October 31, 2020

Review : Terminator Genisys


“I’m not a man, not a machine… I’m more!”
Setelah Terminator Salvation babak belur dihajar oleh kritikus dan penonton film, upaya untuk tetap menghidupkan franchise Terminator terus dilakukan meski diterjang banyak sekali problematika di diam-diam (salah satunya, masalah perpindahan hak cipta). Alasannya sederhana: masih ada potensi besar yang terkandung dalam franchise berusia tiga dasawarsa ini untuk mengeruk keuntungan. Jadi, mengapa tidak dilanjutkan? Dengan respon jauh dari kesan hangat di instalmen sebelumnya, maka seri terbaru bertajuk Terminator Genisys ini mencoba mengawali segalanya dari gres – si pembuat film menyebutnya sebagai peremajaan alih-alih sekadar reboot – yang mengacak-acak sedemikian rupa linimasa yang berlaku di jilid-jilid pendahulu sekaligus menggandeng kembali sang ikon dari franchise ini, Arnold Schwarzenegger, untuk berlakon di garda terdepan. Hasilnya? Walau tidak pada tataran kesuksesan X-Men: Days of Future Past yang menjabani hal serupa atau bahkan bangkit tegak di deretan seri terbaik dari franchise ini, setidaknya Genisys masih lebih baik ketimbang Salvation

Memulai penceritaan di tahun 2029, pertempuran antara umat insan yang dikomandoi oleh John Connor (Jason Clarke) dan Skynet hampir mencapai puncaknya dengan kemenangan sanggup dipastikan berada pada genggaman pasukan Connor. Menyadari posisi di ambang kehancuran, Skynet pun tidak tinggal membisu dengan mengirimkan T-800 ke tahun 1984 untuk membunuh ibu John, Sarah Connor (Emilia Clarke), sehingga sang pemimpin pemberontakan tidak pernah dilahirkan ke bumi. Guna menghentikan langkah T-800 memporakporandakan masa depan, John mengutus orang kepercayaannya, Kyle Reese (Jai Courtney), ke tahun yang sama. Jika kau sudah menonton dua jilid awal dari franchise ini, maka tentu mengetahui apa yang akan terjadi berikutnya… atau setidaknya itu yang diharapkan oleh si pembuat film alasannya mereka lantas mengecohmu dengan membubuhkan twist yang mengatakan masa kemudian telah berubah. Sarah bukan lagi gadis lugu, ia mengetahui semua rencana dipersiapkan Kyle, dan paling epik, T-800 (Arnold Schwarzenegger) ternyata telah menjadi pelindung Sarah selama satu dekade. Boom! 

Dibekali pengisahan semacam ini, Genisys berpotensi bermetamorfosis sebagai tontonan mengagumkan, atau dalam bahasa kerennya, mind-blowing. Kentara terasa Alan Taylor mengemukakan premis ambisius ini dengan keinginan bisa menaikkan kembali pamor dari franchise yang sejatinya telah meredup dan sayangnya, tanpa mempertimbangkan secara matang segala bentuk konsekuensinya. Harus diakui, wangsit mengobrak-abrik linimasa dengan menghadirkan semacam alternate timeline memang terbilang sangat menarik (menggugah, malah), tapi jikalau kau tidak tahu cara mengolahnya maka sebaiknya dihindari atau formula kesuksesan ini akan berbalik mencelakaimu… ibarat menimpa Genisys. Skrip hasil olahan bersama Laeta Karogridis dan Patrick Lussier berusaha terlalu keras untuk terlihat ‘cerdas’ dengan memperumit jalinan penceritaan yang mengusung paradoks di dalam penjelajahan waktu sehingga ketimbang memunculkan kesan ‘wow’ malah justru memberi efek memusingkan, membingungkan, serta melelahkan. Menyisakan cukup banyak pertanyaan besar pada benak penonton yang lantas ditinggalkan begitu saja oleh duo Karogridis dan Lussier tanpa ada pembagian terstruktur mengenai memuaskan. Duh. 
Kekacauan di sektor naskah ini untungnya masih sanggup ditutupi oleh kemampuan Alan Taylor dalam mengkreasi serangkaian adegan agresi seru yang ditebar tanpa henti di paruh akhir. Sekalipun tidak mencapai level ‘mahakarya’ atau ‘belum pernah kita lihat sebelumnya’, namun kumpulan baku hantam, kucing-kucingan di jalan raya melibatkan banyak sekali moda transportasi, maupun hingar bingar ledakan ini terhidang cukup intens, berhasil menyeret penonton keluar dari lubang kebosanan dan mencukupi kebutuhan yang dibutuhkan oleh penonton yang mencari hiburan dalam summer blockbuster. Dan oh, masih ada pula humor one-liner renyah yang kebanyakan muncul dari relasi kikuk antara Sarah, Kyle, dan John beserta efek khusus yang sungguh gemilang khususnya tatkala menunjukkan transformasi Terminator ke benda cair (atau sebaliknya) yang semakin memperkuat alasan untuk tidak membenci Genisys sekalipun skripnya begitu kacau balau dan jajaran pemainnya terbilang tak sesuai dalam menginterpretasi tugas masing-masing – pengecualian untuk Arnold Schwarzenegger yang masih terlihat badass sebagai T-800 meski telah tampak begitu uzur dan Jason Clarke yang memunculkan kesan mematikan (pula menjengkelkan) sebagai villain.

Note : ada post-credits scene yang tersimpan di sela-sela bergulirnya end credit.

Acceptable