October 28, 2020

Review : Ted

“Ted, you mean everything to me, and so does Lori. I mean, I’m just trying to find a way to keep you both in my life.” – John 

Apakah Anda pernah melewati sebuah masa dimana Anda berharap mainan atau boneka milik Anda bisa hidup dan mengajak bermain bersama? Mengucap doa, atau malah justru merapal mantra, tapi keajaiban yang dinanti-nantikan tidak kunjung menghampiri. Saat usia semakin bertambah dan pikiran semakin matang, kita pun menyadari bahwa keinginan masa kemudian ini yaitu sebuah kekonyolan yang hanya mungkin terjadi di alam mimpi atau sebuah film. Pun begitu, jauh di dalam lubuk hati, saya masih menyimpan secercah pengharapan walau nalar sehat menolaknya. Seth MacFarlane yang namanya melejit berkat serial animasi kurang ajar, Family Guy, mengulik permasalahan ini dalam film panjang perdananya, Ted. Dia membuat sebuah huruf berbentuk boneka beruang yang sanggup berbicara. Ini bukan pertama kalinya bagi MacFarlane melahirkan sebuah huruf yang abstrak atau berwujud hewan yang sanggup berbicara alasannya yaitu sebelumnya ia telah memunculkannya dalam Family Guy, American Dad! maupun The Cleveland Show. Tidak berbeda dengan para pendahulunya, Ted (disuarakan oleh Seth MacFarlane) pun memiliki bentuk fisik yang bikin gemes namun senantiasa nyinyir, berperilaku kasar, cabul, dan kurang ajar. 
Sejatinya, Ted tak lebih dari sekadar ‘buddy movie’ yang menyoroti dua sobat yang enggan untuk tumbuh sampaumur dan segala bentuk konsekuensi yang mau tak mau kudu diterima sebagai sebuah tanggapan atas pilihan yang telah mereka buat. Yang membuatnya sedikit berbeda yaitu pilihan MacFarlane untuk menempatkan sesosok boneka beruang yang bisa berbicara sebagai si ‘antagonis’ dalam kerumitan mengambil sebuah keputusan besar dalam hidup. Dengan begini, film pun memasukkan unsur fantasi ke dalamnya. Si ‘protagonis’ yaitu John Bennett (Mark Wahlberg), laki-laki berusia 35 tahun dengan pekerjaan mentok di daerah persewaan mobil. Sang kekasih, Lori (Mila Kunis), gerah melihat John tidak kunjung berguru untuk bertanggung jawab atau membuat keputusan sementara sebentar lagi usia memasuki kepala empat. Lori melihat Ted sebagai virus yang harus disingkirkan dari kehidupan John. Akan tetapi, tentu saja tidak gampang untuk meminta Ted pergi begitu saja meninggalkan John terlebih mereka telah dekat semenjak John masih berusia 8 tahun. Kala itu, John cilik (Bretton Manley) yang kesepian, melayangkan keinginan ke bintang jatuh untuk menghidupkan boneka beruang miliknya. Tak dinyana, Tuhan menjawab undangan John cilik. Ted hidup, dan dengan segera bermetamorfosis menjadi bintang cilik kesayangan publik. 
Tanpa dibekali talenta yang mumpuni, popularitas Ted dengan cepat meredup. Penonton tidak dibiarkan untuk melihat proses jatuhnya seorang bintang tanpa talenta alasannya yaitu itu bukanlah yang menjadi inti dongeng dari Ted. Setting waktu dimajukan sampai 27 tahun ke depan, dan kita eksklusif menyaksikan kehidupan dua sobat yang awut-awutan ini. Si Teddy Bear telah bermetamorfosis menjadi boneka yang pemalas, gemar berpesta, dan main perempuan. Hidupnya dihabiskan sebagian besar di atas sofa seraya menghirup ganja dan menonton ‘Flash Gordon’. Tidak ada masa depan cerah yang membayangi, maka sungguh masuk akal bila Lori terpaksa memberi ultimatum kepada John untuk menentukan ia atau sang sahabat. Perkara menyerupai ini telah Anda saksikan berulang kali dalam film yang berbeda-beda, dan secara umum dikuasai menunjukkan konklusi yang kurang lebih sama. Dalam Ted, MacFarlane dan kedua rekan di departemen penulisan naskah, Alec Sulkin dan Wellesley Wild, pun tak berusaha untuk menyajikan alur konflik yang berbeda. Justru keklisean inilah yang membuat penonton gampang terkoneksi dengan film. Penonton merasa iba kepada Lori, dan jengkel kepada Ted maupun John. Terberkatilah para penulis yang dianugerahi para bintang yang bermain di atas rata-rata disini. Selain Mark Wahlberg dan Seth MacFarlane yang tidak perlu diragukan lagi pesonanya, film juga menerima sokongan akting mumpuni dari Mila Kunis, Giovanni Ribisi sebagai penggemar berat yang menyeramkan, serta Joel McHale yang memainkan tugas sebagai bos Lori. Semenjak bertransformasi menjadi bebek hitam, Kunis kian matang saja dari film ke film. Disini pun ia bisa mengimbangi performa Wahlberg dan MacFarlane yang berpengaruh mendominasi. 
Apabila Anda sudah terbiasa menyaksikan komedi dengan rating R (17 tahun ke atas) khas Amerika maupun serial-serial ciptaan MacFarlane, khususnya Family Guy yang memiliki tone yang sangat menyerupai dengan film ini, maka Anda tidak akan lagi terkejut dan bisa melahap film ini dengan hati riang gembira. Layaknya tingkah laris si boneka beruang, Ted pun luar biasa kasar. Ledakan tawa penonton di dalam gedung bioskop diciptakan melalui komedi fisik, jokes yang bersinggungan dengan kentut, serta lisan kotor Ted yang tampaknya sangat perlu dicuci dengan sabun. Tidak terhitung berapa jumlah selebriti, ‘pop culture’ serta informasi sensitif yang diserang dengan sangat kejam dan tanpa ampun di sepanjang film. Yang membekas di ingatan saya, beberapa diantara ‘korban’ mencakup Katy Perry, Pink Floyd, Superman versi Brandon Routh, Bridget Jones’ Diary, Octopussy, Airplane!, Sinead O’Connor, Taylor Lautner, Susan Boyle, kepercayaan tertentu sampai serangan 9/11. Walaupun terkadang keterlaluan, khususnya bagi masyarakat Timur yang masih menjunjung tinggi unggah-ungguh, namun saya berhasil tertawa terbahak-bahak nyaris sepanjang film. It’s hilariously funny, dude! Trio MacFarlane, Sulkin, dan Wild, telah membuat sebuah film komedi fantasi yang bagi saya nampak sebagai ‘Christmas movie’ yang penuh dengan kegilaan, sentilan, lucu, menyenangkan, namun tetap punya hati. Penonton memang tak henti-hentinya dibawa dari satu pesta ke pesta lain, hanya mengikuti Ted dan John untuk menyia-nyiakan waktu berharga mereka, namun pada karenanya penonton diajak untuk merenungi makna dari kedewasaan, tanggung jawab, janji serta berguru membuat keputusan.

Outstanding