October 25, 2020

Review : Tampan Tailor


“Hidup itu bukan problem berada di atas atau di bawah, tetapi cara kita menjalaninya dengan keyakinan dan cinta.” – Topan

Saat menyaksikan Tampan Tailor di layar perak, diri ini seolah sulit untuk mempercayai bahwa film ini diproduksi oleh Maxima Pictures. Tiada maksud untuk berburuk sangka sama sekali. Apabila Anda mengikuti perkembangan perfilman dalam negeri, maka tentu tahu apa yang saya maksud, bukan? Jejak rekam rumah produksi yang satu ini dalam lima tahun terakhir sama sekali tidak menggembirakan. Nama baik telah benar-benar tercoreng sehingga film apapun yang ditelurkan oleh mereka akan melewati proses ‘penghakiman awal’ dari masyarakat. Seolah tidak ada sedikit pun kepercayaan bahwa Maxima bisa berubah. Tapi, yah, ini tentu sesuatu yang masuk akal terlebih sehabis hati disakiti dan kepercayaan dinodai berkali-kali melalui suguhan berupa formasi film-film yang berada dalam kualitas ‘ampun deh’. Harapan untuk bangun dari keterpurukan berada di angka 0. Maka ketika Tampan Tailor hadir meramaikan bioskop tanah air, tiada sedikit pun ekspektasi terhadap film yang tersemat. Bahkan, evaluasi awal yang muncul – hanya dengan menyimak trailer – yaitu ini hasil tiruan The Pursuit of Happyness. Sadis. 

Tapi tunggu dulu, benar-benar tunggu dulu, untuk yang satu ini. Anda mungkin sudah terlanjur skeptis karena ini yaitu produk terbaru dari Maxima Pictures. Akan tetapi, Tampan Tailor bukanlah film yang akan menciptakan Anda berkata, “ah, ini tidak ada bedanya dengan yang sudah-sudah.” Sama sekali tidak. Malahan, bisa jadi Anda akan terperangah tak percaya usai menyaksikannya menyerupai yang saya alami. Tidak menduga film yang sederhana namun manis, jenaka, serta menyentuh ini berasal dari rumah produksi yang kerap kali melempar film horor dan komedi berbumbu seks ala kadarnya. Sebuah kejutan yang menyenangkan di kuartal pertama tahun 2013 bagi para penikmat film. Ini sekaligus menjadi sebuah lompatan yang sangat jauh bagi karir penyutradaraan Guntur Soeharjanto yang sebelumnya sukses menggarap Otomatis Romantis, Cinlok, serta Purple Love
Premis yang diusung oleh film yang skripnya digarap oleh Alim Sudio dan Cassandra Massardi ini memang mengingatkan dengan film yang dibintangi oleh Will Smith tersebut, namun kesamaan hanya berhenti sebatas pada premis sebab dalam sanksi jauh berbeda – terkadang justru lebih mengingatkan saya kepada Life is Beautiful-nya Roberto Benigni. Apa yang disoroti dalam film yaitu usaha dari Topan (Vino G Bastian) dalam membangun kembali hidupnya yang awut-awutan usai diterjang ‘angin topan’ dalam bentuk serangkaian cobaan. Ibarat pepatah, sudah jatuh tertimpa tangga pula. Istrinya meninggal digerogoti kanker ganas yang turut ‘menggerogoti’ keuangan Topan sehingga memaksanya untuk menutup toko jahit yang selama ini menjadi sumber penghasilannya. Lantaran tiada biaya pula, putra semata wayangnya, Bintang (Jefan Nathanio), pun terpaksa tak bisa melanjutkan sekolahnya. Dengan pinjaman sepupunya, Darman (Ringgo Agus Rahman), Topan pun menjalani banyak sekali macam pekerjaan demi menyambung hidup. Dimulai dari menjadi calo tiket kereta api, kuli bangunan, sampai stuntman. Di tengah carut marut kehidupannya, hadir seorang wanita berjulukan Prita (Marsha Timothy) yang luar biasa ‘jutek’, namun berhasil memikat hati Bintang serta, ya tentu saja, Topan. 
Apabila hanya berpatokan kepada sinopsis semata, maka citra yang hadir di benak yaitu sebuah tontonan yang maha mendayu-dayu dimana deraian air mata tak berkesudahan menjadi jualan utama. Akan tetapi, Guntur Soeharjanto tidak benar-benar menggiringnya ke arah sana. Dia mencoba menghantarkannya dengan ringan dan dipenuhi kejenakaan di balik plot utama yang terbilang pahit. Ketimbang memandang segala sesuatu dengan pesimis yang umumnya digambarkan melalui air mata yang senantiasa tumpah setiap detik, Tampan Tailor justru menentukan untuk mengumandangkan rasa optimis tinggi yang mana terasa lebih efektif dalam menyentuh lubuk hati yang terdalam. Melalui pendekatan ini, film tidak hanya berhasil menciptakan saya tersentuh menyaksikan gigihnya usaha Topan demi mendapat kehidupan yang layak untuk keluarganya, namun sekaligus terinspirasi dan mengumandangkan rasa syukur kepada Tuhan. 
Kita perlu memperlihatkan tepuk tangan yang meriah kepada Guntur Soeharjanto atas pengarahannya yang cekatan, Alim Sudio beserta Cassandra Massardi atas skrip yang padat berisi dan terjalin rapi, serta, tentu saja, kepada jajaran pemain atas akting yang besar lengan berkuasa serta chemistry yang mengagumkan; Vino G Bastian yang menampilkan kemampuan akting terbaik dalam karirnya – serta untuk pertama kalinya tidak terasa menjengkelkan – sanggup menyatu kala dipasangkan dengan Marsha Timothy (yang mana bukan sesuatu yang mengejutkan, you know what I mean) dan bintang film cilik pendatang gres dengan masa depan menjanjikan, Jefan Nathanio. Kemampuan dari ketiga departemen untuk saling menyokong satu sama lain inilah yang menciptakan Tampan Tailor sanggup berdiri dengan kokoh sekalipun harus diakui premis yang ditawarkan oleh film ini sebenarnya bukan sesuatu yang segar dan telah berulang kali didaur ulang oleh banyak sineas di dunia. 
Pada akhirnya, saya akan menyampaikan bahwa Tampan Tailor yaitu produk terbaik yang pernah dihasilkan oleh Maxima Pictures (serta Guntur Soeharjanto dan Alim Sudio), sejauh ini. Ya, memang ini bukanlah sebuah suguhan yang tanpa cela karena diganggu oleh skoring musiknya yang kelewat narsis dan ‘over-the-top’ sehingga beberapa kali berkontribusi dalam meruntuhkan mood, menciptakan hati merasa jengkel serta seakan-akan tengah menyaksikan sinetron di layar lebar. Akan tetapi, berkat penyutradaraan, skrip, serta akting yang solid, saya sanggup menikmati film sampai credit title bergulir. Saya mendapat sejumlah momen menyenangkan yang memunculkan gelak tawa yang renyah serta mengharu biru yang menciptakan mata berkaca-kaca ketika menyaksikan Tampan Tailor di bioskop. Di balik ketidaksempurnaan yang melingkupi, Tampan Tailor sebaiknya tidak Anda lewatkan begitu saja.

Exceeds Expectations