October 21, 2020

Review : Teman Tapi Menikah


“Cinta pertama itu susah dilupain. Apalagi kalau cinta pertama lo itu sahabat lo sendiri.” 

Apakah kau pernah jatuh cinta dengan sahabat terdekatmu sendiri? Pernah? Tidak? Kalau saya langsung sih belum pernah merasakannya dan mengingat ketika ini masih bujangan (hello, ladies!), hanya Tuhan yang tahu apakah diri ini nantinya akan melangkahkan kaki ke pelaminan bersama seorang mitra baik atau seorang lain. Ehem. Satu yang jelas, beberapa hari silam, mata kepala saya menjadi saksi atas terwujudnya ‘teman tapi menikah’ di kehidupan nyata. Dua sahabat bersahabat saya sedari 10 tahun kemudian yang tidak pernah terdeteksi menjalin relasi asmara – semua orang tahu mereka bersahabat dekat – tiba-tiba menikah. Dari sini saya tersadar bahwa kisah kasih menyerupai ini sejatinya lumrah terjadi sebab sebelumnya saya mendengar dongeng serupa dari abang kandung. Tak mengherankan jikalau novel rekaan Ayudia Bing Slamet dan Ditto Percussion yang mempopulerkan istilah ‘teman tapi menikah’ banyak diserbu khalayak ramai. Dalam novel tersebut, mereka berdua menyebarkan pengalaman positif perihal bagaimana relasi persahabatan keduanya yang telah dibina selama 12 tahun justru berlanjut ke jenjang pernikahan. Pengalaman positif yang rupa-rupanya mempunyai kedekatan representasi bagi banyak orang. Menyadari bawah novel ini memperoleh resepsi begitu hangat, pihak Falcon Pictures pun memutuskan untuk memvisualisasikannya ke bentuk film layar lebar dengan tajuk Teman Tapi Menikah, kemudian menunjuk Rako Prijanto (Sang Kiai, 3 Nafas Likas) sebagai sutradara, dan mendapuk Vanesha Prescilla dan Adipati Dolken untuk menempati posisi pelakon utama.  

Dalam Teman Tapi Menikah versi layar lebar, kedua huruf sentralnya tetaplah Ayudia Bing Slamet (Vanesha Prescilla) dan Ditto (Adipati Dolken). Mereka diceritakan telah menjalin relasi persahabatan sedari duduk di dingklik SMP. Awalnya sih Ditto sebatas mengagumi Ayu yang sedari kecil telah dikenal sebagai aktris. Namun seiring berjalannya waktu, Ditto ingin memperlakukan Ucha – sapaan akrabnya untuk Ayu – sebagai seorang sahabat istimewa. Dimana ada Ditto, maka disitu ada Ayu. Mereka berdua sulit untuk dipisahkan sampai-sampai acapkali dikira berpacaran saking lengketnya satu sama lain. Persahabatan mereka terus berlanjut hingga ke jenjang Sekolah Menengan Atas dimana Ditto mulai memperlihatkan potensinya sebagai pemusik sekaligus playboy kelas teri. Pada titik ini, sebenarnya kedua belah pihak telah menyadari ada setitik rasa antara satu dengan lain. Namun mereka berdua menentukan untuk tak terlalu mengindahkannya. Ayu memutuskan untuk berkencan dengan anak grup musik berjulukan Darma (Rendi John) sementara Ditto terus berganti-ganti pacar seiring berjalannya waktu. Adanya rasa tidak senang tatkala menjalin relasi dengan sejumlah wanita perlahan menyadarkan Ditto bahwa hatinya sebenarnya hanya untuk Ayu. Masalahnya, bagaimana cara mengungkapkan isi hatinya ini? Terlebih Ayu seolah sebatas menganggapnya sebagai sahabat curhat belaka dan tampaknya tidak pernah menyadari bahwa segala kerja keras yang dilakukan oleh Ditto menyerupai membeli scooter memakai uang tabungan sendiri ialah upayanya untuk membahagiakan Ayu. Hubungan yang terjalin diantara keduanya ini semakin terasa rumit ketika pilihan menimba ilmu di universitas memaksa mereka untuk berpisah jalan. 


Ditengok dari premis, Teman Tapi Menikah sejatinya sederhana saja (kalau tak mau disebut klise ya). Tidak terhitung lagi sudah berapa banyak film romansa yang berceloteh mengenai relasi persahabatan dua muda mudi yang berkembang menjadi relasi percintaan. Dari zaman baheula hingga sekarang, kau setidaknya akan menjumpai minimal satu film yang pokok kupasannya berkisar soal ‘teman tapi mesra’. Ya mau bagaimana lagi, kisah kasih semacam ini selalu mempunyai sudut pandang gres untuk diceritakan sekalipun sudah teramat sering disampaikan. Teman Tapi Menikah pun demikian. Plotnya yang kelewat umum bisa saja membuat sebagian penonton memandangnya remeh, tapi film ini sanggup menandakan bahwa jalinan penceritaan yang begitu sederhana dan terasa sangat familiar akan tetap menghasilkan tontonan yang meninggalkan kesan mendalam apabila menerima penanganan yang tepat. Teman Tapi Menikah tidak berusaha mati-matian untuk tampil sophisticated demi menarik perhatian publik, melainkan hanya bergantung pada guliran kisahnya yang membumi dan tidak membentuk jarak terlampau jauh dengan penonton. Pertanyaan yang dilontarkan si pembuat film kepada penonton semacam “apakah kau pernah jatuh cinta dengan sahabat baikmu sendiri?” dan “apakah kau pernah melihat seseorang di dekatmu yang mempunyai kisah menyerupai Ayu dengan Ditto?” merupakan bekal untuk membentuk keterikatan penonton kepada film. Kita merasa terikat sebab kita pernah (atau sedang) berada di fase tersebut. Bukankah selalu mengasyikkan mendengar dongeng mengenai pengalaman seseorang yang sama dengan kita? 

Ndilalah, tukang dongeng Teman Tapi Menikah pun bisa menyusun potongan-potongan kisah kasih Ayu dengan Ditto sedari mereka masih belia hingga menikah di usia 20-an dengan amat baik. Rako Prijanto membuat kita tertambat kemudian bersedia menyaksikan bagaimana relasi dua sejoli ini mengalami transisi dari persahabatan menuju percintaan. Rako beruntung menerima suplai naskah bagus yang dirancang oleh Johanna Wattimena beserta Upi. Rentetan konflik yang muncul secara silih berganti terhidang masuk akal namun tetap memikat, dialog-dialog yang dilontarkan terasa mengalir selayaknya percakapan sehari-hari namun tetap manis (tidak mencoba untuk berpuitis-puitis ria yang justru membuatnya janggal), dan karakterisasi untuk tokoh-tokoh sentral pun terbilang kuat. Sosok Ditto dan Ayu bukanlah huruf satu dimensi dengan perangai terlalu tepat atau terlalu aneh menyerupai kerap muncul di film-film percintaan. Mereka tidak ubahnya penonton yang sedang duduk di kursi bioskop seraya mencemil berondong jagung dan menyeruput minuman bersoda. Mereka ialah kita. Jika ada yang membuat Ayu terlihat agak berbeda dari wanita sebayanya, itu sebab ia menjalani profesi sebagai aktris sinetron. Tapi ketika ia berada di lingkungan sekolah kemudian berinteraksi dengan Ditto, ia tak ubahnya wanita sebelah rumah yang kita kenal. Ditto yang dideskripsikan sebagai playboy pun senada, ia tidak lantas berubah menjadi menjadi prince charming seutuhnya. Dia mencicipi kegagalan, ia juga bekerja keras untuk menggapai mimpinya. Bukan tipe pria berharta melimpah yang bisa memperoleh apapun yang ia mau dengan mudah.

Duo Ayu-Ditto ini dimainkan dengan sangat asyik oleh Vanesha Prescilla dan Adipati Dolken. Saat dipersatukan dalam satu layar, mereka membentuk ikatan kimia yang amat meyakinkan. Mencuat rasa percaya bahwa keduanya ialah sahabat baik yang saling peduli satu sama lain. Ini ditonjolkan melalui pertukaran obrolan yang seru diantara keduanya sampai-sampai kita merasa betah untuk berlama-lama di dekat mereka. Seiring bergulirnya kisah, kita perlahan tapi niscaya sanggup mendeteksi bahwa sejatinya tersembunyi rasa lain dibalik relasi persahabatan ini. Sesuatu yang tidak akan mungkin bisa kita rasakan apabila dua pelakon utamanya tidak memberi performa dan chemistry diatas rata-rata. Chemistry Vanesha-Adipati ialah aset berharga yang dimiliki oleh Teman Tapi Menikah. Berkat mereka, kita bisa bersimpati kemudian memperlihatkan restu kepada relasi Ayu-Ditto. Siapapun telah mengetahui bagaimana kisah mereka akan berakhir di penghujung film, tapi penampilan bagus jajaran pemainnya – termasuk Denira Wiraguna sebagai mantan Ditto dan Refal Hady sebagai mantan Ayu – ditunjang oleh naskah berisi, pengarahan yang lancar, penyuntingan yang dinamis, tangkapan kamera yang manis nan bergaya, serta iringan musik beraroma jazz yang melebur mulus ke setiap adegan sekaligus membantu membuat nuansa romantis-menggemaskan, membuat proses menuju bersatunya Ayu-Ditto terasa sangat mengasyikkan untuk diikuti. Kita ikut tertawa, tersenyum-senyum gemas, hingga menyeka air mata haru. Jarang-jarang ada film percintaan tanah air yang penceritaannya bisa sedemikian mengalirnya. Teman Tapi Menikah terang merupakan salah satu film percintaan terbaik yang pernah dibentuk di Indonesia.

Outstanding (4/5)