October 25, 2020

Review : Ten: The Secret Mission


“Negara ini merdeka bukan sebab bambu runcing, tapi sebab ahli-ahli bela diri yang mahir memakai bambu runcing.”

Merekrut Iko Uwais atau Joe Taslim untuk membintangi film sabung Indonesia itu sudah terlalu mainstream. Banyak yang berpikiran hal senada. Lagipula, secara bujet juga terang akan membumbung tinggi. Kalau tidak balik modal kan, bikin hati merana. Para petinggi 0708 Films (bekerjasama dengan Starvision untuk distribusi) yang terlanjur kebelet ingin mengkreasi sebuah film penuh baku hantam dan suara-suara desingan peluru punya solusi jitu semoga bujet tetap murah meriah: bagaimana jika kita rekrut saja para pemeran amatiran dari kalangan model untuk ber kolam bik buk ria? Agar sisi fun tetap sangat berasa, ditambah lagi pasar utama genre ini yakni laki-laki, modelnya tentu bukan berasal dari kalangan finalis L-Men melainkan majalah berilmu balig cukup akal Popular. Ya, para wanita bagus bertubuh seksi yang biasanya berlenggak-lenggok di atas catwalk atau mengikuti pemotretan dengan busana yang sangat menonjolkan lekuk-lekuk badan sekarang diajak serta oleh Helfi Kardit (Arisan Berondong, Arwah Goyang Karawang) untuk bermain tugas di Ten: The Secret Mission. Perannya tidak sembarangan lho, mereka akan berubah menjadi sebagai perempuan-perempuan tangguh yang dipercaya untuk berpartisipasi dalam misi penyelamatan. Terdengar mengasyikkan dan menggelikan di ketika bersamaan, bukan? 

Pihak yang mempunyai gagasan cemerlang buat merekrut para model majalah berilmu balig cukup akal ini yakni Satuan Inteligen Rahasia Negara atau SIS (The Secret Intelligent Service). Sang pemimpin, Jenderal (Roy Marten), mulanya ragu-ragu sebab tidak meyakini para model ini mempunyai kemahiran mumpuni untuk diterjunkan ke misi pembebasan sandera. Namun Kolonel John (Jeremy Thomas) memilki alasan tersendiri mengapa perempuan-perempuan pilihannya yang secara keseluruhan berjumlah sepuluh orang sanggup diandalkan. Dalam sesi perkenalan yang dijabarkan ke penonton secara amat sangat ringkas – saya berani bertaruh, kalian niscaya akan kesulitan membedakan antara satu dengan yang lain sepanjang film – kita mengetahui bahwa para model ini bukanlah sembarang model. Mereka belakang layar yakni mantan atlet bela diri dari cabang berbeda-beda yang sebagian besar terpaksa beralih profesi menjadi model demi menyambung hidup. Dengan demikian, mereka sejatinya sudah punya modal mencukupi buat beraksi. Agar makin terarah dan tidak serampangan kala melumpuhkan musuh, Mayor Cathy (Karenina Maria Anderson) dan Kapten Dalton (Gibran Marten) dipercaya untuk menggembleng para model ini dalam sesi training penuh peluh di sebuah camp untuk outbound


Berdasarkan premis dan sinopsis yang dikedepankan, kita tentu telah bisa melihat bahwa Ten: The Secret Mission yakni film main-main belaka. Menanggapinya kelewat serius, hanya memberi efek samping berupa kepala nyut-nyutan tidak karuan. Sang sutradara, Helfi Kardit memang sedari mula sadar diri untuk tidak pernah menargetkan karya terbarunya ini berada di kelas yang sama dengan The Raid. Sumber referensinya sendiri banyak berasal dari film sabung kelas B yang mempunyai karakteristik menyerupai berbujet minim, tak terlalu mempedulikan kelayakan teknis apalagi artistik, dan penceritaannya kerapkali ‘suka-suka gue’ sampai-sampai melampaui nalar. Pokoknya, yang penting ada cerita! Ten: The Secret Mission pun mengamini karakteristik tersebut. Jika kau menganggap sinopsis yang ditawarkannya sudah sungguh ajaib, percayalah itu masih belum ada apa-apanya. Tunggu hingga kau mendengar rentetan obrolan yang diucapkan para abjad dalam film atau tindakan yang mereka lakukan. Saya akan memberimu tantangan: bisakah kau menahan hasrat untuk tidak tertawa geli di dingklik bioskop ketika obrolan berbunyi “negara ini merdeka bukan sebab bambu runcing, tapi sebab ahli-ahli bela diri yang mahir memakai bambu runcing” atau “mereka memang tidak mahir menembak, Jendral. Tapi begitu saya tekan tombol, saya yakin semua akan berubah menjadi pembunuh ganas” meluncur dari verbal salah satu karakter? 

…dan itu hanya segelintir diantaranya, saudara-saudaraku tercinta. Hampir sepanjang durasi, obrolan yang menghiasi Ten: The Secret Mission memang berada di level layak ditertawakan. Mencoba sok serius menyerupai mencomot dari buku teks mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan, namun ketidaksesuaian konteks membuatnya terdengar konyol ketimbang ceriwis. Tindakan para karakternya yang entah berasal dari planet mana pun sebelas dua belas. Salah satu paling membekas di ingatan yakni ketika dua model bersembunyi di balik pohon demi menghindari serangan musuh, kemudian sebuah durian jatuh dan menggelinding ke arah mereka. Apabila ini Sunya (film garapan Harry Suharyadi yang juga mempunyai adegan durian jatuh), penonton diminta memikirkan maknanya. Tapi sebab ini yakni Ten: The Secret Mission, maka pada titik puncak yang secara mengejutkan bisa menghadirkan pertarungan dengan tata sabung cukup seru, durian tersebut bertransformasi menjadi… brass knuckle! Ya, salah satu model yang menemukan durian tersebut alhasil tetapkan untuk memanfaatkan kulit durian sebagai senjata dalam bertarung. Sungguh cerdas dan diluar dugaan, to? Dan begitulah Ten: The Secret Mission. Cerdas memang sama sekali tidak sempurna buat dilampirkan ke film ini, tapi diluar dugaan terang sangat mewakilinya. Saat saya beberapa kali menduga kekonyolan dalam film telah mencapai puncaknya, Helfi terus menawarkan kejutan-kejutan dengan menaikkan level kekonyolan sehingga film diluar dugaan sanggup tersaji menghibur. Menghibur dalam kapasitasnya sebagai film kelas B, tentu saja.

Ulasan ini bisa juga dibaca di http://tz.ucweb.com/7_2c9k4

Poor (2/5)