October 20, 2020

Review : Taken 2


“This is not a game. I will finish this thing. You’ll just have to die.” – Bryan 


Tidak ada yang menduga bila Taken yang dirilis empat tahun silam sanggup menggurita di tangga box office dan mengalirkan sekitar $200 juta ke rekening Luc Besson. Liam Neeson sebagai bintang utama pun turut kebagian untung dengan namanya mencuat sebagai ikon gres dari film aksi. Kesuksesan semacam ini sangat perlu untuk dirayakan. Caranya, Anda semua tentu sudah hafal. Dinilai sebagai sebuah produk yang menguntungkan, maka Taken wajib untuk diperdagangkan kembali dalam bentuk… sekuel. Saya menyukai jilid pertamanya. Bagi saya, Taken yaitu sebuah film thriller yang menegangkan dengan balutan agresi yang seru dan jalinan dongeng yang mengundang rasa ingin tahu. Saat film berakhir dan lampu bioskop kembali dihidupkan, aku menduga petualangan Bryan Mills (Liam Neeson) telah berakhir dan beliau menjalani hidup normal. Akan tetapi, uang telah berkata lain. Nahkoda di jilid awal, Pierre Morel, disingkirkan begitu saja dan digantikan oleh Olivier Megaton yang mendadak menjadi anak emas Besson sesudah menggarap Transporter 3. Pergantian sutradara ini nyatanya sangat besar lengan berkuasa kepada hasil selesai film secara keseluruhan. Taken 2, walaupun tidak hingga berakhir sebagai film yang menjengkelkan, yaitu sebuah penurunan yang drastis dari film sebelumnya. Terlalu banyak kekonyolan sehingga sulit untuk menanggapinya secara serius. 

Setahun sesudah Kim (Maggie Grace) berhasil dibebaskan oleh Bryan Mills dari cengkraman para pria-pria bengis yang memperdagangkan gadis-gadis manis di Paris, kehidupan Bryan seharusnya bisa kembali normal… seharusnya. Tapi sebab ini yaitu sebuah lanjutan yang membutuhkan lebih banyak konflik, maka Besson dengan rekannya di departemen naskah, Robert Mark Kamen, merumitkan segalanya. Hal ini mempunyai potensi untuk menggugah emosi penonton dan merekatkan kekerabatan penonton dengan para tokoh utama. Hanya saja, waktu selama 30 menit yang dipergunakan untuk membangun cerita, disia-siakan begitu saja. Selain subplot mengenai kekasih Kim, Jamie (Luke Grimes), yang mengusik ketenangan Bryan serta kegagalan Kim dalam ujian mengemudi, tidak ada yang digali lebih mendalam oleh duo penulis. Padahal aku menantikan ada sedikit penuturan kilas balik mengenai perjuangan Kim mengatasi rasa trauma yang menghinggapi serta kelanjutan kekerabatan Bryan dengan sang mantan istri, Lenore (Famke Janssen). Dalam waktu yang terbatas, kita melihat bahwa kehidupan rumah tangga Lenore dan Stuart tengah memburuk. Tidak ada klarifikasi yang memuaskan mengenai hal ini seolah-olah penulis ingin menghilangkan Stuart begitu saja demi memberi jalan bagi Bryan untuk rujuk dengan Lenore. 

Di film kedua ini kita tidak lagi melihat pemandangan sudut-sudut kota Paris sebab Olivier Megaton memboyong kita ke Istanbul, Turki, yang cantik. Menyusul dibatalkannya rencana berlibur ke China sebab pertengkaran mahir antara Stuart dan Lenore, maka Lenore dan Kim pun tetapkan untuk menyusul Bryan Mills yang tengah bertugas di Turki. Sembari menjalankan kiprah negara, Bryan menghabiskan waktu senggangnya untuk memperbaiki hubungannya dengan Lenore. Cinta usang pun bersemi kembali. Tapi, tentu saja, liburan ini tidak akan berjalan dengan mulus dan menyenangkan sebab ini adalah… Taken 2 (Diculik 2). Ayah dari salah satu ‘villain’ di film sebelumnya yang dihabisi oleh Bryan, Murad Hoxha (Rade Šerbedžija), bersama dengan kroni-kroninya menuntut balas. Bryan dan Lenore diculik kala tengah berjalan-jalan menikmati kebersamaan di tengah hiruk pikuk kota Istanbul. Sementara korban penculikan dari jilid awal, Kim, berhasil lolos. Oleh Besson, Kim ditempatkan sebagai ‘sidekick’ dari Bryan. 

Di bawah penanganan Olivier Megaton, Taken 2 lebih terasa menyerupai kelanjutan dari Transporter 3 ketimbang sekuel dari Taken. Lihat saja bagaimana Megaton banyak memanfaatkan helishot yang telah beliau aplikasikan sebelumnya melalui film yang dibintangi oleh Jason Statham tersebut. Atau, bagaimana beliau menampilkan car chase scene di gang-gang sempit pemukiman warga. Nuansa Transporter sangat terasa. Tidak ada yang salah dengan hal ini, sah-sah saja. Selama masih memperlihatkan hiburan bagi penonton, mengapa tidak? Saya sendiri cukup menikmatinya. Namun yang aku sungguh sayangkan yaitu naskah buatan Kamen dan Besson yang sangat dangkal dan seakan hanya mengulang atas apa yang terjadi di film sebelumnya. Ketegangan tidak lagi terasa di sini. Alurnya pun cenderung gampang ditebak. Sama sekali tidak ada greget. Besson melupakan naskah demi menghadirkan lebih banyak adegan agresi dan tone yang lebih cerah. Sesekali berhasil, namun seringkali gagal. Yang menciptakan Taken 2 sulit untuk aku nikmati secara menyeluruh yaitu para ‘villain’ yang luar biasa tolol dan lemah. 

Baiklah, bila aku melihatnya dari sisi positif, mungkin ini sebab mereka melawan Bryan yang digambarkan sebagai sosok yang superior, tangguh, dan mematikan. Akan tetapi, meminjam dari perkataan anak muda zaman sekarang, “nggak gitu-gitu juga kaleeee….”. Tidak heran bila 21 Cineplex sempat melabeli film ini dengan ‘Semua Umur’ di website mereka. Lha wong para tokoh antagonis di sini luar biasa menggelikan layaknya para penjahat di film untuk konsumsi keluarga. Masa mereka juga tidak berkutik menghadapi Kim yang notabene tidak dibekali kemampuan bertarung dan mengemudi yang mumpuni? Please! Tidak ada satupun dari belasan (atau bahkan puluhan) orang ini yang terlihat berbahaya dan menjengkelkan. Adegan titik puncak pun berakhir dengan sangat gampang karena… Ah, sudahlah. Saya curiga, para ‘villain’ ini belum menonton Taken dan asal melabrak Bryan saja tanpa persiapan yang matang. Grrrr… Padahal Taken 2 berpotensi menjadi suguhan hiburan yang menyenangkan. Car chase scene-nya lumayan, dan Maggie Grace tampil lebih menarik hati ketimbang sebelumnya (suit… suit…). Sayangnya, naskah yang kekurangan energi dan para ‘villain’ yang lebih sering mengundang tawa ketimbang bikin gemes, merusak semuanya. Taken memang seharusnya tidak perlu dilanjutkan.

Acceptable