October 27, 2020

Review : The Bourne Legacy


“Jason Bourne was just the tip of the iceberg.” – Eric Byer 

Setelah tiga film Jason Bourne yang sukses meraup ratusan juta Dollar serta menuai kebanggaan dari aneka macam pihak, rasanya kok sayang ya kalau franchise ini tidak boleh begitu saja sekalipun The Bourne Ultimatum telah menawarkan sebuah konklusi yang memuaskan. Pihak studio tentu tidak akan keberatan untuk menggelontorkan uang berapapun jumlahnya demi terwujudnya jilid keempat dari petualangan manten kepetangan CIA ini. Tapi, tapi… Paul Greengrass telah memutuskan untuk ‘walk out’ dari proyek, begitu juga dengan Matt Damon. Lantas apa yang sanggup diperbuat? Apakah dengan membuat sebuah reboot semacam The Amazing Spider-Man dengan tim utama yang sama sekali baru, sekuel dengan melaksanakan recast untuk mencari pengganti Damon, atau malah sebuah spin-off? Ada banyak kemungkinan. Namun, the show must go on, meski tidak ada lagi Damon maupun Greengrass yang telah membawa franchise ini ke puncak kejayaan melalui The Bourne Supremacy dan The Bourne Ultimatum. Beruntung, Tony Gilroy yang telah menggarap naskah franchise ini semenjak jilid pertama tidak ikut-ikutan kabur ibarat kedua rekannya. Malahan, ia digamit untuk mengarsiteki The Bourne Legacy terlebih ia mempunyai jejak rekam pernah menghantarkan film debutnya, Michael Clayton, untuk bertarung di Oscar. 
Pertanyaannya, akan dibawa kemana The Bourne Legacy ini? Bagian kreatif memutuskan untuk tetap berada di jalur instalmen, alih-alih reboot. The Bourne Legacy mungkin lebih sempurna disebut sebagai sidequel. Meski nama Bourne masih dicatut sebagai judul film, pada kenyataannya sosok ini tidak pernah muncul dalam film, kecuali dalam wujud foto atau sebatas nama diucapkan oleh tokoh lain. Tony Gilroy yang turut menulis naskah, kali ini ditemani oleh saudaranya, Dan Gilroy, membuat pendekar anyar berjulukan Aaron Cross (Jeremy Renner). Sejak awal film yang dimulai di lokasi training regu operasi khusus Alaska hingga pertengahan film, Gilroy menarik hati penonton dengan menyembunyikan identitas dari sang tokoh utama sehingga muncul dugaan-dugaan bahwa Renner ialah Jason Bourne. Hingga balasannya foto Bourne muncul, maka penonton pun mingkem. Atau jangan-jangan ada twist di selesai kisah? Ah sudahlah, jangan terlalu banyak berspekulasi. Haha. Sepak terjang dari Aaron Cross ini mengambil latar waktu bersamaan dengan The Bourne Ultimatum tatkala Bourne disibukkan dengan upayanya untuk mengekspos Blackbriar dan Treadstone. Sebagai pengait, sekaligus untuk menyegarkan ingatan penonton, ditampilkan foto, percakapan, hingga tayangan video yang bekerjasama dengan film sebelumnya. 
Tidak ibarat Bourne versi Doug Liman, apalagi Paul Greengrass, yang penuh dengan adegan agresi yang diramu intens dan digeber semenjak menit pertama, Gilroy menentukan pendekatan lain untuk memulai kisah. Bagi yang mengharapkan The Bourne Legacy akan disesaki dengan adegan kejar-kejaran, baku hantam, dan ledakan tanpa jeda, maka bersiap untuk kecewa. Bourne versi Gilroy ini sangat cerewet dalam bertutur. Sekitar 40 menit pertama, kesabaran penonton – terutama yang tidak menggemari film penuh obrolan – benar-benar diuji. Dialog-dialog panjang dipakai untuk menghantarkan kisah. Kita dipertemukan dengan tokoh-tokoh usang macam Pamela Landy (Joan Allen), Noah Vosen (David Strathairn), dan Ezra Kramer (Scott Glenn), serta kehadiran tokoh anyar Eric Byer (Edward Norton), yang kebakaran jenggot ketika mengetahui Jason Bourne masih hidup. Disampaikan dengan obrolan serba panjang nan rumit yang seringkali terasa melelahkan untuk diikuti, maka kubu penonton hampir sanggup dipastikan terbagi menjadi dua. Di satu sisi memuji kelihaian Gilroy dalam meramu sebuah dongeng spionase dengan naskah yang tergarap cermat menjadikan rasa penasaran, namun di sisi lain menyumpahi keputusan sang sutradara yang berlama-lama menggiring penonton dalam ketidakpastian. Hingga satu jam pertama, penonton masih belum mendapat informasi film ini akan bertutur mengenai apa. 
Ketegangan mulai terasa ketika Dr. Donald Foite (Zeljko Ivanek) secara membabi buta membantai para staf dan peneliti di laboratorium, dan menyisakan Dr. Martha Shearing (Rachel Weisz) yang gagal dihabisinya. Belum pulih dari trauma berat, sekelompok orang menyantroni rumah Martha. Beruntung Aaron Cross berhasil menyelamatkan Martha sempurna waktu. Setelah kolam bik buk dan dar der dor, terungkap fakta bahwa Aaron ialah satu-satunya distributor di Outcome yang selamat dan sekarang menjadi sasaran buruan pemerintah yang tengah mengeliminasi sejumlah operasi belakang layar di seluruh dunia. Dia mencari Martha demi memeroleh pil yang konon diciptakan untuk meningkatkan kinerja fisik dan otak. Gagal mendapatkan, mereka berdua pun terbang ke Manila dimana pabrik pemroduksi obat-obatan itu berlokasi. Setelah Cross dan Shearing mendarat di Manila, Anda mendapat apa yang Anda tunggu-tunggu semenjak awal film. Dengan masih menerapkan style yang tidak jauh berbeda, minus kamera yang sekali ini tidak terlalu ‘bergoyang’, Gilroy membawa penonton ke dalam sebuah suguhan sinematik yang memukau. Adegan kejar-kejaran diramu dengan intens. Lompat sana, lompat sini, mengarungi perkampungan padat penduduk. Yang menjadi ‘highlight’ dari film ini tentunya adegan Cross menunggangi sepeda motor bersama Shearing menghindari kejaran seorang supersoldier yang diperintah Byer untuk menghabisi mereka berdua menembus kemudian lintas Manila yang mengerikan. 
Tanpa ada upaya untuk mencontek ‘kemesraan’ antara Matt Damon dengan Julia Stiles dan Franka Potente, duet Jeremy Renner dan Rachel Weisz berhasil membawa daya tarik tersendiri. Tidak melakoni tugas yang sama dengan Damon, membuat Renner terhindar dari ‘teori perbandingan’. Aaron Cross di tangan Renner, tampak gagah. Setelah tiga film besar yang melibatkan dirinya meledak dimana-mana, maka tidak sulit bagi ia untuk menggaet hati para produser untuk menempatkannya di garda depan film-film agresi berbujet besar sesudah ini. Anda yang tidak menyukai sosok Renner pun sulit menampik bahwa ia ialah pilihan yang sempurna untuk franchise ini. Dan melihat raihan Dollar yang masih terus menanjak, bukan sesuatu yang mengherankan kalau sepak terjang Aaron Cross akan berlanjut ke seri-seri berikutnya. Bisa jadi, ia akan berkolaborasi dengan Jason Bourne. Who knows. Terlebih, The Bourne Legacy juga bukan produk yang gagal, dinilai dari aneka macam segi. Melihat pencapaian film sebelumnya, maka sesuatu yang masuk akal kalau publik berharap lebih kepada jilid keempat ini. Disamping itu, masih perlu waktu untuk menyesuaikan diri dengan huruf gres berjulukan Aaron Cross ini. Pun begitu, The Bourne Legacy tidaklah mengecewakan. Dimulai dengan perlahan-lahan, Gilroy menutup The Bourne Legacy dengan agresi gila-gilaan serba cepat yang mendebarkan. Bersedia untuk menanti sekuelnya? Tentu saja.

Acceptable