark Ruffalo), Matt Carroll (Brian d’Arcy James), serta Ben Bradlee Jr. (John Slattery) karenanya terjun juga ke lapangan untuk memulai investigasi. Selama proses menghimpun bukti-bukti, tim Spotlight terpapar fakta mengejutkan yang menunjukkan banyaknya jumlah pastur-pastur badung maupun korban-korban bungkam dan bagaimana Gereja Kristen seolah tutup mata terhadap kasus ini. 

Perlu diketahui, McCarthy tidak mempresentasikan Spotlight selayaknya thriller yang alunan pengisahannya bergerak sangat cepat dan dipenuhi dentuman pada sisi emosi. Tidak. Momentum dalam Spotlight dibangun perlahan-lahan, namun bergerak menanjak secara pasti, sehingga setidaknya di 15 menit pertama – sebelum anggota tim maupun penonton benar-benar mengetahui apa yang akan mereka hadapi – terkesan lambat pula tak tentu arah. “Apa sih yang ingin disampaikan oleh film ini?,” begitulah kira-kira gerutuan penonton tanpa kesabaran kala mencapai titik ini. Tapi begitu kita melewati fase “mau apa sih kita”, Spotlight juga tidak lantas eksklusif mengaum keras. Ini yaitu dampak dari keputusan McCarthy untuk sebisa mungkin mempertahankan film di titik realistis. Walter Robinson dan rekan-rekannya tidak digambarkan menyerupai sosok heroik tanpa cela yang berjasa besar dalam mengungkap kebobrokan sistem Gereja Kristen di Boston. Mereka tetap diperlihatkan menyerupai jurnalis-jurnalis biasa yang kebetulan tengah mengerjakan sebuah artikel pemeriksaan berat yang berpotensi mengguncang dunia. Ya, kuncinya terletak pada kisah dalam kasus tersebut, bukan dinamika korelasi antar karakternya. Si pembuat film ingin penonton menaruh fokus ke kasus yang tengah dikerjakan oleh tim Spotlight dengan menempatkan mata para jurnalis sebagai mata penonton. 

Dalam artian, kita melihat perkembangan kasus pemerkosaan melalui perspektif Walter Robinson dan rekan-rekannya. Bagi saya, ini yaitu sebuah sensasi dalam bersinema yang sungguh mengasyikkan alasannya seperti kita diajak turut serta oleh tim Spotlight untuk mengikuti mereka dalam menjalani proses investigasi. McCarthy sukses menempatkan kita pada posisi tersebut, kini tergantung pada keputusan penonton apakah bersedia melihat film memakai sudut pandang ini atau tetap menginginkan metode konvensional dengan setiap sudut film disusupi momen-momen dramatis. Kala kita bisa mendapatkan maksud dari sang sutradara, Spotlight akan membawamu pada tuturan kisah penuh tikungan-tikungan mengejutkan yang sumbernya diperoleh tidak jauh-jauh dari ruang kerja, pengadilan, daerah penyimpanan berkas, kafe, beserta rapat. Ya, metode kerja tim Spotlight diperlihatkan seotentik mungkin. Mula-mulanya tentu agak melelahkan alasannya pemeriksaan menyerupai tidak menunjukkan perkembangan signifikan, namun ketika mereka mengetahui bahwa Geoghan bukanlah satu-satunya pastur nakal, atau ketika Matt Carroll mendapati pastur di lingkungan rumahnya ternyata salah satu diantara pelaku… boom! Spotlight pun akan mulai mengusik perhatianmu sepenuhnya. 

Oh, tentu saja kau perlu memberi perhatian lebih pada Spotlight. Ada banyak pembicaraan-pembicaraan berisi nama-nama yang menuntut konsentrasi menyeluruh penonton supaya tidak tersesat atau terlepas dari pegangan ketika penyelidikan semakin merumit menyusul munculnya tersangka-tersangka baru. Terdengar melelahkan? Tidak sama sekali alasannya toh kasus ini berkembang kian menarik, mendebarkan, dan menggugah pikiran. Di sela-sela penyelidikan yang memungkinkan penonton melontarkan reaksi semacam “wow!”, “nggak nyangka ya”, atau murni sumpah serapah, pun McCarthy masih memberi sedikit bubuhan humor dan adegan-adegan cukup emosional ketika Sacha dengan aura hangatnya bisa membujuk para korban untuk buka suara, jadi kata sifat menyerupai membosankan berikut persamaan-persamaannya tidak pernah sekalipun terlampir di Spotlight. Dengan barisan ensemble cast bermain sangat berpengaruh dalam satu kesatuan – meyakinkan kita bahwa mereka memang jurnalis – ada impian besar yang secara otomatis muncul untuk memberi santunan kepada mereka supaya pengungkapan kasus serta pembuatan artikel berjalan mulus terlebih ketika bermunculan kerikil-kerikil yang berusaha keras menghentikan langkah mereka dengan satu kata kunci, “jadi The Globe ingin menuntut Gereja Katolik?.” Membawa penonton untuk mengikuti pemeriksaan yang seru, penuh inovasi mencengangkan, dan mencengkram dekat emosi, Spotlight was so damn good.

Outstanding (4,5/5)