July 5, 2020

Review : Stuber


“So, how do you know my dad?”

“He kidnapped me. We killed some people.”

Beberapa kali saya pernah mengemukakan, “pergi ke bioskop tanpa bawa ekspektasi dan ternyata film yang ditonton sangat menyenangkan yaitu kejutan terbaik yang bisa diterima oleh pecinta film.” Tahun ini – atau lebih baik saya persempit menjadi libur demam isu panas di Negeri Paman Sam – saya mendapati beberapa kejutan anggun yang menciptakan hati kian bungah setiap melangkahkan kaki ke bioskop. Pertama dari Aladdin yang ternyata gegap gempita, kemudian Crawl yang rupa-rupanya bukan horor murahan dengan kemampuannya memberi daya cekam cukup tinggi, dan paling terbaru yaitu Stuber yang semula saya lirik semata-mata karena dibintangi oleh bintang film adu kebanggan Indonesia, Iko Uwais. Tidak pernah lebih. Tapi menyerupai halnya dua judul lain yang telah saya sebutkan, Stuber pun bikin saya kecelik. Memang betul bahwa film isyarat Michael Dowse (Take Me Home Tonight, Goon) yang berada di ranah action comedy ini mempunyai jalinan pengisahan yang sangat formulaik. Kalian bisa seketika teringat dengan serentetan tontonan berkonsep buddy cop movie semacam Lethal Weapon (1987), Bad Boys (1995), Rush Hour (1998), hingga 21 Jump Street (2012). Yang kemudian menjadikannya (sangat) bisa dinikmati yaitu kejituan tim kasting dalam menentukan pemain.

Ya, menyandingkan Kumail Nanjiani (The Big Sick) yang mempunyai comic timing hebat dengan Dave Bautista (Drax dalam Guardians of the Galaxy) yang memberi kesan intimidatif yaitu keputusan paling tepat yang dilakukan oleh Stuber. Mereka menghadirkan chemistry hidup yang menciptakan perjalanan menunggangi Uber sepanjang 93 menit terasa mengasyikkan. Tapi, tunggu tunggu… mengapa harus Uber? Tak ada alasan khusus selain, well, film ini menempatkan seorang pengemudi Uber sebagai huruf utama berjulukan Stu (Kumail Nanjiani). Menganut pada formula buddy cop movie, beliau yaitu implementasi dari “si kecil” bermulut banyak cincong dengan skill bertarung ala kadarnya. Stu sendiri tidak mempunyai latar belakang sebagai penegak hukum. Pada jam kerja normal, beliau mengais rejeki dari toko perabotan rumah tangga. Sementara di waktu luangnya, beliau menambah penghasilan dengan mengendarai taksi online dibawah naungan Uber. Pertautan Stu dengan dunia kriminal yang identik dengan “barang haram”, tembak-tembakan, hingga kebut-kebutan dimulai sesudah beliau mendapatkan ajakan menumpang dari Vic (Dave Bautista). Penglihatannya yang kabur menciptakan anggota kepolisian Los Angeles ini terpaksa “menyandera” Stu untuk mengantarkannya dalam meringkus pemasok obat-obatan terlarang, Tedjo (Iko Uwais), yang mempunyai masa kemudian dengan Vic.


Tak pelak, Stu terlibat dalam misi perburuan yang dijalankan oleh Vic. Berhubung harinya sedang sangat jelek dimana setiap penumpang memberinya nilai dibawah 5 bintang (mimpi jelek bagi ojol!), Stu pun mau tak mau mematuhi setiap ajakan Vic dengan keinginan beliau bersedia memberinya nilai sempurna. Berhubung kedua huruf ini mempunyai karakteristik bertolak belakang – Stu cenderung selow sedangkan Vic senantiasa sepaneng – dan dunia mereka pun sangat berbeda, maka bisa diterka, goresan demi goresan terus mewarnai di sepanjang perjalanan. Mereka saling berargumen, saling cela, hingga saling gebuk-gebukan satu sama lain dalam salah satu adegan perkelahian paling lucu nan nyeleneh di tahun ini. Meski ada kalanya Dowse turut memberi penonton dengan sejumlah adegan adu yang beberapa diantaranya terhidang seru, menyerupai adegan pembuka berupa penyergapan di hotel yang menjadi ajang reuni bagi Dave Bautista dengan Karen Gillan (pemeran Nebula dalam Guardians of the Galaxy) atau tembak-tembakan di rumah sakit binatang yang terbilang brutal, keributan kecil-kecilan yang menyertai interaksi antara Stu dengan Vic yaitu jualan utama yang dikedepankan oleh Stuber. Bagi saya, film memang menawarkan kekuatan yang dipunyainya disini tatkala sang sutradara menghidupkan “mode komedi” yang berarti memperdengarkan kita dengan keluhan Stu dan erangan Vic kemudian sesekali melontarkan komentar soal toxic masculinity yang secara tidak terduga sanggup tersampaikan dengan baik.

Ndilalah, Kumail Nanjiani beserta Dave Bautista menyanggupi ajakan Dowse. Mereka membentuk chemistry hidup sebagai duo yang sulit dibayangkan bisa kompak dalam bekerja sama. Kumail kerap nyerocos wacana ketidaksanggupannya menghadapi kerasnya dunia penegak hukum, sedangkan Dave yang dideskripsikan sebagai laki-laki tangguh enggan untuk berkompromi sebab tujuannya hanya satu: menaklukkan Tedjo. Performa sangat baik dari kedua pelakon ini dimana Nanjiani berkesempatan pula unjuk gigi dalam melakoni adegan adu dan Bautista sesekali ikut berkelakar (well, polisi yang bertugas dengan penglihatan kabur terang berpotensi kelucuan, kan?), mengompensasi lemahnya Stuber di sektor penulisan skrip yang cenderung tipis serta keputusan kurang bijak untuk memberi jatah tampil secuil kepada Iko Uwais. Menilik posisinya sebagai villain utama, saya terkejut melihat betapa disia-siakannya keberadaan Iko di film ini. Tidak hanya jarang mengucap dialog, keahliannya dalam bertarung pun tak ditonjolkan. Saat jadinya Vic berjumpa kembali dengan Tedjo, saya mengira akan ada perkelahian besar yang terjadi. Tapi ternyata, skalanya tak lebih besar dibanding perkelahian di dalam toko perabotan yang bernuansa komedik. Mengecewakan memang, tapi (lagi-lagi) berkat penampilan asyik duo pemain utamanya, saya sanggup mengampuninya. Paling tidak, saya masih menjumpai banyak kesenangan tatkala menonton Stuber yang nada pengisahannya menciptakan saya bernostalgia dengan buddy cop movie di kurun 80-90’an ini. 

Exceeds Expectations (3,5/5)