October 31, 2020

Review : The Artist

Sesuatu yang masuk akal kalau kita menyebut Michel Hazanavicius sebagai sutradara sinting REVIEW : THE ARTIST

I won’t talk! I won’t say a word!” – George Valentin


Sesuatu yang masuk akal kalau kita menyebut Michel Hazanavicius sebagai sutradara sinting. Bagaimana tidak, di masa ketika para sineas dunia mengeksplorasi kecanggihan teknologi dengan pemanfaatan 3D serta imbas khusus secara gila-gilaan, Hazanavicius justru nekat membesut sebuah film bisu dan hitam putih. Sebuah pertaruhan yang sangat berani. Siapa yang rela menyisakan waktu dan uangnya demi menyaksikan sebuah film hitam putih nan bisu selain para kritikus dan penggila film? Rasanya, The Artist pun tidak akan sepopuler kini apabila Academy tidak mengganjarnya dengan 5 piala Oscar, termasuk
Film Terbaik. Bukan bermaksud pesimis, hanya mencoba untuk bersikap realistis. Ketika 21 Cineplex merilisnya di bioskop-bioskop besar jaringannya, masih dirasa perlu bagi mereka untuk mencantumkan peringatan kepada calon penonton melalui poster, “film ini hitam putih dan tanpa dialog”, sebagai antisipasi semoga insiden “ganti rugi alasannya ialah merasa tertipu” mirip yang terjadi di Inggris tidak kembali terulang. Dengan peringatan mirip ini, belum apa-apa banyak masyarakat yang merasa terintimidasi. Sungguh disayangkan, padahal The Artist ialah sebuah film yang luar biasa indah.

The Artist membahas mengenai masa kejayaan film bisu, masa transisi ke film bersuara sampai bagaimana seorang bintang film film bisu menyikapi masa transisi ini. Aktor film bisu yang dimaksud ialah George Valentin (Jean Dujardin), seorang bintang film yang ibarat George Clooney di masa kini yang film-filmnya senantiasa mencetak box office dan para penggemar mengelu-elukannya. Hidupnya dapat dibilang sempurna, ia telah memiliki semua apa yang dibutuhkan. Entah alasannya ialah sombong atau tak siap, ketika pemilik studio, Al Zimmer (John Goodman), mengutarakan niatnya untuk menciptakan film bersuara, Geroge Valentin justru tak menganggapnya serius. Dia tetap keukeuh bahwa film bisu masih diminati. Didepak dari studio, George Valentin menciptakan film bisunya sendiri di tengah terjangan film bersuara yang digila-gilai. Anak didiknya, Peppy Miller (Berenice Bejo), kian melejit karirnya, sementara Valentin perlahan mulai dilupakan sehabis filmnya flop. “Saatnya memberi jalan pada yang muda,” begitu ujar Peppy. Hidupnya pun hancur. Istri yang dicintainya, Doris (Penelope Ann Miller) pergi meninggalkannya. Hanya anjing peliharaannya, Jack, dan si supir, Clifton (James Cromwell) yang masih setia mendampingi.

Pernahkah Anda menitikkan air mata ketika menonton sebuah film alasannya ialah saking indahnya? Saya pernah beberapa kali, dan The Artist ialah salah satunya. Film isyarat sutradara Prancis, Michel Hazanavicius, ini tidak hanya indah, tetapi juga unik, cerdas, lucu, lembut, dan menyentuh. Tanpa perlu memaksa para pemainnya merengek-rengek sesenggukan, air mata penonton tetap berhasil tumpah. Bahkan untuk pertama kalinya, di bioskop Semarang, aku menyaksikan dengan mata kepala aku sendiri bagaimana The Artist mampu menciptakan sebagian besar penonton terharu dan, yang lebih luar biasa lagi, memperlihatkan standing ovation sehabis film berakhir! Sebuah pemandangan yang langka. Tidak menyangka efeknya akan sebesar itu. Hanya dengan bermodalkan cerita yang sederhana dan intertitle sebagai pengganti dialog, Hazanavicius mampu menciptakan penonton terkoneksi dengan film arahannya. Sekalipun ini ialah film bisu, bukan berarti The Artist sepi total yang menjadikan bunyi Anda ketika berbisik di dalam studio terdengar bagaikan Dolby Digital. Musik gubahan Ludovic Bource yang menawan menemani sepanjang perjalanan Anda menyaksikan sekelumit sejarah film bisu.

Beruntung The Artist diperkuat oleh pemain-pemain yang hebat. Jean Dujardin mampu mengaduk-aduk emosi penonton, memperlihatkan perasaan yang tidak menentu kepada Valentin. Terkadang ia ialah sebuah abjad yang menyenangkan, tetapi terkadang menyebalkan luar biasa terutama ketika ia menolak bergabung dengan generasi anyar, namun ia pun sebetulnya patut dikasihani. Pesonanya yang berpengaruh mengingatkan pada Humphrey Bogart dan Douglas Fairbanks. Sementara Berenice Bejo tampil enerjik sebagai gadis muda penuh mimpi yang ceria dan menyenangkan, Peppy Miller. Bintang pendukungnya tidak terlalu menonjol alasannya ialah tertutup oleh pesona Dujardin dan Bejo, kecuali Uggie yang memerankan Jack si anjing yang sangat setia kepada majikannya. Mungkin bagi sebagian penonton akting dari Dujardin maupun Bejo terkesan berlebihan, dan naskahnya pun klise tiada tara kolam melodrama kebanyakan. Jika Anda termasuk salah satunya, ada baiknya menjajal ‘film bisu beneran’ terlebih dahulu sebelum menyaksikan The Artist. Ini ialah sebuah homage terhadap masa film bisu yang terbungkus elegan dan berusaha untuk setia kepada ‘tuannya’ layaknya Clifton dan Jack.

Salah satu wujud kesetiaan Hazanavicius nampak pada tempo film yang mengalir ringan menyenangkan kolam film bisu Hollywood tahun 1920-an, sekalipun ini sebetulnya ialah produksi Prancis yang terkenal lambat dalam menuturkan alur film-filmnya. Selain itu, film ini pun dibentuk memakai aspek rasio layar 1.33:1 yang umum dipakai oleh film bisu. Dan aku ingin menyampaikan kepada para pembaca yang budiman bahwa aku tidak sekalipun mengintip jam tangan! Bukti bahwa aku sangat menikmati film ini. Rasanya aku ingin menontonnya lagi, lagi, dan lagi. Sayangnya belum sempat saya mewujudkan impian saya, The Artist sudah tergusur dari bioskop. Menontonnya ulang di layar laptop atau televisi tidak akan memperlihatkan pengalaman menonton yang sama. The Artist lebih yummy dinikmati di layar bioskop. Sungguh pedih melihat film sebrilian ini kurang diminati oleh masyarakat hanya alasannya ialah ini ialah ‘film bisu dan hitam putih’. Cobalah terlebih dahulu, Anda dijamin tidak akan menyesalinya. Bukankah ada pepatah yang menyampaikan bahwa ‘silence is golden’? Dan pepatah itu cocok sekali diberikan kepada The Artist. What a wonderful movie to celebrate cinema!

Outstanding

Sesuatu yang masuk akal kalau kita menyebut Michel Hazanavicius sebagai sutradara sinting REVIEW : THE ARTIST