November 28, 2020

Review : The Autopsy Of Jane Doe


“All these mistakes, my mistakes, and you had to pay for them.” 

Seperti halnya Last Shift yang sempat mampir di bioskop tanah air tahun lalu, nasib The Autopsy of Jane Doe sanggup dibilang apes. Betapa tidak, mengingat jajaran pelakon utamanya bukanlah nama sembarangan, sang sutradara punya jejak rekam membanggakan dimana karya sebelumnya yakni Trollhunter disambut sangat hangat oleh para pecinta film horor dunia, dan premis usungannya terdengar menggoda, film ini tidak pernah memperoleh kesempatan untuk dipertontonkan secara luas. Selepas diperkenalkan pertama kali ke khalayak melalui Toronto International Film Festival, The Autopsy of Jane Doe lantas menyapa penikmat tontonan menakutkan hanya melalui rilisan secara terbatas di bioskop, streaming platform, dan home video. Nyaris tiada terdengar gaungnya. Dugaan yang lantas muncul, apakah ini berarti film arahan André Øvredal tersebut memiliki mutu kurang baik sampai-sampai pihak biro emoh menggelontorkan dana besar untuk promosi dan perilisan? Tapi, (lagi-lagi) menyerupai halnya Last Shift, kualitas bukanlah alasan utama yang melatarbelakangi alasannya kenyataannya kedua judul ini – khususnya The Autopsy of Jane Doe – merupakan harta karun tersembunyi yang sebaiknya tidak dilewatkan begitu saja oleh para pecinta film horor. 

Judul dari film ini merujuk pada sesosok jenazah wanita manis tanpa identitas (Olwen Catherine Kelly) yang ditemukan setengah terkubur di ruang bawah tanah dari sebuah rumah yang menjadi TKP pembunuhan. Sheriff Sheldon (Michael McElhatton) yang ditugaskan untuk menilik kasus gila ini lantas membawa jenazah si wanita yang diberi nama Jane Doe pada hebat otopsi setempat, Tommy Tilden (Brian Cox) dan putranya Austin (Emile Hirsch), demi mengungkap penyebab kematiannya. Menguak pemicu tewasnya Jane Doe nyatanya tidaklah semudah membalikkan telapak tangan alasannya jenazah Jane Doe terang bukanlah jenazah biasa. Setidaknya ada tiga kejanggalan yang berhasil diendus oleh Tommy. Pertama, tidak ditemukan adanya gejala luka atau trauma dalam badan mayat. Kedua, badan korban mengindikasikan bahwa waktu ajal gres saja terjadi sementara mata korban menyatakan bahwa waktu ajal telah berlangsung beberapa hari silam. Dan ketiga, beberapa kepingan dalam badan mengalami kerusakan tanpa meninggalkan bekas luka di kepingan luar. Tatkala mencoba menggali lebih dalam mengenai kebenaran dibalik tewasnya Jane Doe inilah baik Tommy maupun Austin harus menghadapi banyak sekali insiden yang sulit dijelaskan oleh nalar.

Dalam membangkitkan bulu kuduk penonton di The Autopsy of Jane DoeAndré Øvredal kerap bermain-main dengan atmosfir yang membuat rasa tidak nyaman. Sukar untuk sanggup duduk di bangku bioskop tanpa dirongrong perasaan gelisah dikala pemandangan yang terhampar di layar yakni lift sempit yang menjadi susukan satu-satunya untuk keluar masuk, lorong panjang dengan pencahayaan temaram, dan ruang otopsi penuh jenazah yang bertempat di ujung dari sebuah basement. Belum apa-apa, si pembuat film telah membuat nuansa klaustrofobik yang mencekat. Lalu tambahkan semua hal-hal mengganggu ini dengan jenazah Jane Doe. Yang belum dijabarkan di sinopsis – tapi sanggup diketahui melalui poster – yakni mata si jenazah yang senantiasa terbuka. Coba bayangkan dirimu dalam posisi keluarga Tilden: mengautopsi jenazah yang matanya seperti tengah memandang ke arahmu di suatu ruangan tertutup di bawah tanah. Mengerikan? Jelas. Terlebih, asal muasalnya belum diketahui secara pasti. The Autopsy of Jane Doe berasa sedap buat disimak bukan saja alasannya kepiawaian sang sutradara dalam membuat rasa ngeri akhir kegelisahan tetapi juga berkat pekatnya misteri yang melingkungi guliran pengisahan. 

Ditengah ketidaknyamanan, kita turut dibentuk bertanya-tanya mengenai identitas dari Jane Doe. Siapakah beliau sebenarnya? Apakah beliau memiliki keterkaitan dengan pembunuhan yang ditangani oleh Sheriff Sheldon? Apa penyebab utama kematiannya? Mengapa tidak ditemukan gejala semacam luka atau trauma yang umumnya muncul pada mayat? Rentetan pertanyaan ini merupakan pisau bedah utama yang dipergunakan oleh André Øvredal guna menjerat atensi penonton biar berkenan mengikuti jalannya film hingga tutup durasi. Munculnya sejumlah insiden ganjil di ruang otopsi menyerupai kanal radio yang mendadak berubah dengan sendirinya sanggup dikata efektif membantu tingkatkan kengerian, namun begitu film lepas dari babak kedua yang ditandai tersibaknya misteri, The Autopsy of Jane Doe tidak lagi semencekam paruh awalnya. Penyebabnya, perpaduan antara klasifikasi tanggapan kurang memuaskan (sempat nyeletuk, “yah… begini lagi!”) dan kebergantungan André Øvredal terhadap jump scares receh. Bukannya jelek toh intensitasnya masih sanggup dirasakan, hanya saja jauh dari kesan istimewa menyerupai langkah awalnya karena sejumlah trik menakut-nakutinya telah cukup sering diterapkan di film sejenis. Cukup mengecewakan memang, tapi untungnya tak hingga menodai film secara keseluruhan. The Autopsy of Jane Doe tetaplah salah satu ‘harta karun tersembunyi’ bagi penikmat tontonan seram.

Exceeds Expectations (3,5/5)