October 23, 2020

Review : The Cabin In The Woods


“Ok, I’m drawing a line in the fucking sand. Do NOT read the Latin!” –  Marty 

Akhirnya, film yang paling saya tunggu-tunggu di tahun ini dilepas juga dari gudang oleh 21 Cineplex sehabis berbulan-bulan lamanya tertahan tanpa ada kejelasan yang mengakibatkan ratusan (atau bahkan ribuan?) ‘Jamaah Kabiniyah’ menggalau di Twitter selama kurang lebih empat bulan. Saat pihak yang berwenang merilis info seputar aktivitas tayang The Cabin in the Woods, sontak kicauan penuh kegembiraan menyeruak di linimasa. Tidak hanya sehari, tapi berhari-hari, sampai goresan pena ini diturunkan pun, gegap gempita masih belum sirna. Rasanya menyerupai seseorang yang mengalami mulas-mulas, bolak balik ke toilet, namun yang dibutuhkan ‘nongol’ tidak kunjung datang. Setelah berhari-hari menahan, hasilnya tiba suatu hari dimana orang tersebut berhasil ‘mbrojolkan’ apa yang selama ini tertahan. Kepuasan tiada tara. Sebentar, hmmm… analogi saya kok terlalu ekstrim dan rada tidak nyambung ya? Haha, biarkan saja, para pembaca budiman. Inilah racauan dari seorang pecinta film yang terlalu senang menyambut kedatangan The Cabin in the Woods, sekalipun gres ditayangkan untuk pertunjukkan tengah malam saja. 
Penantian panjang, digantung selama berbulan-bulan, terbayarkan dengan lunas dalam semalam. Saya rela menempuh perjalanan darat selama setengah jam, menembus udara malam yang dingin, melawan dengan susah payah rasa kantuk dan lapar yang menolak untuk diajak berkompromi hanya demi sebuah kabin di tengah hutan. Dan saya sama sekali tidak meratapi usaha itu sehabis melihat hasil akhirnya. Apabila saya mempunyai lebih dari empat jempol (kaki masuk dalam hitungan ya!), maka saya akan acungkan semuanya untuk film garapan Drew Goddard ini. Bahkan, saya berani menjamin, film ini akan menempati posisi yang tinggi di daftar ‘Film Terbaik Versi Cinetariz’ tahun depan. Terdengar terlalu berlebihan? Mungkin saja. Akan tetapi, saya cukup yakin, Anda akan sependapat dengan saya terlebih jikalau Anda mengaku sebagai fans garis keras dari genre horror. Ini yaitu sebuah pesta yang dirancang sedemikian rupa oleh Drew Goddard dan Joss Whedon khusus untuk Anda, para pecinta film, terutama pecinta film horror. Tinggalkan apa yang disebut kecerdikan di luar gedung bioskop, dan nikmati saja segala kegilaan hasil buah pikiran Goddard dan Whedon yang maha sinting selama 95 menit ini. 
Kesulitan terbesar dalam mengulas The Cabin in the Woods yaitu menghindarkan Anda, para pembaca yang budiman, dari spoiler. Kuncinya, semakin sedikit Anda tahu, semakin bagus. Sekecil apapun informasi yang disebar perihal plot film ini berpotensi merusak kenikmatan Anda dalam menikmati film secara keseluruhan. Apakah Anda masih ingat bagaimana media menunjukkan peringatan ‘Jangan Dengarkan Ending Cerita Film Ini!’ di iklan film The Sixth Sense tiga belas tahun silam? Ini ketika yang sempurna untuk mengulang hal tersebut. Tapi untuk sekali ini, tidak hanya berlaku untuk tamat cerita, tapi sinopsis lengkap The Cabin in the Woods. Saya rangkumkan intisari dari film ini. Secara garis besar, kabin bertutur perihal lima sekawan yang terdiri dari Dana si perawan (Kristen Connolly), Curt si atlit (Chris Hemsworth), Holden si pandai (Jesse Williams), Jules si seksi (Anna Hutchison), dan Marty si kolot (Fran Kranz), yang berlibur ke sebuah kabin di hutan. Sebelum mereka mencapai kabin terpencil tersebut, van berhenti sejenak di pom bensin yang terlantar. Dari sini, Anda sudah menduga bahwa ada sesuatu yang tidak beres dengan lokasi tujuan mereka. Benar saja, belum sempat mereka berpesta pora semalam suntuk, teror tiba menghampiri, mengancam nyawa kelima sampaumur ini. 
Sekumpulan sampaumur berlibur di daerah terpencil, pembunuh berdarah hirau taacuh berbentuk insan atau makhluk lain ikutan nimbrung dan menggila, satu persatu dari sampaumur tersebut meregang nyawa dengan si bagus atau si tampan yang menjadi korban pertama, dan hanya satu yang berhasil keluar dari medan tempur dengan selamat. Klise. Anda yang kerap bergumul dengan film-film horror tentunya sudah hafal betul alur semacam ini. Berulang kali digunakan, hanya bongkar pasang pemain saja. Lantas, dengan jalan kisah yang kelewat umum semacam ini, apa yang membuat The Cabin in the Woods menonjol dan layak untuk menerima apresiasi lebih? Jika Anda sudah terlanjur skeptis, maka saya perlu mengingatkan kembali, saya hanya menceritakan isi film ini secara garis besar. Itu artinya, Anda hanya mengetahui sebagian kecil dari film ini. Goddard dan Whedon tidak sesederhana itu dalam bertutur. Sesuai dengan tagline yang diusung, ‘you think you know the story’. Saran saya, think twice, baby! Setelah saya menyaksikan sendiri apa yang tersaji di layar, nyaris semuanya berbeda dengan apa yang saya pikirkan. Duo edan ini telah mengaduk-aduk pikiran saya. Mereka telah membuat sebuah film horor yang luar biasa cerdas! 

Selain mengetahui serba sedikit mengenai isi film ini, akan lebih yahud jikalau Anda membekali diri dengan rujukan film horor serta pop culture yang tidak mengecewakan banyak. Dua hal inilah yang menjadi target utama dari Goddard dan Whedon. Berhubung The Cabin in the Woods selesai diproduksi pada tahun 2009 (karena satu dan lain hal film ini terpaksa ditunda penayangannya), maka sanggup dimaklumi jikalau ada satu dua ‘berita terpanas’ yang terlewatkan dan telah kita saksikan dalam Scream 4. Akan tetapi, ini tak menghalangi Kabin untuk menjadi sebuah film yang mencengangkan. Agaknya sudah bertahun-tahun lamanya saya tidak menemukan sebuah film horor segokil, sekeren, dan secerdas ini. Saya ingin bertanya kepada Anda, kapankah terakhir kali Anda bersenang-senang, berteriak ketakutan, dan melontarkan ‘Watdefak!’ berulang kali tatkala menyaksikan sebuah film menyeramkan di bioskop? The Cabin in the Woods mengobati kerinduan saya akan film horor yang tidak hanya membuat saya terlonjak dari dingklik bioskop dan berteriak sekencang mungkin, tetapi juga terpana dengan kisah yang disajikan. Duo janjkematian yang pernah menghasilkan Buffy the Vampire Slayer dan Angel ini mengemas karya mereka ini dengan teror klasik yang mencekam, penuh darah yang muncrat kesana kemari, obrolan berselera humor tinggi, beberapa sentilan yang menancap di hati serta alur yang sulit ditebak. Dengan adegan pembuka yang tidak biasa, The Cabin in the Woods pun ditutup dengan memuaskan. 20 menit terakhir film ini penuh dengan kegilaan. Pesta penghormatan terhadap film-film horor oleh Drew Goddard dan Joss Whedon ini sungguh mengasyikkan dan sulit untuk dilupakan.

Outstanding