July 15, 2020

Review : Tengkorak


“Kalau 2 meter itu mungkin insan purba. Tapi yang ditemukan di Yogyakarta ini kan 1,85 kilometer.” 

Masyarakat Daerah spesial Yogyakarta (DIY) akan selalu mengenang 27 Mei 2006 sebagai salah satu hari termuram dalam hidup mereka. Betapa tidak, pada tanggal tersebut di suatu pagi yang cerah, gempa bumi berkekuatan 5,9 skala Richter menggoyang DIY. Efek samping yang ditimbulkannya pun tak main-main. Menurut laporan media massa, gempa ini menjadikan ribuan jiwa melayang dan ratusan ribu bangunan mengalami kerusakan dalam aneka macam tingkatan. Yang tak dilaporkan oleh media massa, gempa tersebut menyingkap sebuah fosil kerangka insan dengan ukuran gigantis: mencapai 1,85 kilometer! Tapi tentu saja, inovasi menggegerkan ini bukanlah sebuah insiden aktual – jikalau benar, sudah ributlah seantero dunia – melainkan imajinasi dari seorang dosen di Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada (UGM) berjulukan Yusron Fuadi. Oleh Yusron, imajinasinya ini dituangkan ke dalam sebuah film bertajuk Tengkorak yang menempatkannya sebagai sutradara, penulis skenario, pemain, sinematografer, sekaligus penyunting gambar. Sungguh seseorang yang multitalenta ya! Rangkap jabatan dimungkinkan karena skala produksi Tengkorak terbilang sangat kecil sampai-sampai tahapan produksinya pun memakan waktu hingga tiga tahun jawaban kekurangan ongkos produksi. Perjuangan panjang tim produksi yang melelahkan kesannya terbayar tuntas ketika Tengkorak yang semula berkeliling ke festival-festival film memperoleh kepastian untuk menjangkau penonton luas dengan ditayangkan di jaringan bioskop komersil. 

Seperti telah dikulik di paragraf sebelumnya, Tengkorak berceloteh ihwal kehebohan masyarakat dunia selepas inovasi sebuah fosil kerangka insan di wilayah Bantul, Yogyakarta. Saking gedenya fosil tersebut hingga membentuk sebuah bukit gres yang belakangan diberi nama Bukit Tengkorak. Penemuan ini tak hanya menggegerkan para ilmuwan tanah air dan (tentunya) para pemuka agama, tetapi juga negara-negara dunia pertama yang saling berlomba-lomba dalam mengulurkan pinjaman kepada Indonesia. Mereka tertarik untuk meneliti sekaligus menguak misteri yang tersembunyi dibalik fosil tengkorak tersebut. Mengingat inovasi ini menimbulkan banyak pihak geger – bahkan mengundang aneka macam macam demonstrasi – International Monetary Fund (IMF) pun mengatakan diri dalam membantu melunasi hutang-hutang negara asalkan bukit ini dihancurkan demi meredam paranoia massal. Ditengah-tengah persiapan pemerintah untuk mengeksekusi ajakan IMF, sorot dongeng beralih ke salah seorang karyawan gres di Badan Penelitian Bukit Tengkorak (BPBT) berjulukan Ani (Eka Nusa Pertiwi) yang nyaris dihabisi nyawanya ketika tengah bersantai di kamar kosnya. Beruntung, rencana pembunuhan ini sanggup digagalkan oleh Yos (Yusron Fuadi) yang lantas membawa Ani kabur untuk menghindari kejaran pihak-pihak yang mengincar nyawanya. Dalam pelarian tersebut, misteri yang melingkupi rencana pembunuhan Ani termasuk keterkaitannya dengan Bukit Tengkorak pun secara perlahan tapi niscaya mulai tersibak.


Ditinjau dari premis, Tengkorak sejatinya menyodorkan gagasan yang menggelitik bahkan sanggup dikatakan tergolong cerdas. Yusron Fuadi mengajak kita berandai-andai ihwal reaksi umat insan apabila muncul sebuah temuan besar di Indonesia yang mengungkap kenyataan bahwa ada makhluk lebih superior ketimbang insan di muka bumi. Akankah kita sanggup menerimanya atau justru menyangkalnya? Satu hal yang jelas, inovasi semacam ini berpotensi ditumpangi oleh pihak-pihak berkepentingan dan menimbulkan huru-hara. Dalam beberapa menit awal yang dikemas oleh si pembuat film dalam bentuk montase rekaman wawancara dan berita, Tengkorak berhasil menggaet atensi. Para ilmuwan bertindak, para pemuka agama naik panggung, para mahasiswa turun ke jalan, pemerintah menyembunyikan kebenaran, sejumlah negara ikut ambil cuilan dengan motif terselubung, dan wong cilik tetap duduk anteng di depan televisi seraya menyaksikan kehebohan yang diciptakan oleh manusia-manusia oportunis. Ada ketertarikan yang lantas mencuat dari sini untuk mengetahui: apa yang selanjutnya mungkin terjadi? Memilih topik pembicaraan semenarik ini kemudian mengelaborasinya dengan kata-kata pembuka yang memprovokasi imajinasi, sayangnya Yusron Fuadi justru keteteran dalam menjabarkannya di kalimat-kalimat selanjutnya. Ketimbang bertahan di jalur political thriller yang mempergunjingkan ihwal agresi pemerintah dalam membungkam pihak tertentu demi menjaga stabilitas negara (termasuk menjalankan pasukan bawah tanah), Tengkorak justru mbleber kemana-mana. Tiba-tiba berganti haluan ke percintaan, komedi, hingga laga. Film ini benar-benar mengalami inkonsistensi akut pada nada penceritaan. 

Alhasil, apa yang hendak disampaikan oleh film ini pun kabur karena si pembuat film terlalu kasar untuk memasukkan aneka macam macam elemen ke dalam penceritaan. Ya, ada banyak hal tak terjabarkan, semestinya sanggup dihapus, dan semestinya dimunculkan diantara adegan pembuka yang mengikat dan revealing di penghujung durasi yang berani. Saya sudah mengalami gagal paham sedari Yos membonceng Ani dengan motor menuju ke pelosok desa karena budi bercerita yang dipertanyakan. Kok Ani manut-manut saja ya dibonceng Yos sementara laki-laki tersebut gres saja membunuh seseorang di depan matanya? Apa tidak ada sedikitpun kecurigaan terhadap Yos? Dan mengapa harus ada adegan mereka menghabiskan waktu berdua-duaan dengan durasi cukup panjang disela-sela pelarian ini? Apakah fungsinya sebagai romantic building? Jika betul, mengapa harus ada dan mengapa keduanya harus dipersatukan sebagai pasangan? Pertanyaan-pertanyaan tersebut menggelayuti benak selama beberapa ketika yang kemudian saya pasrahkan ketika Ani dan Yos hingga di sebuah menara. Bukan sebab kesannya terjawab secara tuntas, melainkan muncul seabrek pertanyaan mengusik ketenangan jiwa lainnya (seperti, kenapa Ani tiba-tiba murka kepada Yos padahal sebelumnya mereka baik-baik saja?) ditambah lagi tukar obrolan antar karakternya tak mempunyai signifikansi terhadap pergerakan kisah. Mereka hanya bercanda, bercanda, dan sedikit saja menjabarkan situasi yang tengah dihadapi oleh para aksara dengan niatan memberi kejutan di tamat durasi. 


Kalaupun adegan ngobrol ngalor ngidul di menara ini dipadatkan menjadi 5 menit saja pun tak menjadi soal. Penonton tetap tak akan melewatkan apapun sebab pertanyaan seputar kontroversi serta konspirasi dibalik penghancuran Bukit Tengkorak hanya dicelotehkan sekenanya saja. Kesempatan untuk menyelipkan satir, sentilan sentilun, komentar sosial, atau apalah namanya itu dilewatkan oleh Yusron Fuadi hanya demi memberi ruang tampil bagi lawakan kurang lucu, subplot percintaan yang dipaksakan, hingga adegan yang entah apa tujuannya: seorang wanita yang berlari-lari mencari suaminya di antrian warga yang dievakuasi. Disamping menimbulkan kebingungan pada penonton, imbas dari naskah dan penceritaan yang jauh dari kata rapi ini ialah performa jajaran pemain yang tak stabil. Eka Nusa Pertiwi terang bukan seorang aktris yang buruk, hanya saja delay sangat panjang untuk melampiaskan ketakutan beserta kemarahan terasa sukar buat dipahami. Saya pun tak sanggup menaruh kepedulian kepada Ani maupun Yos sebab konflik psikologis yang mereka hadapi tak pernah lagi dijlentrehkan dan motivasi mereka sepanjang film pun mengawang-awang. Padahal, keduanya mempunyai potensi untuk dikembangkan sebagai aksara kompleks yang menarik. Ani mempunyai duduk kasus di sektor keluarga kemudian sebagai wong cilik yang tak tahu apa-apa malah terseret ke dalam konspirasi besar, sementara Yos memperlihatkan ambiguitas moral terkait keputusannya menyelamatkan Ani. Alih-alih dikembangkan, dua aksara kunci ini justru berakhir tipikal: tindakan Ani acapkali berasal dari dorongan orang lain dan Yos menyelamatkan Ani semata-mata sebab duduk kasus hati (atau ranjang?). Sungguh sangat disayangkan.

Acceptable (2,5/5)