October 22, 2020

Review : Streetdance 2


Dengan penuh rasa percaya diri, StreetDance 2 memajang tagline “Bigger, Better, Bolder, Back!” besar-besar di poster mereka. Tagline yang buruk, sesungguhnya, namun cukup efektif untuk memancing rasa ingin tau penonton, khususnya bagi yang terhibur dengan jilid pertamanya. Seperti halnya ketiga seri Step Up, StreetDance 2 pun sanggup dinikmati sebagai sebuah film yang bangkit sendiri tanpa harus menyidik seri sebelumnya supaya bisa memahami alur ceritanya. Dari belasan tokoh utama, hanya Eddie (George Sampson) yang kembali menyapa penonton, sisanya menghilang entah kemana. Bahkan sepanjang film pun sama sekali tidak diungkit. Sementara itu, Max Giwa dan Dania Pasquini masih menempati bangku penyutradaraan, sedangkan untuk urusan naskah, Jane English masih siap sedia untuk dipusingkan dalam merajut kata-kata menjadi sebuah dongeng yang mempunyai alur yang berkesinambungan. Didukung oleh tim inti yang sama dengan mimpi yang lebih ambisius dari sebelumnya demi membuat sebuah sekuel yang lebih menggelegar, StreetDance 2 sekilas nampak menjadi sebuah proyek yang menjanjikan bagi saya. Ya setidaknya sebelum saya merasakan 10 menit pertama dari film ini. 

Layaknya secara umum dikuasai film tari-tarian, StreetDance 2 pun masa kurang berakal dengan naskah. Anda tidak akan menemukan alur dongeng yang terjalin rapi, atau penokohan yang berpengaruh disini. Film yang dirilis di Inggris pada bulan Maret kemudian ini murni mengandalkan serangkaian adegan tari serta 3D yang pop-up sebagai alat jual. Di film sebelumnya, hal itu berhasil, namun tidak untuk kali ini. Permasalahan dimulai tatkala Ash (Falk Hentschel), seorang penjaja popcorn, mencoba pamer kemampuan nge-dance-nya di hadapan grup tari Invicible yang sombongnya amit-amit. Bukannya menuai pujian, Ash justru dicemooh karena terjatuh di tengah-tengah usahanya untuk mencuri perhatian. Adalah Eddie yang kemudian menghampirinya sesudah kejadian memalukan tersebut. Eddie mengajukan diri untuk menjadi manajer Ash supaya Ash sanggup membalas dendam kepada Invicible dalam turnamen Street Dancing Final Clash di Paris. Tanpa basa-basi, duo ini pun mengunjungi aneka macam negara di Eropa untuk mengumpulkan penari-penari jalanan yang mumpuni untuk disatukan dalam tim yang dipimpin eksklusif oleh Ash. Untuk meraih kemenangan, maka diharapkan sebuah penemuan – yang sayangnya tidak pernah terlintas di benak sang penulis skenario! Ash mencoba untuk menambahkan elemen Latin ke dalam streetdance timnya. Caranya, dengan merekrut seorang penari Salsa, Eva (Sofia Boutella). 

Naskah StreetDance 2 yang luar biasa dangkal kian diperparah dengan akting para pemain yang ala kadarnya. Film pun ternoda. Penonton tidak pernah diberi kesempatan lebih jauh untuk mengenal para tokoh utamanya, bahkan kepada Ash dan Eva. Latar belakang Ash dan Eva tetap menjadi misteri sampai film berakhir. Akibatnya, bagi saya, mereka yakni orang asing. Dengan begini, saya enggan untuk menaruh simpati kepada mereka. Seakan belum cukup, StreetDance 2 pun nyaris tidak dibekali konflik yang sanggup membuat penonton gregetan. Beban konflik sudah sedemikian ringan, penyelesaiannya pun serba gampang dan cepat. Pada satu titik, saya merasa sedang menonton sebuah film TV buatan Disney Channel alih-alih film layar lebar. Tak ada impian di departemen akting dan naskah, maka saya pun berusaha untuk fokus kepada koreografi tari. Beruntung, sekuel dari StreetDance 3D ini masih mempunyai cukup amunisi. Harus diakui, segala ragam tarian yang digeber nyaris tiada henti di sepanjang film cukup menghibur, sekalipun beberapa diantaranya terasa melelahkan untuk diikuti. Yang paling mencuri perhatian, tentu saja, yakni ‘final battle’ yang memertemukan Invicible dan Popcorn – tim Ash – di atas panggung Final Clash. Dengan 3D yang pop-up, maka adegan ini menjadi sebuah epilog yang apik sesudah 70 menit sebelumnya berjalan dengan datar. Berkat adegan ini pula, film terselamatkan. Setidaknya waktu dan uang saya yang berharga tidak terbuang dengan percuma. Masih ada yang layak untuk disimak. Untuk mengakhiri review ini, saya ingin menyampaikan kepada Anda bahwa tagline film ini sama sekali tidak bisa dipercaya! Hanya kata ‘back’ yang bisa Anda pegang. StreetDance 2 tidak lebih baik, tidak lebih besar, maupun tidak lebih berani dari instalmen pertama. Mengecewakan.

Poor