October 21, 2020

Review : Spy


“I look like someone’s homophobic aunt.” 

Apakah dirimu yaitu salah satu dari sekian juta moviegoers yang dibentuk jatuh hati oleh kecemerlangan Kingsman: The Secret Service yang mengatakan penghormatan tepat terhadap film spionase beberapa waktu silam? Apabila ya, dan menginginkan ada sajian serupa mengikutinya, maka bergembiralah karena tidak perlu waktu lama untuk menunggu, Paul Feig telah menjawab keinginanmu melalui Spy. Untuk mewujudkan kegilaan menyerupai yang senantiasa hadir di film-film garapan Feig, maka direkrutlah partner sejatinya Melissa McCarthy yang sudah dikenal sangat baik tidak lagi mempunyai urat aib dalam ngebanyol – lihat apa yang diperbuatnya dalam Bridesmaids dan The Heat – dan Jason Statham. Sebentar, sebentar, Statham di film, errr… komedi? Terdengar seperti pihak casting melaksanakan kesalahan besar mempersatukan dua kutub berbeda dan utamanya, menempatkan pemeran seorang mahir baku hantam yang nyaris tak pernah menyunggingkan senyum di film penuh dagelan tanpa kontrol ini. Tapi sehabis menyaksikan Spy, kau mungkin akan berharap McCarthy dan Statham akan lebih sering berkolaborasi. 

Sejatinya, Susan Cooper (Melissa McCarthy) memenuhi kualifikasi untuk bertugas di lapangan sebagai intel kepunyaan CIA. Disebabkan oleh satu dan lain hal, Susan lebih menentukan bekerja dari depan komputer, duduk manis di basement CIA yang disesaki kelelawar maupun tikus, dan memberi info berharga pada biro bertugas, Bradley Fine (Jude Law) lewat earpiece. Kehidupannya membosankan – kalau tak mau disebut, menyedihkan – hingga kesempatan untuk mengambarkan potensi yang dimilikinya tiba tatkala Fine tewas dalam misi menelusuri keberadaan nuklir milik Rayna Boyanov (Rose Byrne). Bocornya nama-nama biro CIA ke tangan Rayna menciptakan pihak CIA mau tak mau menugaskan biro pengganti dari seorang gres yang tak dikenal. Pilihan jatuh kepada Susan yang secara sukarela memperlihatkan diri. Lantaran dianggap tak mempunyai bekal memadai, terlebih oleh biro Rick Ford (Jason Statham) yang arogan, Susan sekadar ditugaskan untuk memberi laporan mengenai lokasi Rayna kepada sang atasan. Tapi kita semua tentu tahu, Susan tidak akan berdiam diri ketika kesempatan menaklukkan Rayna berada di depan mata. 

Seusai Melissa McCarthy terperosok ke komedi kering kerontang semacam Identity Thief atau Tammy, kepercayaan bahwa ia bisa menjabani posisi leading role di konstelasi komedi mulai memudar. Terlebih lagi, pasangannya di Spy yaitu Jason Statham yang belum teruji dalam ngelawak. Pertanyaan yang kemudian mengemuka: apa lagi yang bisa diperlukan selain kemungkinan terburuk? Tapi hey, in Paul Feige we trust. Dan memang, ketakutan bahwa Spy akan bermetamorfosis sebagai tontonan garing kriuk kriuk nyatanya sama sekali terbukti dan malah… Ya Tuhan, ini betul-betul menyenangkan buat disantap! Kadar hiburannya sangat pekat. Begitu lucu, begitu seru. Semenjak opening credit-nya yang memarodikan James Bond, gelak tawa berderai-derai telah dipantik dan ini bisa dijaga secara konstan hingga penghujung film. Itulah mengapa saya menyebut Spy sebagai salah satu film paling melelahkan untuk ditonton. Bukan karena film begitu membosankan, melainkan disebabkan energi yang terkuras habis karena tawa yang nyaris tak pernah berhenti. Lawakan-lawakan kreasi Feig tak pernah menjadi usang, malah menjadi semakin liar tiada terkendali dari menit ke menit. 

Caranya melontarkan guyonan pun beraneka ragam: dari sekadar slapstick murahan, mempergunakan rujukan ke budaya terkenal (hati-hati ada jebakan umur), meledek stereotip dari setiap tokoh dalam film (tonjokan paling keras diterima oleh Statham. Ha!) hingga memanfaatkan situasi-situasi lucu yang spontan. Kesemuanya ini bekerja dengan sangat baik, menciptakan kita melupakan tetek bengek soal kecerdikan penceritaan yang memang sangat bisa dimaafkan di film jenis ini selama bisa menjadikan ledakan tawa bagi penonton berulang-ulang kali. Tapi jikalau kau mengira bahwa Spy hanya soal ngelawak, maka tentu keliru. Feig turut menaruh perhatian serius pada guliran pengisahan yang diramu baik dengan lapisan-lapisan twist turut dioleskan di beberapa sisi sehingga penonton mempunyai ketertarikan sekaligus kepedulian lebih pada film. Begitu pula pada penyajian adegan laganya yang terhampar seru nan dinamis memanfaatkan lokasi-lokasi bagus lintas negara mengikuti tradisi film spionase. Kita dibentuk tertawa, penasaran, tegang, kemudian tertawa, penasaran, tegang, begitu seterusnya hingga film berakhir. Ya, sensasinya kurang lebih serupa dengan Kingsman: The Secret Service, hanya saja ini lebih ‘halus’ soal kekerasan (walau bukan berarti tidak ada), lebih kotor soal obrolan dan lebih jor-joran dalam berkelakar. 
Tentu saja, keasyikkan bertempo tinggi dalam Spy tidak terlepas dari performa menakjubkan dari jajaran pemainnya. Kapabilitas Melissa McCarthy dalam mengocok perut memang tidak perlu lagi dipertanyakan dengan sekali ini memperlihatkan dua sisi berbeda darinya; sopan menggemaskan sekaligus beringas bermulut kotor. Menariknya, tak peduli seberapa sering sumpah serapah yang mengganggu indera pendengaran meluncur cepat dari mulutnya, McCarthy tetap bisa menciptakan Susan sebagai huruf lovable yang kita dukung habis-habisan. Salah satu pecahan paling menarik dari Spy yaitu ketika McCarthy disandingkan dengan mitra lamanya dari Bridesmaids yang bitchy, Rose Byrne. Ada banyak kegilaan mencuat disana sini utamanya ketika Susan berkelahi lisan dengan Rayna di pesawat tanpa pilot yang memunculkan dampak jaw-dropping. Betul-betul kampret. Berkebalikan dari McCarthy yaitu Jason Statham yang, well… annoying. Not in a bad way, but in a good way. Sudah kedarung jenuh dengan kiprah Statham yang cenderung tipikal di setiap film, sungguh menyegarkan melihatnya berlakon komikal dan bersedia untuk dipecundangi habis-habisan disini. Siapa yang mengira jikalau Statham bisa tampil selucu ini? Saya jadi berharap, supaya saja Spy tumbuh berkembang sebagai franchise sehingga bisa kembali melihat kekocakan McCarthy-Statham, eh maksud saya Susan-Rick.

Note : Pastikan untuk tidak terburu-buru meninggalkan gedung bioskop sebelum closing credits benar-benar usai karena ada bonus adegan yang lucu. 

Outstanding