October 22, 2020

Review : The 5Th Wave


Kejenuhan terhadap film fiksi ilmiah sampaumur yang disarikan dari novel young adult laku kesannya benar-benar saya rasakan kala menonton The 5th Wave di layar lebar. Garapan J Blakeson, pembesut film indie apik The Disappearance of Alice Creed, menurut prosa bertajuk serupa karangan Rick Yancey ini lagi-lagi menganut template “gadis normal yang mendadak menjadi ‘The Chosen One’ untuk menyelamatkan dunia (atau setidaknya spesies tertentu)” menyerupai halnya The Hunger Games, The Host, Divergent, serta beberapa judul lain yang bahkan saya tidak sanggup lagi ingat secara jelas. Ya, The 5th Wave masih menerapkan formula yang sudah mengalami bongkar pasang berulang kali dalam beberapa tahun terakhir dengan hasil bermacam-macam pula. Ketertarikan saya terhadap The 5th Wave pun tercipta semata-mata alasannya yaitu Chloë Grace Moretz (yes, I am a fan!). Jika ada daya pemikat lain, maka itu indikasi Blakeson akan membuat kombinasi menarik antara ‘alien invasion’ dengan ‘disaster movie’ yang sayangnya juga mulai terasa overused belakangan ini. Duh. 

Pada awalnya, Cassie Sullivan (Chloë Grace Moretz) tidak ubahnya gadis Sekolah Menengan Atas kebanyakan yang menjalani hari-harinya dengan sekolah, mengikuti ekstrakurikuler, dan sesekali berpesta. Tidak ada yang istimewa atau absurd dari kehidupannya, semuanya berlangsung normal. Akan tetapi segala kenormalan hidup Cassie seketika terenggut ketika ‘The Others’ – sebutan untuk sepasukan makhluk asing dari planet lain – menginvasi bumi dan mencoba memusnahkan peradaban insan melalui lima gelombang; memadamkan listrik, membuat tsunami, mendatangkan wabah mematikan, dan mengambil alih badan manusia. Kedua orang tuanya meregang nyawa dalam empat gelombang pertama ini, sementara sang adik, Sam (Zackary Arthur), direkrut paksa oleh Angkatan Darat Amerika Serikat bersama remaja-remaja lainnya termasuk teman satu sekolah Cassie, Ben Parrish (Nick Robinson), untuk memerangi para alien guna mencegah munculnya gelombang kelima. Dalam perjalanannya menemukan Sam yang terpisah darinya, Cassie berjumpa dengan Evan Walker (Alex Roe) yang memaparkan fakta mengejutkan – well, anggap saja demikian – tentang para alien. 

Untuk sesaat, The 5th Wave memberi kesan seru pada penonton. Adegan pembuka yang mengatakan kegamangan Cassie pada pilihan ‘menembak atau tidak menembak’ memunculkan sensasi tegang sekaligus secercah keyakinan bahwa film ini mungkin saja akan mewarisi kekuatan tetralogi The Hunger Games. Menit selanjutnya, ketika Blakeson memakai teknik kilas balik untuk mengungkap apa-apa bekerjsama terjadi pada bumi, intensitas pun masih sanggup dirasakan sekalipun pengaruh khusus yang dipergunakan The 5th Wave jauh dari kata mulus (paling faktual kentara dalam penggambaran terjangan tsunami). Ada excitement tersendiri menyimak bagaimana si pembuat film memvisualisasikan kekacauan yang melanda daerah tinggal kita ini dari empat gelombang yang setiap gelombangnya – sekalipun tidak pernah betul-betul mencekat – membuat saya semakin ingin tau untuk mengetahui apa yang akan terjadi selanjutnya. Ya, paling tidak sepanjang 30 menit pertama, The 5th Wave yaitu sebuah tontonan seru dan cukup lezat buat dikudap. 

Tapi sehabis kejadian penembakan itu terjadi, ketegangan (plus daya tarik) film perlahan tapi niscaya mulai menurun. Laju pengisahan yang semula gesit pun berubah lambat berlarat-larat terutama sehabis plot mengalihkan fokusnya pada hubungan sama sekali tidak menarik antara Cassie dengan Evan yang belakangan menimbulkan benih-benih asmara. Kegenerikan The 5th Wave pun kian menjadi-jadi terlebih alasannya yaitu kita tahu bahwa akan ada dongeng cinta segitiga disini antara Cassie, Evan, dan Ben. Dipaksakan? Memang begitulah bahan aslinya. Namun performa lembek dari barisan pemainnya lah – seolah tidak ada niatan sama sekali menghidupkan barisan abjad masing-masing – yang membuat sisa durasi The 5th Wave terasa semakin menyiksa untuk ditonton. Murni hanya Chloë Grace Moretz yang menyumbangkan akting manis disini alasannya yaitu jajaran pemainnya, well, terlihat begitu kebosanan setengah mati sehingga chemistry pun mangkir khususnya pada interaksi lempeng Cassie-Evan. Duh. 

Tanpa adanya kepedulian terhadap setiap abjad dan guliran pengisahan yang kian menjemukan dari menit ke menit, bagaimana mungkin Blakeson mengharapkan selera penonton pada The 5th Wave tetap tinggi hingga ujung durasi? The 5th Wave tak ubahnya makan malam di suatu restoran glamor yang hanya menarik hati di entree, sementara main course dan dessert-nya terasa sangat hirau taacuh pula gampang dilupakan sehingga besar lengan berkuasa pula ke sensasi menyantap hidangan secara keseluruhan.

Acceptable (2,5/5)