October 12, 2020

Review : Suicide Squad


“Let’s do something fun” 


Tatkala pertarungan dua pahlawan komik paling ikonik berakhir luar biasa lempeng – sangat jauh dari kesan gegap gempita mirip diperkirakan – begitu diinterpretasikan ke bahasa gambar oleh Zack Snyder, skeptisisme terhadap film-film penyesuaian DC Comics selanjutnya menggelembung. Tidak terkecuali kepada rilisan terbaru dari DC Extended Universe, Suicide Squad, yang dikomandoi sutradara jempolan, David Ayer (End of Watch, Fury). Munculnya pemberitaan mengenai pengambilan gambar ulang menyusul dikecamnya Batman v Superman: Dawn of Justice di bermacam-macam media hiburan telah mengirimkan sinyal mengkhawatirkan terkait hasil tamat Suicide Squad. Betul saja, begitu gerombolan penjahat kelas kakap berkarakter nyeleneh ini dilepas ke pasaran, setidaknya terdapat dua kabar bertolak belakang dihantarkan sekaligus kepada mereka yang telah mengantisipasi kemunculannya; menggembirakan dan berada di ambang memilukan. Menggembirakan alasannya yakni Suicide Squad sedikit lebih baik ketimbang Dawn of Justice (setidaknya sekali ini tidak dibentuk terkantuk-kantuk. Silahkan bernafas lega!), sedangkan memilukan karena problematika yang menggerusnya tidak jauh berbeda dari film pendahulu kendati telah memperoleh sokongan dari tim-tim hebat. 

Plot Suicide Squad bertolak sempurna sehabis Dawn of Justice tutup cerita. Seorang biro inteligen utusan pemerintah Amerika Serikat, Amanda Weller (Viola Davis), mencoba meyakinkan atasannya untuk membentuk tim penyelamat dunia – jaga-jaga seandainya Superman lainnya membuat kekacauan – yang terdiri atas sekumpulan pelaku tindak kriminal. Alasan utamanya sederhana; mereka tidak memiliki nilai tawar. Seandainya tim ini melaksanakan kesalahan fatal, gampang bagi pemerintah menyangkal begitu saja keberadaan mereka dan jikalau perlu, menghabisi personel tim tanpa perlu khawatir ada pihak-pihak yang merasa kehilangan. Terpersuasi, Amanda diberi izin membentuk tim berjulukan Task Force X, atau kemudian lebih dikenal sebagai Suicide Squad. Konfigurasinya mencakup penembak jitu Deadshot (Will Smith), mantan psikiater yang menjadi edan Harley Quinn (Margot Robbie), anggota gang berkekuatan api Diablo (Jay Hernandez), pembunuh bayaran asal Australia Boomerang (Jai Courtney), dan kriminal berkulit selayaknya buaya Killer Croc (Adewale Akinnuoye-Agbaje). Dibawah supervisi pribadi dari Rick Flag (Joel Kinnaman), mereka harus menyingkirkan ego masing-masing untuk bersatu padu melawan kekuatan jahat yang berusaha menaklukkan dunia. 

Potensi besar menjadi film penyesuaian komik paling menggemparkan di tahun 2016 atau malah dalam beberapa tahun terakhir sebenarnya telah berada pada genggaman Suicide Squad. Ingat bagaimana kita diluar dugaan diajak bersenang-senang oleh film superhero tetangga, Guardians of the Galaxy, dua tahun silam sekalipun barisan karakternya masih sepenuhnya asing bagi penonton kebanyakan? Kedua film tersebut intinya memiliki landasan serupa mengenai sekelompok antihero – khusus untuk Suicide Squad kita memanggilnya supervillain – yang dipaksa bekerja sama guna memerangi sosok lebih keji daripada mereka. Membawa tingkah laris pastinya asing dibandingkan kebanyakan para superhero sejati yang lebih sering berkelakuan normal mengingat menyandang status role model, ada keasyikkan tersendiri menyimak interaksi diantara personil. Di Suicide Squad, abjad berjiwa eksentrik sanggup ditemukan dalam sosok Harley Quinn, Boomerang, Killer Croc, dan sesekali Deadshoot. Merekalah penyumbang sebagian besar amunisi humor – oh ya, ada tawa canda disini. Tenang saja! – pada film. Walau tidak sedikit diantaranya gagal mengenai target kala dilesakkan, setidaknya masih terdapat beberapa celetukan berikut kelakuan mereka, utamanya Harley, yang mengundang derai tawa. 

Kuncinya, performa jitu formasi pelakonnya. Margot Robbie dan Will Smith sama-sama tampak sangat menikmati memainkan abjad mereka yang tengil. Keberadaan keduanya begitu menjulang di tengah-tengah riuhnya abjad yang bersliweran sepanjang film. Selain mereka, Suicide Squad turut diperkuat tangguhnya akting Jared Leto sebagai Joker yang meninggalkan kesan angker tanpa harus menduplikasi penampilan jago Jack Nicholson dan Heath Ledger sekalipun jatah tampilnya hanya sekejap saja (oh ya, beliau lebih ke cameo – sisipkan emoji tears) dan Viola Davis. Kehebatan Davis dalam menaklukkan peran-peran menantang kembali terbukti disini. Amanda Weller, dibalik kemeja maupun tampilannya yang rapi jali mirip mak-mak kantoran biasa, ternyata menyimpan sisi gelap yang jauh lebih mengancam daripada para personil Suicide Squad dan villain-nya sendiri. Amanda yakni perwujudan dari istilah tenang-tenang menghanyutkan atau meminjam ucapan Deadshot, “she is just a mean lady.” Kamu tidak mau berurusan dengannya, kecuali berharap dijemput ajal. Sedangkan barisan pemain pendukung… anggap saja mereka tidak ada. Well, bukannya Joel Kinnaman, Jai Courtney, Jay Hernandez, Adewale Akinnuoye-Agbaje, dan lain-lain yang bahkan tidak sanggup diingat keberadaannya menyuguhkan lakon buruk. Hanya saja, tuturan Suicide Squad enggan mengizinkan abjad mereka buat berkembang dan inilah salah satu kasus besar dari film ini. 

Begini. Ketika kau menghadiri sebuah pesta, kemudian berkenalan berbasis basa-basi yang berarti tidak hingga 5 menit dengan katakanlah lebih dari 7 tamu, berapa persen kemungkinan sanggup mengingat kesemuanya sehabis satu jam berlalu? Kecuali kau memiliki daya ingat tajam, besar kemungkinan hanya separuhnya yang masih meninggalkan impresi. Suicide Squad, kurang lebih semacam itu. Kita mengenal Harley Quinn serta Deadshot alasannya yakni mereka dikondisikan memperoleh jatah tampil paling tinggi pula menerima backstory mencukupi, menyusul kemudian Diablo. Tapi apa kita memahami siapa anggota squad semacam Captain Boomerang, Killer Croc dan karakter-karakter lainnya? Keberadaannya antara ada dan tiada, sampai-sampai diri sendiri lupa bahwa mereka ikut serta kala separuh perjalanan telah dicapai. Apa kelebihan mereka? Apa yang membuat mereka unik? Dan paling penting, apa kontribusi yang mereka berikan pada tim kecuali sebagai komplemen sehingga sanggup disebut ‘squad’? Bisa dibilang, tidak ada signifikansinya andaikata karakter-karakter ini dilenyapkan. Begitu salah satu dari mereka menghilang, sulit untuk peduli dan begitu salah satu dari mereka menyebut Suicide Squad sebagai “family” di penghujung film, kesan janggal justru menyergap alasannya yakni kita tidak pernah melihat munculnya unsur-unsur senyawa di sekitaran mereka. Lebih lagi, tim ini lebih ibarat sekumpulan antihero ketimbang what-so-called supervillain. Hey, mereka bahkan kalah kejam dari Amanda! 

She’s the real villain, I guess. Karena antagonis utama yang dihadapi Suicide Squad pun errr… cemen. Oke, dari segi kekuatan memang menakjubkan walau sangat tidak berimbang sampai-sampai di satu titik mengira tim Ghostbusters akan tiba menunjukkan bantuan. Tapi motivasinya sangat tempo dulu (hmmm… apa tidak ada yang lebih meyakinkan selain menguasai dunia?) dan penyelesaiannya terlampau mudah. Saya juga gres menyadari bahwa beliau lah yang harus ditaklukkan para ‘pahlawan’ kita sehabis menit melewati angka 60 lebih. Sheesh. Terlalu banyaknya yang ingin diceritakan – disamping Suicide Squad versus si jahat, masih ada cabang lain soal asmara Harley-Joker yang sengaja diada-adakan demi memberi kesempatan Joker untuk muncul serta percintaan Flag-June (Cara Delevingne) yang tragis – justru menghambat laju plot utama dan mengikis ruang bagi perkembangan abjad yang seharusnya menjadi sorotan. Beruntung Suicide Squad masih dikaruniai barisan pemain-pemain berlakon bagus, humor cukup lucu, sekaligus isian lagu-lagu pengiring asyik alasannya yakni tanpa kombinasi ketiganya, film ini sangat mungkin berakhir hampa. Ya, sehampa ekspresi Cara Delevigne dikala berkembang menjadi menjadi Enchantress. 

Note : Oh ya. Bertahanlah di bangku bioskop begitu film usai alasannya yakni ada sebuah mid-credits scene yang sayang buat dilewatkan.

Acceptable (3/5)