October 20, 2020

Review : The Age Of Adaline


“Tell me something I can hold on to forever and never let go.”
Sepintas, gagasan mempunyai kehidupan awet dengan fisik enggan menua terdengar bagaikan mukjizat alasannya ialah kau memperoleh banyak kesempatan untuk mewujudkan mimpi tanpa dikekang oleh sempitnya waktu. Akan tetapi, bagaimana bila ternyata diperkenankan mengarungi kehidupan lintas dekade tidaklah seindah yang dibayangkan? Dengan keistimewaan hanya sanggup dirasakan oleh diri sendiri, secara otomatis ada paksaan untuk merelakan kepergiaan orang terkasih waktu demi waktu… dan ini lebih menyiksa, bahkan menakutkan, dibanding menua. Bukan begitu? Paling tidak persis menyerupai itulah perasaan Adaline Bowman (Blake Lively) di The Age of Adaline. Saat banyak insan mendamba kehidupan abadi, Adaline justru menganggapnya sebagai kutukan karena pengalaman hidup selama puluhan tahun berujung pada satu kesimpulan: tidak mungkin menggenggam bersahabat cinta sejati tatkala cepat atau lambat cinta tersebut akan terlepas sementara dirinya tetap berada dalam keabadian yang akan menuntunnya kepada cinta yang lain. 

Ya, Adaline tidak pernah benar-benar merasakan nikmatnya cinta sejati karena kondisi memaksanya untuk senantiasa berpindah daerah tinggal setiap sepuluh tahun demi menghindari kecurigaan pihak-pihak tertentu yang dipicu oleh satu pertanyaan, “bagaimana mungkin seorang perempuan yang telah berusia hampir setengah kala tetap terlihat menyerupai perempuan berumur 29 tahun tanpa ada kerutan atau bercak-bercak di wajah?.” Semenjak sebuah kecelakaan kendaraan beroda empat yang nyaris merenggut nyawanya, badan dan fungsi organ Adaline memang enggan menua yang semenjak ketika itu pula kata normal terhapuskan dari kamusnya dengan dihadapkannya pada fakta beliau akan kesulitan membangun kesepakatan dalam kekerabatan percintaan dan putri semata wayangnya, Flemming (Ellen Burstyn), pun memasuki usia uzur jauh lebih cepat dari dirinya. Seolah duduk kasus belum cukup menderanya, seorang laki-laki karismatik berjulukan Ellis (Michiel Huisman) memasuki kehidupannya, membuatnya jatuh hati, sekaligus membawanya kembali ke masa kemudian yang telah dihempaskannya. 

Tidak ada rangkaian kata-kata yang lebih sempurna untuk mendeskripsikan The Age of Adaline selain kisah yang dilantunkan begitu indah, menyentuh, sekaligus romantis. Lee Toland Krieger selaku pemimpin orkestra telah menyihir penonton semenjak menit pembuka melalui jalinan pengisahan pengundang rasa ingin tau dengan nuansa kisah begitu pekat dari visual dan iringan musik. Walau secara garis besar inspirasi yang ditawarkan oleh duo penulis skrip J. Mills Goodloe beserta Salvador Paskowitz tidak memperlihatkan terobosan mencengangkan – dan rentetan klarifikasi ilmiah untuk situasi asing yang menimpa Adaline berkesan terlalu dipaksakan kemunculannya – namun tetap saja sulit menampik pesona menghanyutkan dari The Age of Adaline. Bagaimana ujung perjalanan cinta seorang Adaline memang tidak terlalu sulit diterka sedari awal (terlebih, film ini patuh pada jalur romansa dan menghindari formula tontonan tearjerker), daya tarik utamanya justru terletak dalam proses yang dilalui oleh Adaline demi merasakan setidaknya setetes kebahagiaan sehabis pelarian demi pelarian. 
Adanya kepedulian penonton untuk mengetahui nasib Adaline merupakan faktor penentu utama keberhasilan The Age of Adaline. Seiring berlalunya durasi, kita dibawa mengarungi sederet fase perasaan dari si tokoh utama; kesedihan, kehampaan, ketakutan, keputusasaan, sampai kebahagiaan, secara silih berganti yang diinterpretasikan begitu mencengkram oleh Blake Lively dalam lakon terbaiknya sepanjang karir. Belum pernah istri Ryan Reynolds ini terlihat sedemikian charming yang memunculkan kesan elegan dan cerdas di layar sehingga jatuh cinta kepada huruf yang dimainkannya merupakan keniscayaan. Sang pasangan dalam film, Michiel Huisman, memang kurang bisa mengimbangi kecemerlangan Lively, tapi hey, ada performa kelas kakap dari Harrison Ford yang memberi penonton kejutan dengan memperlihatkan sisi rapuhnya tatkala kenangan pahit yang coba dihapuskannya mendadak menyembul tanpa dikomando sempurna di matanya. Kecermelangan Blake Lively dan Harrison Ford dalam berlakon ini menggoreskan cita rasa berpengaruh pada emosi di The Age of Adaline yang pada kesannya mencoba mengajukan pertanyaan “apakah kau masih mengharap keabadian kepada Sang Maha mempertimbangkan bagus pahitnya kehidupan Adaline?” kepada setiap penontonnya. Sungguh menarik.

Exceeds Expectations