October 24, 2020

Review : Susi Susanti: Love All


“Saya yakni orang Indonesia. Selamanya saya orang Indonesia.”

Siapa sih yang tidak mengenal Susi Susanti? Menorehkan bermacam-macam prestasi di sepanjang karirnya, termasuk mempersembahkan emas pertama bagi Indonesia di ajang Olimpiade Barcelona 1992, namanya dicatat oleh sejarah sebagai salah satu figur penting dalam kancah olahraga bulu tangkis. Tidak hanya dalam lingkup tanah air, tetapi juga dunia. Dia yakni jagoan gelanggang yang berjasa menyatukan Indonesia yang terpecah-pecah jelang reformasi 1998, dan berjasa pula dalam mengobarkan rasa nasionalisme yang timbul karam akhir pemerintahan Orde Baru yang amat menekan khususnya bagi keturunan Tionghoa menyerupai Susi. Sungguh mengagumkan, bukan? Menilik segala pencapaian yang direngkuh oleh legenda hidup ini sejak dirinya memulai karir pada pertengahan kurun 1980-an hingga karenanya memutuskan untuk gantung raket di penghujung kurun 1990-an, maka tidak mengejutkan kalau kemudian ada sineas tanah air yang berinisiatif untuk mengangkat cerita hidupnya ke layar lebar. Sim F yang sebelumnya lebih dikenal sebagai sutradara video musik (karyanya meliputi “Menghapus Jejakmu” milik Peterpan dan “Cinta Pertama dan Terakhir” milik Sherina) dipercaya untuk mengejawantahkan sepak terjang atlet asal Tasikmalaya tersebut melalui film biopik bertajuk Susi Susanti: Love All. Yang menarik, alih-alih sebatas menyoroti jatuh berdiri Susi dalam menapaki tangga karir, film turut mengapungkan info rasialisme yang memang mempunyai impak besar terhadap perjalanan hidup serta karir Susi.

Guna menghantarkan cerita Susi Susanti secara utuh, si pembuat film pun memulai narasi sedari pertengahan kurun 80-an tatkala sang protagonis masih berusia 14 tahun (Moira Tabina Zayn). Tumbuh besar di Tasikmalaya, Susi sejatinya dipersiapkan oleh kedua orang tuanya (Iszur Muchtar dan Dayu Wijanto) untuk menjadi seorang balerina. Tapi sesudah sang abang kalah dalam sebuah pertandingan bulu tangkis dan dipermalukan, Susi pun berang dan menantang balik si pemenang yang lantas ditaklukkannya secara mudah. Ndilalah, agresi Susi kala bermain bulu tangkis ini terpantau pencari talenta yang seketika menawarinya beasiswa untuk berlatih di PB Jaya Raya. Berhubung ini yakni klub besar yang sangat menjanjikan, maka tentu saja pihak keluarga tidak berpikir ulang. Impian untuk menjadi balerina pun dipupuskan demi memberi kesempatan bagi berkembangnya karir di dunia olahraga. Ketekunan, kegigihan, serta mental baja yang dimiliki Susi terbukti ampuh dalam menghantarkannya menggenggam banyak prestasi secara cepat. Usai memborong gelar juara dari kelas junior, Susi (Laura Basuki) pun ditarik ke Pelatnas dimana dia mendapat tantangan baru, mitra baru, sekaligus seorang kekasih, Alan Budikusuma (Dion Wiyoko). Dibawah gemblengan Liang Chiu Sia (Jenny Chang) yang dikenal disiplin, Susi dipersiapkan oleh negara sebagai ujung tombak bagi dunia bulu tangkis Indonesia di kancah internasional. Mempunyai mental dan gaya bermain yang mengagumkan, tidak sulit bagi Susi untuk memenuhi pengharapan orang-orang di belakangnya. Jika ada satu hal yang menghalanginya untuk berkembang lebih jauh, maka itu yakni kenyataan bahwa pemerintah masih belum memberi kepastian mengenai status kewarganegaraannya sekalipun Susi telah mempersembahkan banyak medali bagi Indonesia.


Sebagai sebuah film yang menempatkan dirinya di ranah biopik-olahraga, Susi Susanti: Love All terbilang cukup memuaskan. Sedari menit pembuka, si pembuat film telah merebut atensi penonton melalui sebuah adegan pembuka yang mengasyikkan dimana kita menyaksikan Susi sampaumur dalam balutan busana balerina memutuskan untuk turun ke lapangan guna membungkam ekspresi tetangganya yang kelewat besar. Ada setitik ketegangan, ada sejumput humor, dan ada pula setumpuk informasi yang coba dihaturkan di sini. Dalam kurun waktu singkat, penonton sanggup mengetahui bahwa ibu Susi berdagang bakpao, sang ayah dulunya seorang atlet yang sempat berlaga di PON, dan Susi yang cenderung tomboy mempunyai talenta lain dalam seni tari balet yang membantunya untuk melaksanakan split di lapangan. Selama beberapa menit selanjutnya, kita pun turut menyadari bahwa si aksara tituler mempunyai kekerabatan hangat dengan sang ayah yang merupakan sosok penting dalam membentuk karakternya. Dari beliau, Susi kerap memperoleh wejangan-wejangan guna menghadapi bermacam-macam emosi yang menghadangnya untuk bertumbuh, dan dari dia juga, Susi sanggup memahami makna bergotong-royong dari setiap pertandingan yang dilaluinya. Istilah love all yang sejatinya merujuk pada skor 0-0 sebelum pertandingan dimulai, dikembangkan sebagai suatu filosofi untuk menebarkan cinta pada bulu tangkis. Alih-alih sekadar menerapkan prinsip “berlatih bertarung menang” yang berpotensi mengubah seorang atlet menjadi sosok ambisius yang tidak sehat secara mental, love all mendorong Susi untuk bermetamorfosis sosok yang lebih nerimo sehingga dia sanggup menikmati setiap proses yang dilaluinya yang mempunyai kegunaan dalam memperkuat mentalnya.

Berkat momen-momen kebersamaan antara Susi dengan ayahnya ini, Susi Susanti: Love All berksempatan untuk memperlihatkan sensasi rasa hangat di hati para penonton. Kita ikut tersenyum, kita ikut mencicipi ketenangan, dan kita pun ikut menyeka air mata. Saat sosok ayah bolos sejenak guna mempersilahkan figur-figur lain masuk ke dalam kehidupan Susi, penonton sanggup mendeteksi sensasi rasa jenaka serta manis. Jenaka muncul dari interaksi sang protagonis dengan rekan-rekannya di klub/Pelatnas khususnya Sarwendah (Kelly Tandiono) yang kerap menarik hati sifat polos Susi, sementara anggun timbul dari korelasi yang terbentuk antara Susi dengan Alan. Chemistry sedap dari Laura Basuki-Dion Wiyoko yang telah teruji sedari Terbang: Menembus Langit (2018) memungkinkan setiap adegan yang menautkan dua sejoli tersebut menciptakan penonton merasa gemas sekaligus ikut merasa salah tingkah. Kita sanggup meyakini bahwa mereka saling kesengsem, kita sanggup meyakini bahwa mereka memadu kasih, dan ketika korelasi keduanya diuji, kita pun terbawa emosi. Tak peduli seberapa tahu kau mengenai kehidupan eksklusif mereka, tetap saja ada rasa gregetan ketika konflik mulai mengemuka. Persis menyerupai ketika film turut mengajak penonton turun ke gelanggang. Rekonstruksi pertandingan bulu tangkis sanggup divisualisasikan oleh Sim F dengan tingkat kegentingan yang cukup, khususnya Sudirman Cup 1989 yang menciptakan diri ini ikutan deg-deg serrr sekalipun telah mengetahui persis seperi apa hasilnya. Memang betul intensitas dalam setiap match kian menurun seiring berjalannya durasi terutama pada bab Olimpiade 1992 yang semestinya menjadi gong bagi film, dan menit-menit penghujung melaju terlampau bergegas seolah ingin cepat-cepat tutup durasi hingga menciptakan adegan epilog urung mencapai klimaks. Namun sulit untuk menyangkal bahwa Susi Susanti: Love All adalah gelaran yang solid.


Saya menyukai penggunaan color grading beserta kinerja departemen artistik untuk menegaskan latar waktu. Saya juga menyukai pilihan film ini untuk tidak semata-mata menekankan pada aspek usaha Susi di arena yang nyaris tanpa cela, tetapi juga ikut mengupas info rasialisme yang memang terpampang positif di kurun Orde Baru bahkan juga kini (!). Melalui tukar obrolan antar karakter, melalui satu dua adegan yang diwarnai perdebatan, penonton dibentuk menyadari bahwa negara ini pernah (dan masih) enggan memanusiakan etnis lain. Keluarga Susi kesulitan mendapat surat kewarganegaraan yang resmi, begitu juga dengan para instruktur yang dijanjikan akan memperoleh kejelasan status sebagai WNI. Nasib mereka terus terombang-ambing meski telah mendatangkan banyak medali bagi negara. Dari sini, pihak pembuat film turut memperlihatkan pengingat kepada penonton mengenai nasib atlet Indonesia di masa itu yang sungguh ironis: mereka dielu-elukan kala bertanding, tapi terlupakan pasca turun dari podium. Sebuah obrolan di meja makan yang membahas topik ini menciptakan mata berkaca-kaca seraya mengundang tanya, “sudahkan pemerintah (dan kita) menghargai usaha para jagoan gelanggang? Atau masih memperlakukan mereka seenaknya seolah usaha mereka tak ada arti?.” Tanya itu tentu perlu untuk direnungkan seraya diberi solusi. Satu hal yang jelas, Susi Susanti: Love All telah menjalankan tugasnya dengan baik sebagai film biopik olahraga. Film ini mempermainkan emosi, informatif, membuka mata, menggugah semangat, sekaligus menciptakan kita bersyukur bahwa perfilman Indonesia mempunyai seorang aktris berbakat berjulukan Laura Basuki. Performanya sebagai sang legenda bulu tangkis yakni akting terbaik yang pernah dipersembahkannya di sepanjang karir.

Exceeds Expectations (3,5/5)