October 29, 2020
Film / REVIEW / US

Review : Super 8

n handheld camera untuk mendokumentasikan sebuah serangan monster di New York REVIEW : SUPER 8

“Bad things happen… but you can still live.” – Joe Lamb

Dalam Cloverfield, enam anak muda menggunaka
n handheld camera untuk mendokumentasikan sebuah serangan monster di New York. Lari kesana kemari mengakibatkan kamera terus berguncang, kesudahannya penonton pun mual melihatnya. Sekalipun bisa mengakibatkan pusing, Cloverfield dinilai berhasil dalam memberikan dongeng dan ketegangannya terjaga sampai ending. Ingin mengulang kesuksesan yang serupa, J.J. Abrams kembali bermain-main dengan kamera, anak muda atau errrr… lebih sempurna disebut bocah, dan monster. Untuk kali ini, tidak lagi bersetting di sebuah kota metropolitan namun di sebuah kota kecil yang kondusif dan tentram. Settingnya pun tidak lagi di masa kini, namun mundur jauh ke selesai tahun 1970-an. Ketika mengintip trailernya, sejenak pikiran saya pun melanglang buana. Super 8 sedikit banyak mengingatkan saya pada E.T. the Extra-Terrestrial. Bisa dimaklumi alasannya yaitu Steven Spielberg turut mendukung proyek ini dengan duduk di dingklik produser. Agaknya Abrams pun ingin memberi penghormatan kepada Spielberg dengan memasukkan cukup banyak elemen yang terperinci terlihat terinspirasi dari film Spielberg yang indah itu.

Para pahlawan dari Super 8 yaitu sekumpulan bocah Sekolah Menengah Pertama yang tengah menggarap sebuah film zombie memakai kamera Super 8. Dengan bujet yang terbatas, mereka pun harus memutar otak untuk bisa syuting tanpa harus mengeluarkan biaya. Sang sutradara, Charles (Riley Griffiths) digambarkan sebagai seorang bocah gemuk yang mempunyai semangat luar biasa dan bossy. Joe (Joel Courtney), Alice (Elle Fanning), Preston (Zach Mills), dan rekan satu geng lainnya, terkadang gemas dengan Charles yang kelewat otoriter. Terobsesi menghasilkan sebuah film yang bagus supaya bisa mengikuti pameran film, tidak jarang Charles agak kelewat batas. Mereka mengendap-endap di tengah malam demi bisa mendapat gambar bagus di stasiun kereta api. Saat tengah melaksanakan syuting inilah, mereka terjebak dalam sebuah insiden yang mengerikan. Sebuah truk yang belakangan diketahui dikendarai oleh guru biologi para bocah ini (Glynn Turman) menghadang sebuah kereta yang tengah melaju kencang. Tabrakan ajal pun tak terhindarkan. Namun insiden ini tidak ada apa-apanya dengan apa yang terjadi kemudian. Berbagai serangan misterius meneror kota bersamaan dengan raibnya sejumlah penduduk. Pasukan militer dibawah komando Kolonel Nelec yang menginvasi kota (Noah Emmerich) semakin memperburuk suasana. Dengan menghilangnya Sheriff, Deputi Jack Lamb (Kyle Chandler) yang juga ayah dari Joe, pun menjadi rujukan masyarakat yang ketakutan.

n handheld camera untuk mendokumentasikan sebuah serangan monster di New York REVIEW : SUPER 8n handheld camera untuk mendokumentasikan sebuah serangan monster di New York REVIEW : SUPER 8n handheld camera untuk mendokumentasikan sebuah serangan monster di New York REVIEW : SUPER 8
Penonton yang mengharapkan Super 8 akan mengulang ketegangan yang ditonjolkan oleh Cloverfield mungkin akan sedikit kecewa. Pasalnya, J.J. Abrams menyuntikkan cukup banyak drama dalam film terbarunya ini. Hadirnya Steven Spielberg di dingklik produser rupanya turut kuat terhadap Super 8 yang nuansanya lebih terasa Spielberg ketimbang Abrams. Tidak hanya E.T. menyerupai yang telah saya sebutkan di atas, tetapi hawa Close Encounter of the Third Kind plus War of the Worlds juga sangatlah terasa. Dengan masuknya drama, khususnya yang fokus menyoroti kekerabatan Jack Lamb dengan Joe yang memburuk, tentu saja menciptakan jenuh penonton yang mengharapkan Abrams akan menyuguhkan tontonan yang penuh dengan hingar bingar dan misteri. Akan tetapi justru disinilah poin plus Super 8. Abrams tidak melupakan ramuan-ramuan film bagus yang sudah hampir disingkirkan oleh kebanyakan film blockbuster remaja ini. Dalam Super 8, kita akan menemukan chemistry yang terjalin kuat, naskah yang berisi serta abjad yang bernyawa. Larry Fong turut berkontribusi dalam menampilkan gambar-gambar yang manis dan membekas untuk Super 8. Special effect-nya tidak usah ditanya lagi, nyaris tanpa cela. Ketegangan demi ketegangan mampu dibangun oleh Abrams dengan rapi sekalipun penyelesaiannya yang cenderung terlalu sederhana menciptakan hati ini dongkol. I want more! Ah, tapi saya masih bisa memaafkannya toh endingnya tidak terbelakang menyerupai War of the Worlds.

Dan saya suka sekali melihat sepak terjang para pahlawan kita di Super 8 ini. Dengan chemistry yang sangat kuat, mereka terasa kasatmata dan bersahabat dengan penonton. Joel Courtney, Riley Griffiths, Ryan Lee, Zach Mills, Gabriel Basso, dan Elle Fanning, berakting secara natural dan pesonanya bisa melibas para pemain film yang lebih berpengalaman macam Kyle Chandler dan Noah Emmerich. Akting prima yang ditunjukkan oleh para pemain film ABG ini menunjukkan energi lebih bagi Super 8 yang telah kuat di sektor naskah, teknis dan penggarapan. Sekalipun banyak penonton yang mengeluhkan bahwa Super 8 tidak seepik Cloverfield, tidak menjadi soal bagi saya. Super 8 yaitu salah satu film terbaik dari J.J. Abrams dan tentunya kontender kuat untuk menduduki posisi 3 besar film yang paling saya suka tahun ini. Super 8 mempunyai resep yang sempurna dalam menjadikannya sebagai sebuah film yang mengagumkan. Dikerjakan dengan sangat baik, mempunyai naskah dengan alur yang rapi, special effect di atas rata-rata serta akting para pemainnya yang cantik. Sesuatu yang sudah sangat sulit ditemukan dari film-film blockbuster keluaran Hollywood.

Note : Jangan terburu-buru meninggalkan teater sesudah film berakhir. Saat credit title bergulir, film pendek buatan Joe dan kawan-kawan turut ditampilkan. Sayang sekali kalau Anda melewatkannya.

Outstanding