October 20, 2020

Review : The Avengers

“Superheroes? In New York? Give me a break!”
 
Jaga kondisi fisik serta uang di dalam dompet Anda baik-baik alasannya yaitu dengan munculnya The Avengers di bioskop-bioskop seluruh Indonesia merupakan tanda bahwa parade film-film demam isu panas telah resmi dimulai! Tahun ini akan terjadi pertarungan yang sungguh menarik. Apakah demam isu panas tahun 2012 akan menjadi demam isu panas yang menyenangkan atau malah justru menjemukan? Joss Whedon melalui The Avengers telah menetapkan sebuah standar yang tinggi di babak awal yang mau tidak mau kudu dilampaui oleh film blockbuster lainnya apabila ingin keluar sebagai pemenang. Lupakan saja Battleship yang sudah mencuri start jauh-jauh hari, patokan film demam isu panas yang sebetulnya dimulai dari The Avengers. Saat Anda melihat poster atau trailernya secara sekilas, jangan keburu menghakimi, alasannya yaitu percayalah Anda tidak tahu apa yang akan Anda dapatkan sebelum menjajalnya. Bahkan saya pun ditampar oleh Whedon dengan amat keras karena terlanjur skeptis jauh sebelum filmnya dirilis. Yang bisa saya katakan kepada Anda adalah, The Avengers memang bukanlah film yang sempurna, bukan pula film superhero yang terbaik, akan tetapi Joss Whedon tahu betul bagaimana cara memerlakukan sebuah film yang beranjak dari komik dengan sepatutnya. 

The Avengers bisa dibilang sebagai versi All-Stars dari superhero-superhero binaan Marvel Comics yang lahir dari ajaran kreatif Opa Stan Lee dan almarhum Jack Kirby. Menggabungkan beberapa tokoh yang telah mempunyai nama serta basis fans yang berpengaruh ke dalam satu film memang bukanlah kasus yang simpel terutama dalam kaitannya menunjukkan kepuasan kepada para fans. Yang kerap menjadi sumber permasalahan utama yaitu pembagian jatah screentime yang tidak merata sehingga fans dari sejumlah tokoh yang menjadi ‘korban’ pun mengamuk. Inilah tantangan yang kudu dihadapi oleh Joss Whedon. The Avengers menggabungkan beberapa tokoh komik populer macam Tony Stark aka Iron Man (Robert Downey Jr.), Steve Rogers aka Captain America (Chris Evans), Dr. Bruce Banner aka Hulk (Mark Ruffalo), Thor (Chris Hemsworth), Natasha Romanoff aka Black Widow (Scarlett Johansson), dan Clint Barton aka Hawkeye (Jeremy Renner). Jika Anda menonton film-film pembiasaan komik Marvel sebelumnya sampai tuntas, tentu Anda mengetahui kebiasaan mereka dalam menyelipkan post-credit scene di pertengahan atau penghujung film. Nah, keterkaitan adegan-adegan bonus tersebut dengan plot utama menemui titik temunya disini. Samuel L. Jackson yang tampil paling rutin di Marvel Cinematic Universe menjadi tokoh kunci. Beberapa adegan bonus tersebut dimanfaatkan Whedon yang membesut post-credit scene di Thor untuk mengawali kisah. 

Kemunculan tim yang beranggotakan orang-orang berkostum asing ini dimulai ketika Loki (Tom Hiddleston), saudara tiri Thor, kembali ke bumi untuk membalas dendam atas perlakuan Thor yang membuatnya kehilangan tahta di Asgard. Demi memuluskan rencananya dalam menghancurkan bumi, Loki mencuri Tesseract yang konon merupakan sumber energi yang terbatas – untuk mendapat informasi lebih lanjut mengenai apa dan bagaimana benda ini bekerja, ada baiknya Anda menyaksikan Captain America: The First Avengers terlebih dahulu. Konon, Tesseract disimpan oleh S.H.I.E.L.D. di sebuah laboratorium milik mereka yang lokasinya boleh dikatakan jauh dari peradaban. Dengan kekuatan yang dimilikinya, Loki berhasil menembus sistem pengamanan dengan mudah, menggondol Tesseract dan memengaruhi Hawkeye serta Erik Selvig (Stellan Skarsgard) sehingga mereka membelot kepada S.H.I.E.L.D. Ancaman meletusnya perang dunia yang maha dahsyat jawaban ulah Loki inilah yang mendasari eksekutif S.H.I.E.L.D., Nick Fury (Samuel L. Jackson) untuk membentuk sebuah tim berjulukan Avengers yang terdiri dari sekumpulan insan (dan satu dewa) berkekuatan super. Sekalipun mereka mempunyai satu misi satu tujuan, rupanya menggabungkan sejumlah orang berkarakter ‘Alpha’ ke dalam satu tim bukanlah hal yang gampang. Masing-masing mempunyai ego tinggi yang saling dikedepankan dengan ajaran yang seringkali tidak sejalan. Pada akhirnya, saling silang pendapat pun mengakibatkan friksi diantara anggota tim. 

Konflik internal yang melanda Avengers ini pun menjadi sebuah suguhan yang menarik sepanjang 142 menit selain upaya mereka dalam menggagalkan perjuangan Loki dalam menghancurkan dunia. Menyaksikan bagaimana sejumlah huruf super berinteraksi dan dipaksa untuk saling bekerja sama serta mengabaikan ego masing-masing menjadikan The Avengers terasa sedap untuk disantap. Didukung dengan bujet raksasa, sekitar $220 juta, Whedon tidak menyia-nyiakan kesempatan yang diberikan kepadanya hanya dengan menghambur-hamburkan uang melalui festival teknologi super canggih saja melainkan turut fokus pada penulisan naskah sehingga penonton pun mampu terkoneksi dengan setiap tokoh yang ada. Sekalipun saya jarang sekali dikecewakan oleh film-film pembiasaan komik Marvel, saya sama sekali tidak menduga The Avengers akan semenarik ini. Pembagian jatah screentime setiap tokohnya dibagi secara merata, walaupun tentu saja ada tokoh yang lebih menonjol. Iron Man dan Hulk yaitu yang terkuat. Dimainkan dengan menawan oleh Robert Downey Jr., Iron Man/Tony Stark yang gemar berkelakar dipersenjatai dengan setumpuk humor cerdas nan menyentil yang bisa membuat penonton tergelak tak habis-habisnya. Sementara Mark Ruffalo, dengan segala ke-awkwardness-an yang dimiliki, malah lebih cocok menjadi Dr. Bruce Banner/Hulk ketimbang Eric Bana maupun Edward Norton. Kredit tersendiri juga patut disematkan kepada Tom Hiddleston yang kali ini terasa lebih hidup sebagai Loki ketimbang dikala di Thor

Khusus untuk imbas khusus, tidak usah dipertanyakan lagi. Anda yang menggilai pemakaian imbas khusus dalam film akan sangat terpuaskan dengan hidangan yang disajikan oleh Whedon. Endingnya yang berlatarkan kota New York yang porak poranda mampu tampil titik puncak nan spektakuler. Untuk mencapai ending, penonton tak dibiarkan menunggu berlama-lama dengan disuguhi adegan-adegan membosankan konyol yang sengaja dipanjang-panjangkan. Adegan agresi yang seru digeber secara masuk akal dan mampu berpadu dengan manis bersama naskah cerdas racikan Whedon dan Zak Penn. The Avengers beruntung disokong dengan sejumlah elemen yang diperlukan untuk membuat sebuah film demam isu panas yang bagus; drama yang menarik, huruf yang kuat, selera humor yang tinggi, penuh agresi yang menghibur, dan imbas khusus canggih. Faktor-faktor inilah yang membuat durasi yang panjang menjadi sama sekali tak terasa. Bagai tengah menempuh perjalanan panjang bersama teman-teman yang menyenangkan dengan sejumlah topik yang seru untuk diperbincangkan serta ditemani musik yang asyik. Sekali perjalanan masih terasa kurang. Usai keluar dari gedung bioskop menyaksikan The Avengers, bisa jadi Anda ingin kembali menyaksikannya.

Outstanding