October 18, 2020

Review : Tanah Surga… Katanya


“Apapun yang terjadi, jangan hingga kau kehilangan rasa cinta pada negeri ini.” – Hasyim 

“Apapun yang terjadi, jangan hingga kau kehilangan rasa cinta pada negeri ini.” Demikian pesan Hasyim (Fuad Idris), mantan sukarelawan Konfrontasi Indonesia Malaysia pada tahun 1965 yang mempunyai jiwa nasionalisme yang tinggi, kepada cucu kesayangannya, Salman (Osa Aji Santoso). Melanglang jauh ke utara meninggalkan Pulau Jawa menuju perbatasan Indonesia dan Malaysia di sebuah perkampungan terpencil yang ndeso di Kalimantan Barat, Tanah Surga… Katanya mengambil tempat. Terinspirasi dari lagu legendaris milik Koes Plus, ‘Kolam Susu’, film kedua dari sutradara penghasil Jagad X Code, Herwin Novianto, ini tak jauh berbeda dengan karya-karya Deddy Mizwar sebelumnya, sebuah satir terhadap situasi dan kondisi di tanah air tercinta, Indonesia. Ya, ini yaitu film produksi Demi Gisela Citra Sinema milik Deddy Mizwar yang sebelumnya juga telah sentil sana-sini lewat Ketika, Nagabonar Kaprikornus 2, Alangkah Lucunya Negeri Ini, dan Kentut. Sekalipun tak lagi berada di garda depan dan ditemani Musfar Yasin, dia tetap melancarkan sindiran-sindiran yang menohok terhadap pemerintah serta memperlihatkan penonton materi untuk berkontemplasi. 
Setelah mengulik seputar pejabat-pejabat yang korup serta sarjana pengangguran, Tanah Surga… Katanya asyik membahas mengenai polemik antara Indonesia dengan negara tetangga, Malaysia, yang tidak kunjung mencapai titik temu dan seakan tiada berkesudahan. Danial Rifki, yang tak kalah ciamik dengan Musfar Yasin dalam menggarap naskah yang vokal, tidak mengangkat gosip seputar klaim budaya yang akhir-akhir kerap menjadi sorotan media atau perebutan Pulau Sipadan. Akan terlalu berat untuk dikonsumsi oleh seluruh anggota keluarga, tentunya. Permasalahan yang diapungkan cukup sederhana, rumput tetangga tampak lebih hijau dari rumput sendiri. Sejumlah masyarakat Indonesia berbondong-bondong mengadu nasib ke Malaysia sebab dari segi perekonomian, disana lebih menjamin. Setidaknya, ada impian yang dapat dimiliki. Bahkan putra Hasyim, Haris (Ence Bagus), menikahi seorang perempuan Malaysia biar tidak kesulitan dalam mengais rezeki. Dia memboyong putrinya ke Malaysia, sementara Salman kekeuh tinggal di kampung halaman menemani sang kakek yang sakit-sakitan. Disamping dongeng Hasyim dan keluarganya, penonton pun disodori dengan dongeng Astuti (Astri Nurdin), guru satu-satunya di perkampungan tersebut, dan dr. Anwar (Ringgo Agus Rahman), seorang dokter muda. Sekalipun pada risikonya mereka mengasihi apa yang mereka lakukan, akan tetapi baik Astuti maupun Anwar ‘mengabdi’ ke masyarakat di kampung halaman sebab sebuah keterpaksaan. 
Lucu sekaligus miris tatkala terungkap bahwa teman-teman sebaya Salman tidak mengetahui bentuk Sang Saka Merah Putih, serta mereka mengira ‘Kolam Susu’ yaitu lagu kebangsaan Indonesia. Untuk melancarkan transaksi jual beli, alih-alih menggunakan Rupiah, penduduk kampung justru terbiasa dengan Ringgit Malaysia. Dan apa yang dilukiskan dalam film ini, memang benar adanya. Saya pun jadi teringat dengan salah satu obrolan di Lewat Djam Malam, “apa guna merdeka selagi periuk kita masih tergantung pada bangsa lain?.” Apakah itu berarti perkampungan ini masih belum dapat dikatakan merdeka karena tak sepenuhnya mencicipi hasil kemerdekaan secara mutlak yang diperjuangkan oleh para pendahulu? Apakah makna bekerjsama dari kemerdekaaan? Dirilis menjelang peringatan hari proklamasi kemerdekaan Indonesia, Tanah Surga… Katanya seolah ingin menggugat pemerintah yang tidak memedulikan nasib wong cilik, utamanya yang berada jauh dari sentra pemerintahan dan berada di batas negara. Sekalipun banyak pesan yang disampaikan untuk para petinggi, trio Herwin Novianto, Danial Rifki, dan Deddy Mizwar – serta Gatot Brajamusti – pun tidak melupakan pesan untuk masyarakat yang perlahan-lahan mulai kehilangan nasionalisme. Di beberapa cuilan memang ada kesan menceramahi penonton, akan tetapi secara keseluruhan pesan berhasil tersampaikan dengan baik. Dimulai dengan kuat, film sedikit terseok-seok di pertengahan, namun kemudian kembali menanjak menjelang penutupan. Naskah bernas buatan Danial Rifki menjadi kunci utama kesuksesan film ini, terlepas dari kurangnya humor yang menggigit, disamping sinematografi yang tertata bagus serta permainan apik para pemainnya. Jika ada yang dirasa mengganggu, maka itu yaitu kehadiran ‘product placement’ yang seliweran berkali-kali sehingga tidak mengecewakan menodai estetika film. Tidak hingga dalam tahapan yang parah layaknya Di Bawah Lindungan Ka’bah, namun tetap saja mengurangi kenikmatan dalam menonton. Hal ini seakan telah menjadi salah satu ciri khas dari film yang diproduksi oleh Deddy Mizwar, iklan terselubung dimana-mana. Pun begitu, dengan segala kekurangan yang diemban – termasuk tampilan posternya yang sangat tidak menggugah selera, Tanah Surga… Katanya melaju dengan mudah, meninggalkan ketiga pesaingnya, untuk menjadi Film Idulfitri paling mengesankan untuk tahun ini.

Exceeds Expectations