October 29, 2020

Review : The Amazing Spider-Man


We all have secrets. The ones we keep, and the ones that are kept from us.” – Peter 



Batalnya pembuatan Spider-Man 4 menciptakan para direktur di Sony Pictures terpaksa untuk mengalihkan proyek dari yang semula berupa sekuel menjadi reboot. Reboot? Apa tidak terlalu cepat untuk me-reboot sebuah film yang gres saja dirilis 10 tahun silam dengan film terakhir dirilis 5 tahun lalu? Sebuah ide yang sangat gila. Ya, terkesan terburu-buru memang. Bahkan dalam jajaran sutradara dan pemain pun mengalami perombakan total sehabis Sam Raimi memutuskan untuk hengkang dari proyek menyusul batalnya pembuatan seri keempat dari si insan laba-laba yang kelewat ruwet dalam proses pengembangannya. Absennya Raimi, plus Tobey Maguire, menciptakan para fans dan penikmat film mewaspadai reboot bertajuk The Amazing Spider-Man ini, terutama bagi yang sudah kadung terpesona dengan style Raimi. Belum juga dirilis, nada sumbang tentang film ini terdengar dimana-mana. Para pembenci Marvel bersorak sorai, sementara tidak sedikit dari fans yang mengeluh dan memunculkan nada pesimistis. Tapi bukankah terlalu cepat menghakimi sementara filmnya sendiri belum rilis? Dan apakah memang Marc Webb tak bisa menggantikan Sam Raimi? Well, dari apa yang saya lihat semalam, dimana saya duduk selama 130 menit dalam kegelapan dengan mengenakan kacamata 3D yang bersama-sama sangat menyebalkan, keraguan yang selama ini melekat di badan The Amazing Spider-Man sama sekali tak terbukti. Malah, The Amazing Spider-Man yaitu yang terbaik kedua dalam seri film Spider-Man sehabis Spider-Man 2


Mengingat ini yaitu sebuah reboot, maka jalinan kisah pun kembali ke awal. Akan tetapi, Anda hening saja. Versi dari Webb ini tak sama persis dengan Raimi. Masih banyak sisi dongeng dari awal mula kelahiran Spider-Man yang bisa digali dengan pendekatan yang berbeda. Di dalam The Amazing Spider-Man, Webb menawarkan aksentuasi lebih dalam terhadap riwayat masa kecil Peter Parker (Andrew Garfield) sampai beliau berkembang menjadi cendekia balig cukup akal nerd yang kerap di-bully di sekolahnya. Kita diperkenalkan kepada kedua orang renta Peter, Richard Parker (Campbell Scott) dan Mary Parker (Embeth Davidtz), yang pergi meninggalkan Peter secara misterius dan menitipkannya kepada Uncle Ben (Martin Sheen) dan Aunt May (Sally Field) yang lantas merawat Peter sampai tumbuh remaja. Oia, tak ada Mary Jane dalam film ini. Sebagai gantinya, dihadirkan Gwen Stacy (Emma Stone) yang dalam versi komik merupakan cinta pertama dari Peter. Tokoh ini sempat muncul dalam Spider-Man 3 sebagai orang ketiga dalam korelasi Peter dan MJ, namun disini beliau menjadi satu-satunya wanita yang mengisi hati Peter Parker. Transformasi dari seorang cendekia balig cukup akal nerd berotak cemerlang menjadi pahlawan yang dipuja puji banyak orang dimulai ketika Peter menemukan sebuah koper milik ayahnya yang berisi berkas-berkas yang kemudian mengantarkan Peter ke sebuah laboratorium inovasi berjulukan Oscorp dimana sang pujaan hati, Gwen, bekerja paruh waktu. Guna menemukan sejumlah data serta menemui kolega sang ayah, Dr. Curtis Connors (Rhys Ifans), Peter pun menyusup ke Gedung Oscorp. 

Ketika sedang melaksanakan ‘penyelidikan’, tanpa sengaja Peter tersengat laba-laba elektrik yang telah dimodifikasi secara genetik oleh Dr. Curtis Connors dan sang ayah guna sebuah proyek regenerasi DNA yang diminta oleh Dr. Rajit Ratha (Irrfan Khan). Seperti yang telah Anda semua ketahui, sehabis mendapat gigitan laba-laba, Peter pun mulai mencicipi efek sampingnya. Dia mendapat kekuatan laba-laba. Pada awalnya beliau memergunakan hal ini untuk bermain-main, layaknya cendekia balig cukup akal kebanyakan, sekaligus membalas dendam kepada Flash Thompson (Chris Zylka) yang kerap mem-bully-nya. Namun segalanya berubah sehabis sang paman, Ben, tewas tertembak oleh seorang perampok toko. Dilingkupi amarah dan dendam membara, Peter pun membasmi para kriminal guna menemukan si pembunuh dengan menggunakan sebuah kostum yang terinspirasi dari seorang pegulat, yang kemudian dikembangkannya menjadi kostum non-spandex yang ketat dengan pemanis kacamata hitam plus web shooter. Sayangnya, alih-alih mendapat apresiasi, NYPD justru mengecam tindakan Spider-Man yang dianggap oleh kepala kepolisian sekaligus ayah Gwen, Captain Stacy (Denis Leary), sebagai tindakan anarkis. Belakangan tujuan Spidey pun tak lagi sekadar misi balas dendam sehabis menyadari besarnya tanggung jawab yang harus dipikul dengan kekuatan yang dimilikinya. Misinya berganti haluan menjadi melindungi warga New York. Hal ini terutama dipicu sehabis hadirnya The Lizard, sebuah monster ganas berbentuk kadal raksasa, yang mengancam keselamatan warga. 

Sungguh melegakan sehabis mengetahui bahwa segala macam keraguan yang selama ini disematkan kepada film ini ternyata tak terbukti. Saya mendapat 130 menit yang sangat menyenangkan di dalam bioskop. Saking menyenangkannya, kacamata 3D yang biasanya sangat tidak nyaman untuk dikenakan sekali ini nyaris tak berasa. Marc Webb melaksanakan tugasnya dengan sangat baik. Dia melaksanakan segalanya dengan cara beliau sendiri, menghasilkan Spider-Man versi Webb, tak terlihat adanya upaya untuk mengopi langkah-langkah Raimi. Naskah yang dikerjakan secara keroyokan oleh James Vanderbilt, Alvin Sargent, dan Steve Kloves – penulis naskah di versi film Harry Potter – bisa meringkas perjalanan hidup Spidey dengan tangkas, cerdas, dan cermat. Alur kisahnya sendiri beranjak dari komik The Ultimate Spider-Man dan beberapa komik lainnya yang dicampur menjadi satu namun tanpa menghilangkan esensi kisahnya itu sendiri. Webb telah memelajari kesalahan Raimi yang menempatkan lebih dari satu villain dalam Spider-Man 3 yang berakibat kepada goyahnya alur dongeng dan film pun lepas kendali karena tidak terperinci siapa yang hendak dijadikan fokus utama. Dalam The Amazing Spider-Man, musuh yang harus dihadapi oleh Spider-Man hanya berpusat kepada The Lizard. 

Yang membedakan The Amazing Spider-Man dengan Spider-Man jilid awal versi Raimi yaitu Webb menawarkan aksentuasi lebih kepada masa kemudian Peter Parker serta korelasi romansanya dengan sang love interest. Webb tak ingin film keduanya ini hanya berisi adegan agresi penuh baku hantam dan ledakan dimana-dimana yang kosong dan tak meninggalkan kesan apapun. Apa yang dilakukan oleh sang sutradara yaitu berusaha untuk tetap memertahankan cita rasa komik di dalam film, termasuk menonjolkan kisah kasih dari si insan laba-laba. Yup, yang membedakan superhero kreasi Stan Lee dan Steve Ditko ini dengan superhero lain dari Marvel dan DC yaitu kentalnya unsur romantis di dalamnya. Maka tidak heran jikalau korelasi Peter dan Gwen mendapat sorotan lebih dibanding jilid sebelumnya. Mempunyai pengalaman dalam menghasilkan film romantis apik, (500) Days of Summer, menciptakan Webb tak kagok ketika diminta untuk menghasilkan momen-momen istimewa yang manis tanpa harus terlihat cheesy dan tacky. Chemistry antara Andrew Garfield dengan Emma Stone pun terasa luar biasa. Sangat padu, believable, dan cantik. 

Casting yang tepat menjadi salah satu resep kesuksesan dari film ini. Andrew Garfield menginterpresentasikan Peter Parker dengan menelusuri masa lalunya yang kelam serta ambisi-ambisi yang ingin dicapainya. Bagaimana Peter merasa dicampakkan oleh orang tuanya, sampai kemudian tumbuh sebagai cendekia balig cukup akal dengan otak brilian namun kerap mendapat perlakuan tak mengenakkan. Saat seseorang yang dikasihinya kembali direnggut darinya, kemarahan dan rasa benci menguasai dirinya. Garfield memotretnya dengan sempurna, sanggup menciptakan penonton merasa bersimpati kepada Peter. Bukan berarti Tobey Maguire gagal dalam menghidupkan sosok Peter dan Spidey, keduanya sama hebatnya dalam tataran yang berbeda. Hanya saja, di tangan Garfield, saya merasa lebih terkoneksi dengan sang superhero sampai sanggup turut mencicipi bagaimana rasa sakit yang dialaminya. Cara Garfield untuk tetap memertahankan tingkah laris Spidey yang ‘smartass’ pun patut mendapat acungan jempol. Emma Stone pun sangat cocok memerankan Gwen Stacy, sementara barisan pendukungnya ibarat Rhys Ifans, Irrfan Khan, Denis Leary, Chris Zylka, Martin Sheen, Sally Field, Campbell Scott, Embeth Davidtz, sampai Max Charles dan C. Thomas Howell jauh dari kata mengecewakan. Kehadiran mereka semakin menguatkan posisi Garfield dan Stone. 

Pada akhirnya, saya akan menyampaikan bahwa The Amazing Spiderman is amazing. Seperti biasa, produk Marvel memang jarang mengecewakan. Marc Webb sanggup mengembalikan franchise ini kembali ke jalan yang benar sehabis sebelumnya sempat lepas kendali dalam Spider-Man 3. Kisahnya lebih kelam dengan duduk kasus psikologis yang dihadapi oleh Peter serta plotnya yang lebih humanis dan penuh dramatisasi, lebih romantis dengan kisah cinta Peter dan Gwen yang unyu-unyu menggemaskan, dan lebih lucu dengan Spidey yang kerap melontarkan dialog-dialog asyik ketika beraksi. Anda pun tak usah mewaspadai adegan aksinya. Tetap seru dengan ekspo efek visual yang mencengangkan terlebih film ini menggunakan kamera 3D mutakhir di bawah pengawasan James Cameron eksklusif sehingga adegan Spidey bergelantungan di antara gedung-gedung pencakar langit terasa lebih nyata. Dengan semua keunggulan yang dimiliki, The Amazing Spider-Man hanya kalah tipis dari Spider-Man 2. Penerjemahan ulang yang dilakukan oleh Webb dalam memerlihatkan transformasi Peter dari seorang cendekia balig cukup akal biasa menjadi seorang superhero sungguh luar biasa. Lebih bagus, dan lebih detil tentunya, dari apa yang dilakukan oleh Raimi. Tidak ada alasan untuk tidak menonton The Amazing Spiderman. It’s wortch watching, trust me. Go see it in 3D.

Note : Setelah adegan terakhir yang cakep, jangan terburu-buru meninggalkan gedung bioskop. Seperti biasa, Marvel menyisipkan sebuah post-credit scene yang merupakan petunjuk penting untuk film berikutnya. 

2D atau 3D? 3D. Anda tidak akan menyesalinya. 

Outstanding