July 1, 2020

Review : Suzzanna Bernapas Dalam Kubur


“Memang tidak ada yang lebih menakutkan daripada setan yang masih punya urusan dendam.” 

Saat rencana untuk menggarap film Suzzanna – bintang sekaligus ikon film horor tanah air – diumumkan, respon publik terpecah ke dalam dua golongan utama; mendukung dengan alasan ingin bernostalgia, dan menentang dengan alasan stress berat pada hasil final Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss. Direkrutnya Anggy Umbara untuk mengomandoi proyek terang tidak membantu untuk memenangkan hati kaum kontra, lebih-lebih konsep film yang dipergunakan mirip Jangkrik Boss alih-alih berwujud remake atau membentuk narasi sama sekali anyar. Sikap skeptis yang membayangi sebagian masyarakat ini perlahan mulai luntur menyusul diluncurkannya foto adegan oleh Soraya Intercine Films. Foto yang menampilkan Luna Maya (kala itu namanya belum diumumkan secara resmi) sebagai Suzzanna ini menuai komentar positif dari netizen Indonesia yang dikenal julid. Komentarnya senada seirama yang bisa disimpulkan dengan beberapa kata mirip demikian: “gila, mirip bener dengan almarhumah! Penata riasnya keren banget!” Pengharapan yang tadinya telah menipis pun kembali mengangkasa utamanya berkat rentetan bahan promosi Suzzanna: Bernapas dalam Kubur yang ditebar efektif – termasuk trailer yang mengundang selera. Janji-janji dari pihak Soraya terang menyampaikan bahwa mereka tidak main-main dengan proyek ini yang kemudian melahirkan satu pertanyaan penting. Apakah bahan promosi tersebut benar-benar mencerminkan kualitas film bersangkutan atau jangan-jangan film ini tergabung dalam barisan “don’t judge a movie by its trailer”? Hmmm… let’s see

Dalam Suzzanna: Bernapas dalam Kubur, Suzzanna (Luna Maya) digambarkan mempunyai kehidupan yang senang dengan seorang pebisnis sukses berjulukan Satria (Herjunot Ali). Pada tahun kelima pernikahan, mereka telah dikaruniai segalanya kecuali momongan. Penantian panjang dua pasangan muda ini jadinya datang bersamaan dengan perginya Satria ke Jepang untuk melaksanakan perjalanan dinas. Alhasil, Suzzanna pun menjalani minggu-minggu pertama kehamilan hanya ditemani dengan tiga orang pembantunya; Rojali (Opie Kumis), Tohir (Ence Bagus), dan Mia (Asri Welas). Tidak ada yang salah dengan kesehatan maupun kandungan Suzzanna, bahkan ia pun masih sanggup buat bergabung dengan ketiga pembantunya untuk menonton layar tancap. Masalah dalam hidupnya lantas dimulai ketika ia tetapkan untuk pulang lebih awal seorang diri dari pertunjukkan layar tancap karena merasa lemas. Tanpa pernah disadari oleh Suzzanna, ternyata ada empat karyawan Satria; Jonal (Verdi Solaiman), Umar (Teuku Rifnu Wikana), Dudun (Alex Abbad), dan Gino (Kiki Narendra), yang sedang merampok rumahnya guna membalas dendam kepada Satria. Tatkala Suzzanna memergoki keempatnya, rencana perampokan seketika gagal total dan tanpa disengaja justru bermetamorfosis pembunuhan Suzzanna. Dilingkupi kepanikan, empat sekawan ini lantas mengubur mayat Suzzanna di kebun belakang yang menjadi cikal bakal dimulainya teror dalam film ini. Arwah Suzzanna yang tidak damai pun tetapkan untuk menuntut balas kepada kawanan yang telah membunuhnya dengan cara menghantui mereka satu demi satu di setiap malam. 


Berbeda dengan Jangkrik Boss yang memanfaatkan adegan-adegan ikonik dari film-film terkenal Warkop DKI sebagai jalan untuk menggulirkan cerita, Suzzanna: Bernapas dalam Kubur yang belakangan disutradarai oleh Rocky Soraya (nama Anggy Umbara tetap dicantumkan sebagai bentuk penghormatan meski kerja kerasnya dirombak nyaris seluruhnya) menciptakan satu dongeng utuh yang tidak dibuat dari kumpulan-kumpulan adegan dari film-film Suzzanna. Memang sih kau masih akan menjumpai satu dua momen yang merekonstruksi adegan favorit penggemar. Salah satunya ialah ketika Suzzanna menyenandungkan tembang “Selamat Malam” milik Vina Panduwinata seraya bermain piano yang dicuplik dari Malam Satu Suro (1988) yang ndilalah punya keserupaan narasi dengan Suzzanna: Bernapas dalam Kubur. Namun film ini sebisa mungkin menghindari kemungkinan untuk mengalienasi penonton anyar gara-gara menebar terlalu banyak bahan nostalgia. Toh, mereka yang mengagumi film-film Suzzanna telah diajak bernostalgia melalui permak wajah Luna Maya yang begitu mirip mendiang sampai-sampai saya berulang kali dibuat berdecak kagum (tak sia-sia ya mengimpor make-up artist dari Rusia), suasana kala 1980’an yang begitu kental terpancar lewat printilan-printilan di sekitar para abjad termasuk kostum dan pengucapan dialog, keputusan si pembuat film untuk menonjolkan elemen dramatik mengikuti langkah yang dulu pernah dilakukan oleh Sundel Bolong (1981), hingga penggunaan musik dengan sentuhan orkestra dan choir sebagai penyokong adegan yang bertujuan untuk membangkitkan bulu kuduk penonton selaiknya film horor kala 70-80’an. 

Ini terang menarik, meski bukannya tanpa resiko. Saya menyebutnya menarik alasannya Suzzanna: Bernapas dalam Kubur memakai pendekatan yang sangat jarang diterapkan oleh film horor Indonesia masa kini. Alih-alih seketika menggedor jantung penonton memakai gempuran jump scares yang acapkali tak relevan, film bersedia untuk membangun kengerian secara perlahan tapi pasti. Penonton dikasih lihat terlebih dahulu soal kehidupan pribadi Suzzanna beserta orang-orang yang berada di sekitarnya, penonton juga diperkenankan untuk berkenalan dengan para pembunuh Suzzanna yang nantinya bermetamorfosis korban. Oleh Bene Dion Rajagukguk selaku penulis skenario, karakter-karakter ini tak dibiarkan hampa. Mereka ada di sana bukan untuk sekadar diteror atau meneror, melainkan ada motivasi yang melandasi di belakangnya – malah saya juga bersimpati ke salah satu korban alasannya alasannya bekerjasama dengan keluarga. Menariknya lagi, Bene bersama Rocky dan Anggy turut membangun mitologi yang terang seputar Sundel Bolong sehingga penonton sanggup memahami “cara kerja” si lelembut, ketimbang sebatas melihatnya bergentayangan kemudian menghadapkan korban-korbannya pada ajal. Adanya pemaparan latar belakang si abjad tituler ini menciptakan ia lebih dari sekadar hantu pembalas dendam dan kita pun ditempatkan dalam posisi moral dilematis: mengetahui apa yang diperbuatnya salah, tapi kita berharap bahwa ia bisa merampungkan misinya secara tuntas. Suatu perasaan yang amat jarang muncul ketika menonton film horor kan? Apalagi film horor tanah air yang cenderung membentuk si hantu sebagai abjad satu dimensi.

Resiko yang mesti ditanggung dari keputusan si pembuat film ini ialah elemen horornya yang terkikis. Suzzanna: Bernapas dalam Kubur tentu masih mempunyai beberapa momen seram, favorit saya secara personal ialah ketika Suzzanna menjumput kepala salah satu korbannya yang terputus dari tubuhnya kemudian pergi menjauhi kamera… dengan melayang, bukan berjalan. Akan tetapi, kengerian ini tak pernah benar-benar mencapai puncaknya. Pekik penonton yang menggema di dalam bioskop pun acapkali berasal dari muncratan darah (oh ya, film ini berdarah-darah, saudara-saudara!) ketimbang takut melihat Suzzanna. Dia memang mempunyai tampilan fisik yang bikin nyali ciut, hanya saja alasannya ia mengincar orang-orang tertentu saja dan kita pun berharap mereka mati, alhasil rasa takut itu jarang sekali muncul dalam sesi balas dendam. Hmmm… itu berarti, keputusan berani si pembuat film berakhir sebagai pedang bermata dua, dong? Ya, itulah mengapa saya menyampaikan pilihan tersebut mempunyai resiko tinggi. Suzzanna: Bernapas dalam Kubur secara mengejutkan justru lebih efektif dalam bermain-main di ranah komedik berkat kehadiran trio Opie Kumis-Ence Bagus-Asri Welas yang tak pernah meleset dalam melontarkan lawakan – saya tertawa keras ketika mereka mengendap-endap ke kamar Suzzanna. Segala kelakar di film ini menambal kekurangan pada elemen teror yang terasa kurang greget beserta elemen dramatik yang kadangkala menjemukan (pertengahan film sedikit berlarut-larut) dan kadangkala lempeng. 

Luna Maya telah bermain sangat meyakinkan sebagai Suzzanna, begitu pula dengan Teuku Rifnu Wikana dan Verdi Solaiman yang menciptakan saya sebal. Titik lemah departemen akting ada pada Herjunot Ali yang kurang menyatu bersama Luna Maya sekaligus menyampaikan reaksi asing tatkala mengetahui bahwa istrinya ialah Sundel Bolong. Haruskah ia semarah itu hingga tanpa berpikir panjang tetapkan untuk mengusirnya? Bukankah dengan cintanya yang sedemikian besar, ia semestinya justru takut atau terombang-ambing terlebih dahulu sebelum mengambil langkah yang menyakitkan tersebut? Ketidakmampuan Herjunot (saya kok malah jadi eksklusif teringat Tenggelamnya Van der Wijck ya tiap ia berdialog?) untuk menandingi Luna berdampak pada babak titik puncak Suzzanna: Bernapas dalam Kubur yang urung mengharu biru mirip diharapkan. Saya tak bisa menangis di momen puncak ini, dan saya juga tak hingga meringkuk takut menyaksikan teror Suzzanna. Untuk sesaat, film memang terdengar mirip produk yang kurang berhasil. Tapi kita perlu memperhitungkan faktor lain termasuk production value yang berada di atas rata-rata, performa apik sebagian besar pelakon, serta oh, saya selalu tertawa setiapkali trio Rojali-Tohir-Mia ambil peran. Setidaknya Suzzanna: Bernapas dalam Kubur masih bisa tampil menghibur dan asyik ditonton ramai-ramai, meski film tak pernah benar-benar mencapai potensi besar yang dipunyainya. Saran saya sih, simpan ekspektasi tinggimu untuk film ini di rumah kemudian nikmati saja tontonan hiburan ini tanpa membawa pengharapan apapun. Bukan tidak mungkin, kau akan lebih menikmatinya.

Exceeds Expectations (3,5/5)