October 20, 2020

Review : The Boss Baby


“If I don’t succeed in this mission, I will live here forever with you!” 
“Okay, I will help you. But just to get rid of you.” 

Ada similaritas antara The Boss Baby dengan Storks (2016): bangunan konflik dua film animasi tersebut beranjak dari satu pertanyaan polos yang kerap diajukan oleh para bocah, “darimana sih asal muasal munculnya bayi?”. Jawaban fiktif paling kondang dilontarkan di kalangan orang bau tanah negeri barat ialah dihantar seekor bangau putih. Storks mengamini dongeng bangau pengantar bayi tersebut, kemudian memberinya sentuhan modern besar-besaran. Sementara The Boss Baby, mengkreasi versi berbeda untuk menjawab pertanyaan tentang asal muasal munculnya bayi. Animasi terbaru kepunyaan Dreamworks Animation selepas Trolls di penghujung tahun kemudian yang dasar kisahnya disadur secara bebas dari buku kisah bergambar rilisan tahun 2010 berjudul sama rekaan Marla Frazee ini menyatakan bahwa bayi merupakan hasil produksi sebuah perusahaan. Bukan perusahaan biasa, tentu saja, mengingat korporasi khusus penghasil bayi berjulukan Baby Corp ini berbasis nun jauh di atas permukaan bumi – bisa dibilang, nirwana – dan karyawan-karyawan yang mendedikasikan waktu serta tenaganya di sana terdiri dari bayi-bayi menggemaskan dengan kemampuan selayaknya orang dewasa. What a twist, huh? 

Salah satu pekerja di Baby Corp ialah abjad utama dari film yang dipanggil The Boss Baby (disuarakan oleh Alec Baldwin). Sang abjad tituler dititahkan atasannya ke bumi untuk mencegah perusahaan penyedia bawah umur anjing lucu, Puppy Co., berekspansi menyusul direncanakannya peluncuran produk gres yang berpotensi menggerus kekuatan bisnis Baby Corp. Konon, berdasarkan data statistik yang dimiliki perusahaan penghasil bayi tersebut, insan remaja masa sekarang lebih mendamba keberadaan anak anjing ketimbang bayi. Dengan misi menghentikan Puppy Co., The Boss Baby pun menyamar sebagai putra gres dari keluarga Templeton yang konfigurasinya tersusun atas Ted (Jimmy Kimmel), Janice (Lisa Kudrow), dan Tim (Miles Christopher Bakshi). Kedatangan The Boss Baby seketika menguarkan aroma mengancam bagi Tim yang mulanya ialah putra semata wayang. Betul saja, sejak adanya ‘sang adik’, perhatian Ted beserta Janice kepada Tim berkurang cukup drastis. Tidak ada lagi lagu pengantar tidur, apalagi bermain bersama. Tim yang meragukan gerak-gerik adik barunya sedari awal lantas menyusun planning untuk membongkar kedoknya kemudian menyingkirkannya. Permusuhan diantara abang beradik ini pun tak lagi terelakkan.

Seperti halnya dikala menyaksikan Storks tahun lalu, The Boss Baby pun meninggalkan tiga macam rasa: takjub, hangat, dan bahagia. Takjub, alasannya ialah Tom McGrath (trilogi Madagascar, Megamind) punya cara yang absurd dan imajinatif untuk membuat sederet momen pemacu semangat sekaligus pemicu gelak tawa. Hangat, alasannya ialah film menggelontorkan pesan mengenai keluarga yang mengena di hati. Dan bahagia, alasannya ialah The Boss Baby sanggup mempermainkan emosi sedemikian rupa – dari tawa hingga tangis – sepanjang durasinya mengalun. Boleh dikata, inilah salah satu kejutan termanis dari Hollywood di kuartal awal tahun 2017. The Boss Baby melampaui ekspektasi dari penontonnya yang rasa-rasanya tidak sedikit diantaranya berharap hanya sekadar disodori visualisasi tingkah polah menggemaskan para bayi. Bahkan, daya pikat dari film telah mengemuka sedari film memulai langkah awalnya. Ada narasi mengikat dari Tobey Maguire selaku narator dan Tim remaja yang mendeskripsikan bagaimana masa kecilnya yang senang serta sarat akan imajinasi meluap-luap. Ada pula hamparan pemandangan imut yang menyoroti bayi-bayi gres didandani oleh mesin untuk kemudian disortir: bergabung bersama perusahaan atau menjalani kehidupan normal sebagai bayi. The Boss Baby kian menarik buat diikuti dikala kesudahannya si bayi tiba (dengan cara yang menggelitik saraf tawa!), kemudian mengontrol penuh keluarga Templeton. 

Kunci dari menit-menit berikutnya yang mengasyikkan ialah imajinasi tak terbatas dari si pembuat film. Tidak sekreatif maupun segila-gilaan Storks sih (siapapun yang punya gagasan soal wolfpack, beliau jenius!), tetapi persebaran momen seru nan kocak di The Boss Baby lebih merata. Dengan kata lain, sanggup dijumpai dengan gampang lewat beberapa titik. Beberapa yang cukup meninggalkan kesan mendalam karena efektif membuat ledakan tawa antara lain kejar-kejaran antara Tim dengan persekutuan bayi-bayi di halaman belakang, mimpi jelek Tim yang mengatakan adiknya bertransformasi ke aneka macam wujud, ‘keakraban’ Tim dengan si bos demi meyakinkan Ted dan Janice bahwa mereka telah akur, upaya abang beradik ini menyelinap masuk ke dalam Puppy Co. guna mencuri berkas, hingga penuntasan misi di paruh final yang penuh “boom boom bang!” pula kekocakan. Keliaran imajinasi ini beruntung bisa mencapai potensinya berkat sumbangsih cantik dari departemen pengisi suara. Alec Baldwin merupakan pilihan sempurna dalam menyuarakan abjad bayi yang lagaknya amat bossy – sedikit banyak mengingatkan pada sosok Stewie dari serial animasi Family Guy – dan membuat penonton gregetan sekaligus ingin memberi kasih sayang di waktu bersamaan. Lalu ada Miles Christopher Bakshi yang begitu energik. Bersama Baldwin, beliau membentuk chemistry apik sehingga terciptanya ikatan persaudaraan diantara Tim dan The Boss Baby bisa dicecap dan dikala film berada di titik emosionalnya penonton pun sanggup turut tersentuh.

Note : The Boss Baby mempunyai adegan komplemen di pertengahan dan ujung credit title. Lucu, tapi tidak mempunyai signifikansi. Silahkan mau disimak atau ditinggal keluar. 

Exceeds Expectations (3,5/5)