October 15, 2020

Review : Surat Dari Praha


“Tidak ada daerah untuk disesali. Kalaupun ada, saya menyesal sudah mengecewakan ibumu.” 
Ketidakelokan kualitas sederet film Indonesia berlatar negeri orang memang berpotensi menyebabkan khalayak ramai jera terhadap film sejenis. Kekhawatiran bahwa Surat Dari Praha akan berakhir menyerupai yang sudah-sudah – dalam artian, sekadar menjual panorama untuk memanjakan mata – pun sempat membayangi diri ini. Satu hal yang membuat saya percaya film ini tidak akan bernasib serupa ialah keberadaan Angga Dwimas Sasongko di balik kemudi. Bisa dibilang sebagai salah satu sutradara terbaik di Indonesia ketika ini, Angga telah mencetuskan tiga karya hebat dari Hari Untuk Amanda, berlanjut ke Cahaya Dari Timur: Beta Maluku (membawa pulang Piala Citra untuk Film Terbaik), serta paling anyar ialah Filosofi Kopi. Dengan hanya tinggal menunggu waktu untuk berkata, “In Angga, we trust”, apa yang mungkin salah dari Surat Dari Praha? Dan kenyataannya, kelahiran Surat Dari Praha bisa dikata merupakan momen paling sempurna untuk jadinya berseru keras “yes, Angga did it again!” alasannya ialah ini ialah sebuah surat cinta yang terajut begitu indah, romantis, sekaligus menyimpan kepiluan mendalam. 

Kenangan terakhir Larasati (Julie Estelle) bersama sang ibunda, Sulastri (Widyawati), ialah pertikaian. Larasati merongrong Sulastri untuk meminjamkan akta rumah untuk keperluan pribadi. Belum sempat undangan Laras terkabulkan, belum sempat pula keduanya berdamai, Sulastri berpulang. Dalam wasiatnya ia menyatakan bahwa rumah miliknya diserahkan ke putri semata wayangnya tersebut. Hanya saja, ada satu syarat yang harus dipenuhi Laras sebelum mendapatkan warisan. Dia dititahkan bertolak ke Praha untuk menyerahkan sebuah kotak dan sepucuk surat ke Jaya (Tio Pakusadewo), mantan eksil politik yang terdampar di Praha sebagai tukang bersih-bersih menyusul keputusannya menolak Orde Baru. Perjumpaan Laras dengan Jaya untuk pertama kalinya tidak berlangsung mulus terlebih masing-masing masih menyimpan luka dari masa lalu. Dipicu oleh satu kejadian naas, Jaya pun mau tak mau mendapatkan keberadaan Laras di apartemennya. Selama keduanya hidup berdampingan yang perlahan tapi niscaya membuat kekerabatan tak biasa inilah baik Laras maupun Jaya mencar ilmu untuk memaafkan, mengikhlaskan, dan berdamai dengan masa lalu. 
Kita memang sudah tidak perlu lagi mewaspadai kemampuan bermain tugas dari seorang Tio Pakusadewo. Tapi keahliannya dalam menyelami suatu huruf mengatakan kelasnya tersendiri dalam Surat Dari Praha. Melalui pancaran mata, air muka, serta lontaran kalimat-kalimat kala berucap, penonton sanggup mendeteksi adanya kesedihan berlarat-larat, kemarahan, maupun kesepian dalam diri Jaya. Yup, he’s that good. Adegan di permulaan film kala Jaya memberi pelukan erat pada anjing kesayangannya, Bagong, seraya berkata lirih “Sulastri seda (Sulastri meninggal)” begitu mendengar kabar cinta sejatinya telah tiada memberi tonjokan keras pada emosi. Tenggorokkan serasa tercekat, hati berdesir, sedangkan mata mulai berkaca-kaca. Kita pun lantas mafhum dengan caranya yang agak garang memperlakukan Laras, meski tak bisa dihindari ada pula sedikit kejengkelan menyertai yang belakangan sepenuhnya sirna tatkala kita mengetahui alasan bekerjsama dibalik penolakannya terhadap keberadaan Laras beserta sepucuk surat yang dibawanya dari Indonesia. Sosok menyebalkan itu perlahan tapi niscaya mulai mendapatkan cinta dari penonton. 
Kegemilangan Tio dalam menginterpretasikan kiprahnya ini ditunjang pula oleh rekan-rekannya. Julie Estelle tidak kelihatan kagok ketika ‘dipaksa’ tabrak argumentasi melawan Tio memperdebatkan perihal kehancuran rumah tangga, cinta, hingga komunis, begitu pula ketika ia mulai mengatakan gejala mengasihi (atau iba?) kepada laki-laki renta yang sebagian besar usianya diisi kemuraman. Duet Larasati-Jaya membawakan tembang Nyali Terakhir diiringi dentingan piano merupakan salah satu momen terbaik dari film. Begitu manis dan syahdu. Jelas, Julie Estelle mengalami kenaikan kelas disini. Bersama Tio, keduanya mempertontonkan chemistry jempolan sehingga kita pun bisa merasa akrab dengan mereka. Bisa mencicipi pula kepedihan-kepedihan, kekecewaan-kekecewaan, yang mereka rasakan. Butuh tissue? Mungkin belum hingga kau berjumpa lagi dengan Widyawati. Kemunculannya di Surat Dari Praha memang hanya sekilas lalu, tapi efek yang diberikannya luar biasa membekas. Beliau ialah aktris paling bertanggung jawab atas basahnya pelupuk mata penonton di penghujung film yang merobek hati. Beliau ialah sumbu ledak bagi Surat Dari Praha
Kekuatan Surat Dari Praha tak semata-mata bersumber dari jajaran pemain. Karya terbaik dari Angga Dwimas Sasongko sejauh ini (ya, bahkan lebih anggun ketimbang Hari Untuk Amanda dan Cahaya Dari Timur: Beta Maluku yang memukau itu, setidaknya bagi saya) juga unggul dari sisi pengisahan yang begitu mencengkram erat pula jitu menyisipkan elemen sejarah pada platonic love story-nya, kemudian penataan gambar yang menawan dengan latar sudut-sudut Praha bisa berbicara banyak daripada hanya sekadar dimanfaatkan sebagai penghias, dan tentunya, dukungan lagu-lagu kepunyaan Glenn Fredly – menyerupai Sabda Rindu, Untuk Sebuah Nama, Menanti Arah, dan Nyali Terakhir – yang penempatannya sempurna target sehingga meniupkan jiwa bagi film. Tersusun atas kombinasi-kombinasi janjkematian tersebut, sinema Indonesia telah menemukan kontender kuatnya untuk film terbaik 2016 melalui Surat Dari Praha. Buagus!

Outstanding (4/5)