October 22, 2020

Review : Ted 2


“There are no chicks with dicks, Johnny, only guys with tits.” 

Terima kasih kepada gagasan edan Seth MacFarlane, gambaran anggun boneka beruang kesayangan bawah umur pun sedikit tercoreng. Betapa tidak, ketimbang menggambarkan sang Teddy Bear sebagai sosok anggun menggemaskan menyerupai kita kenal selama ini, dalam Ted yang dilempar ke pasaran tiga tahun silam, MacFarlane mempresentasikannya serba kebalikan. Tingkah lakunya tidak senonoh, mulutnya luar biasa kotor (sampai-sampai sabun basuh paling ampuh sekalipun angkat tangan!), serta waktu senggangnya dihabiskan untuk menghisap ganja dengan sesekali bersenggama (yikes!). Bisa dibilang, menjauhi segala bentuk norma-norma kebajikan. Dan memang itulah kegemaran Seth MacFarlane, melontarkan banyolan-banyolan dengan gaya teramat kasar, jorok dan cenderung ofensif yang bercampur acuan budaya terkenal menyerupai yang kau bisa temukan pada film-film arahannya termasuk Ted yang tidak dinyana-nyana menciptakan para kritikus dan penikmat film mencapai akad menyambut hangat kemunculannya. Tentu saja, mengingat Ted laris anggun maka film kelanjutannya bertajuk (errr) Ted 2 pun dilepas dengan cita-cita bisa mendulang kesuksesan yang sama. Berhasilkah atau gagalkah? 

Ted (Seth MacFarlane) semula mengganggap pernikahannya dengan kekasihnya, Tami-Lynn (Jessica Barth), merupakan perwujudan aktual dari ‘bahagia untuk selamanya’. Keadaan berubah sehabis gesekan-gesekan diantara mereka menjadi kian runyam begitu kehidupan rumah tangga menapaki usia setahun. Tidak ingin bernasib menyerupai sang sahabat, John Bennett (Mark Wahlberg), yang telah bercerai dari Lori (dalam film pertama diperankan Mila Kunis), Ted berinisiatif untuk mempunyai anak sesuai saran rekan kerjanya sehingga pernikahannya sanggup terselamatkan. Dengan Tami tidak mungkin mengandung bayi karena kebiasannya mengganja berdampak pada rusaknya rahim, maka satu-satunya cara bagi mereka untuk menimang buah hati ialah mengadopsi. Hanya saja, masalah tidak terselesaikan sesederhana itu alasannya ialah belakangan status Ted sebagai properti alih-alih insan menimbulkan bermacam-macam problem lain. Disamping permohonan mengadopsi ditolak dan kehilangan pekerjaan, pernikahannya dengan Tami pun dianulir. Merasa diperlakukan tidak adil, Ted dibantu oleh John mencari pengacara untuk membereskan kasus ini yang membawa mereka ke pengacara rookie, Samantha Jackson (Amanda Seyfried). 

Saat mendengar Ted akan mempunyai ‘adik’, saya tidak lantas menanggapinya antusias dan malah justru skeptis alasannya ialah well, MacFarlane telah membangun standar tinggi untuk film komedi berakal balig cukup akal melalui Ted. Segala kegilaan – dari yang bisa terbayangkan di benakmu hingga sama sekali tidak pernah terlintas – telah diobral habis-habisan di jilid pertama sampai-sampai agak sulit membayangkan lawakan yang dilontarkan oleh MacFarlane dalam Ted 2 akan lebih sinting. Mudahnya, menyidik betapa memuaskannya sang predesesor, apa lagi yang bisa ditawarkan oleh jilid ini? Betul saja, Ted 2 tampak tertatih-tatih dalam upayanya menandingi prestasi sang kakak. Banyolan-banyolan hasil pedoman trio MacFarlane, Alec Sulkin, dan Wellesley Wild sekali ini tidak ada yang benar-benar memberi tendangan jago yang memantik tawa berderai-derai. Mereka seolah telah kehilangan inspirasi segar dalam melucu dengan beberapa diantara humor yang coba diapungkan berkesan busuk dan repetitif (alat kelamin laki-laki kulit gelap dan kedipan meminta bersenggama, seriously, guys?). Keberadaan elemen drama yang menyinggung warta hak asasi pun sedikit banyak berkontribusi terhadap melembeknya humor terlebih si pembuat film pun kebingungan untuk menyeimbangkan kedua elemen ini sehingga menghasilkan kombinasi yang aneh. 

Pun demikian, saya membual jikalau menyebut Ted 2 jauh dari kata lucu. Sekalipun memang kualitasnya mengalami degradasi – mengikuti watak Ted yang kian tidak tahu diri – tetapi Ted 2 tetap mempunyai beberapa momen yang akan membuatmu terbahak. Selain parade cameo dan acuan budaya terkenal (bersiaplah mendengar salah satu skoring musik legendaris dan berkunjung ke Comic Con!) yang masih tergolong nendang, komponen komedi kurang didik dari Ted 2 yang masih tidak jauh-jauh dari elemen serang-serangan juga sesekali punya daya untuk mendorong munculnya gelak tawa walau sulit dipungkiri seringkali jatuh hambar. Malah tawa saya lebih sering bersumber dari sekuens singkat kolam denah yang justru dibiarkan berlalu begitu saja dengan salah duanya dikala Ted berpakaian kolam PSK berusaha menjual dirinya di jalanan atau momen-momen kebersamaan Ted-John yang dipangkas cukup banyak oleh si pembuat film disini. Ya, mencoba memberi lampu sorot lebih pada kekerabatan romansa para karakternya dan drama pengadilan (maunya emosional) yang gagal tergali mendalam pula menarik, Ted 2 mengorbankan elemen buddy movie yang sejatinya kekuatan utama dari film pertama selain gila-gilaannya. Tidak heran jikalau lantas Ted 2 gagal bersinar lebih benderang apalagi bayang-bayang sang abang masih berpengaruh membayangi.

Acceptable