July 2, 2020

Review : Terlalu Tampan

“Ternyata jadi orang ganteng itu nggak praktis ya.”

Sebagai seorang pria bertampang pas-pasan, saya sering melihat ketampanan sebagai suatu berkah. Betapa tidak, ditengah masyarakat yang kerap menghakimi seseorang menurut penampilan fisiknya, pria ganteng sering mendapat privilege. Dari hal paling fundamental ibarat praktis melaksanakan pendekatan dengan wanita yang ditaksir, kemudian kemungkinan dijutekin sama mbak-mbak kasir yang mukanya sering dilipet-lipet kayak kardus pun kecil, kemudian kalau mau beli barang yang harganya agak mahalan dikit eksklusif dipepet sama si SPG (dan nggak dicibir “dih muka susah gitu emang bisa beli?”) hingga praktis dapet panggilan kerja karena foto kinclongnya menguarkan aura meyakinkan alih-alih suram tanpa harapan. Saking seringnya sanggup pengalaman kurang mengenakkan ibarat ini, saya sering mengalami insecure sampai-sampai melontarkan tanya bernada kurang syukur pada Tuhan, “apakah dulu wajah saya ini dicetak dari materi sisa orang-orang ganteng ya?”. Betul, saya pernah terperosok dalam lembah hitam itu selama beberapa saat. Lembah hitam yang membuat rasa percaya diri tiarap. Membutuhkan waktu cukup panjang untuk kembali bangun dan menemukan cara berfaedah supaya berkenan menyayangi diri sendiri secara apa adanya. Itu sulit lho! Saat menonton Terlalu Tampan yang disadur dari LINE Webtoon populer, saya sempat berulang kali dibentuk terkekeh-kekeh. Bukan saja karena filmnya memang kocak, tetapi karena saya juga teringat lagi ke masa-masa suram itu. Dialog “ternyata jadi orang ganteng itu nggak praktis ya” menegaskan bahwa wajah rupawan tak lantas membuat hidup menjadi serba gampang. Pada akhirnya, penerimaan terhadap diri sendiri yaitu solusi terbaiknya.

Kok jadi berat gini ya obrolannya? Gara-gara nebeng curhat sih. Padahal Terlalu Tampan bukanlah tipe film yang akan bikin dahi penonton mengerut gara-gara materi penceritaannya dicuplik dari buku teks kuliah anak filsafat. Sebaliknya, film garapan sutradara pendatang gres Sabrina Rochelle Kalangie (sebelumnya beliau menggarap webseries Filosofi Kopi) ini menghadirkan banyak keceriaan dan kesenangan di sepanjang durasinya. Kalau kau sudah pernah membaca materi sumbernya, tentu mengetahui apa yang bisa diantisipasi dari film ini, dong? Pun begitu, Sabrina beserta tim produksi tak sepenuhnya mencomot mentah-mentah karena mereka turut melaksanakan sejumlah adaptasi termasuk mengubah status si protagonis utama, Witing Tresno Jalaran Soko Kulino alias Mas Kulin (Ari Irham), dari anak sulung menjadi anak bungsu. Dalam versi film, beliau yaitu adik dari Mas Okis (Tarra Budiman), yang gemar tebar pesona kepada para wanita memanfaatkan paras tampannya. Ya, abang beradik ini memang dikaruniai wajah ganteng dan berkah tersebut menurun dari sang ayah, Pak Archewe (Marcelino Lefrandt), yang dulunya pernah memacari 1.200 cewek dan sang ibu, Bu Suk (Iis Dahlia), yang juga… ganteng. Berbeda dengan Mas Okis yang menganggap ketampanannya sebagai berkah, Mas Kulin justru memandangnya sebagai musibah. Gara-gara parasnya yang bisa membuat wanita mengalami mimisan, histeris, serta kejang-kejang, Mas Kulin menentukan menghabiskan sebagian besar waktunya di rumah demi menjaga stabilitas negara. Melihat Mas Kulin tumbuh menjadi remaja antisosial, Bu Suk beserta personil keluarga lain pun merancang sebuah misi supaya si anak bungsu ini bersedia mengenyam pendidikan melalui jalur sekolah umum alih-alih homeschooling.


Yang lantas menjadi sorotan utama dalam guliran kisah Terlalu Tampan bukanlah soal perkembangan misi tersebut melainkan bagaimana si protagonis mencoba menyesuaikan diri dengan dunia luar yang selama ini dijauhinya. Mas Kulin mendapati kenyataan bahwa dunia luar ternyata tidak seburuk perkiraannya usai beliau membentuk ikatan persahabatan dengan Kibo (Calvin Jeremy) dan Rere (Rachel Amanda) yang memperlakukannya ibarat orang normal alih-alih perjaka dengan level ketampanan jauh melampaui rata-rata. Sedari Kulin menjejakkan kaki di luar rumah inilah, film yang telah memulai pemanasan dalam lontaran humor melalui pengenalan abjad “keluarga tampan” secara resmi menggila. Segala absurditas yang biasa kau jumpai pada manga, anime, maupun versi webtoon-nya, divisualisasikan secara efektif oleh Sabrina Rochelle Kalangie. Beberapa diantaranya sudah bisa disimak melalui trailer, tapi penempatan yang lagi-lagi sempurna masih memungkinkan saya untuk tergelak-gelak dalam adegan lebay bin konyol bin asing ibarat ketika Kulin bersama Kibo mengunjungi Sekolah Menengan Atas khusus wanita dan seketika menggegerkan seantero sekolah. Saya masih saja ngikik geli setiap kali teringat pada visual ledakan ibarat gres ditimpa bom atom, bagaimana salah satu siswi tiba-tiba kayang kolam kerasukan, dan tur rumah Kulin. Kocak brooo! Yang menarik pula, film pun mempunyai beberapa momen lucu dengan penempatan yang bisa jadi tidak kau sangka-sangka. Berhubung saya tidak ingin membuyarkan kesenanganmu, maka hanya ada satu petunjuk yang sanggup diberikan, yakni ini berkaitan dengan “tebak-tebakan”. Satu momen paling pecah dalam film yang membuat seisi bioskop serempak tertawa heboh.

Meski Terlalu Tampan beranjak dari sebuah komik online dan film mengandung serentetan momen konyol sebagai pemicu gelak tawa, guliran pengisahannya sendiri enggan mengaplikasikan format “sketsa-cerita-sketsa” ibarat kerap dianut oleh sejumlah film komedi tanah air (khususnya ketika melibatkan komika). Sabrina bersama Nurita Anandia dari departemen skenario menentukan untuk meleburkan humor ke dalam penceritaan, bukannya terputus dari narasi utama kemudian diada-adakan hanya demi memberi pertanggungjawaban kepada penonton karena telah menentukan untuk berdiri di genre komedi. Di sini, keberadaan humor mempunyai konteks, kemunculannya pun memakai teladan karena akibat, serta ada urgensi konkret dari keberadaannya. Beruntungnya lagi, si pembuat film juga mempunyai comic timing mengagumkan. Dia tahu betul kapan seharusnya sebuah guyonan disajikan secara konvensional, dan beliau juga paham betul kapan seharusnya sebuah guyonan dikemas secara over the top (baca: lebay). Ada pertimbangan-pertimbangan dibaliknya, bukan sebatas ingin tampil “heboh gila-gilaan”. Cool, huh? Disamping jago membuat huru-hara di sebagian besar durasinya, Sabrina pun menandakan kapasitasnya dalam meramu momen sentimentil. Sebuah momen yang terang mesti ada mengingat konflik besar yang sedang diperangi oleh Kulin berkaitan dengan pendewasaan dan penerimaan diri. Konflik tersebut mau tak mau harus ditaklukkan si protagonis usai beliau tetapkan untuk mengambil langkah besar dengan keluar dari zona nyamannya dan bersedia membuka diri kepada dunia. Dari konflik ini, terlahir adegan percintaan manis melibatkan video call beserta earphone dan “bincang-bincang bersama Bu Suk” yang tak hanya menghangatkan hati tetapi juga menyadarkan Kulin maupun penonton bahwa selalu ada resiko yang layak diambil untuk sesuatu yang berharga. Deep!

Keberhasilan Terlalu Tampan untuk tersaji sebagai tontonan yang amat menyenangkan tentu tidak semata-mata berkat sensitivitas Sabrina dan Nurita dalam meramu dongeng karena kinerja apik dari departemen-departemen lain turut mempunyai andil sama besar. Ada departemen penyuntingan yang memungkinkan laju penceritaan mengalir secara lincah, ada departemen musik dengan pertolongan fusion music yang memberi keunikan tersendiri pada jiwa film, ada departemen imbas khusus yang membantu mewujudkan imajinasi liar si pembuat film, ada departemen kamera yang mempersembahkan tangkapan-tangkapan gambar ketje (lihat deh bagaimana kamera membingkai adegan ketika Kulin terjerembab di lorong pada hari pertama sekolah!), hingga departemen akting dengan barisan pemain yang menyuguhkan lakon ciamik. Kredit khusus patut disematkan pada Ari Irham dengan segala kecanggungannya, Rachel Amanda dengan perilaku dinginnya, Nikita Willy sebagai Amanda si terlalu anggun dengan keanggunannya, Calvin Jeremy dengan pembawaannya yang asyik banget, Dimas Danang sebagai Sidi si tukang bully dengan kenyelenehannya, dan Iis Dahlia yang membuat saya ingin menjabat tangan tukang casting film ini erat-erat. Sungguh pilihan yang sangat jitu!


Outstanding (4/5)