October 21, 2020

Review : The Chef (Comme Un Chef)


“Tanpa cinta kita bukan apa-apa.”

The Chef, atau dalam bahasa aslinya bertajuk Comme un chef, menjadi hidangan pembuka yang aku santap di pagelaran Festival Sinema Prancis tahun ini yang untuk pertama kalinya sehabis sekian tahun lamanya tak menyambangi Semarang. Tidak ada sedikit pun pengharapan terhadap film ini selain menyimak hidangan-hidangan ala restoran glamor Prancis tertampang menarik hati di layar lebar. Ya… selain film, musik, (sedikit) olahraga, aku juga sangat menggemari dunia kuliner. Sama sekali bukan seseorang yang sanggup dipercaya kala tengah berakrobat di dapur, akan tetapi aku sangat menyayangi makanan. Nyaris setiap program masak memasak – baik berupa kompetisi, wisata masakan atau hanya sekadar program memasak mingguan – aku tonton. Dan itulah yang menjadi motivasi utama ketika menyimak The Chef, mencari pemandangan yang sanggup melaparkan mata sekaligus perut. Ternyata, aku tidak hanya mendapatkan apa yang aku idamkan, namun lebih dari itu. Daniel Cohen mempersilahkan aku untuk masuk ke restorannya yang glamor dengan pelayanan yang ramah, kuliner kelas atas bercita rasa tinggi, serta sebuah hiburan dari para ‘pelayan’ dan ‘koki’ yang menyegarkan. Anda pun dibebaskan untuk tertawa terbahak-bahak semaunya, bebas, suka-suka. Jelas sebuah ‘restoran kelas atas’ yang sangat cocok untuk dikunjungi siapapun yang murni mencari hiburan pelepas penat. 

Apa yang digelar oleh Daniel Cohen dalam film teranyarnya ini yaitu pengamatan terhadap simbiosis mutualisme antara seorang chef kenamaan dengan pecinta masakan yang penuh mimpi. Jean Reno yang gres saja kita saksikan aksinya dalam Alex Cross berperan sebagai Alexandre Lagarde, salah satu chef terbaik di Prancis, yang seolah telah melupakan tujuan awalnya dalam memasak sehingga sentuhan magisnya perlahan tapi niscaya tanpa disadarinya memudar yang membuatnya tak bisa mengeksplor lebih dalam lagi kemampuannya. Stagnan. Bisa jadi, mungkin ini yaitu saatnya ia undur diri dari pekerjaannya sebagai chef utama di resto bintang tiga, Cargo Lagarde? Dalam upayanya untuk mencari tangan kanan baru, ia berjumpa dengan Jacky Bonnot (Michael Youn), seorang pecinta masakan yang ibarat Wikipedia berjalan. Setiap resep Alexandre, ia hafal di luar kepala. Bahkan, ia tak segan memberikan kritik kala chef idolanya tersebut tak patuh pada resep lama. Dengan karirnya yang tengah di ujung tanduk, Alexandre pun merekrut Jacky sebagai asistennya sehabis melihat besarnya potensi yang dimiliki laki-laki ini di dunia kuliner. Akan tetapi, segalanya tidak lantas berjalan dengan mulus. Cobaan menghadang dari seorang istri yang merasa dikhianati, seorang putri yang merasa ditelantarkan, dan grup pemegang saham yang kehilangan rasa kepercayaan. 

Sejak memulai introduksi dua tokoh utama kepada para penonton, The Chef telah menawarkan gejala sebagai tontonan pengocok perut tiada henti. Benar saja, Daniel Cohen membawa kita kepada sebuah suguhan yang bisa membuat ledakan tawa tanpa henti sampai penghujung film. Dengan dikemas secara teatrikal, segalanya makin sempurna. Memakan waktu hanya 84 menit, film bergerak sangat cepat sehingga penonton pun tidak terjebak dalam kebosanan dengan jalinan kisah yang terkesan bertele-tele. Memang, pergerakan yang terlalu cepat menjadikan penyampaian kisah menjadi serba terbatas dan kurang tergali lebih mendalam, akan tetapi, aku melihat bukan itu yang hendak dijadikan fokus oleh Daniel Cohen. The Chef seolah hanya ingin menjadi sebuah film yang sanggup membuat siapapun tersenyum lebar serta meredakan kepenatan yang menghinggapi kala keluar dari gedung bioskop. Tidak ada tekanan atau beban untuk muncul sebagai sebuah hidangan restoran kelas tiga yang memperoleh kebanggaan dari kritikus yang susah untuk diajak bersenang-senang, murni hanya demi menyenangkan penonton. 
Dalam pengisahan, sejatinya tidak ada sesuatu yang gres untuk ditawarkan di sini. Tak banyak pula elemen kejutan yang disuntikkan ke dalam jalinan kisah yang gampang ditebak akan bermuara ke mana. Dengan begini, maka kunci keberhasilan bertumpu pada pengarahan sutradara, jajaran pemain, serta tentunya efektivitas guyonan yang digulirkan. Beruntung, Cohen menerima pemain sekelas Jean Reno dan Michael Youn yang bisa bersinergi satu sama lain dalam menerjemahkan skrip garapan sang sutradara sehingga segala bentuk dagelan tak terperosok ke dalam slapstick yang kasar, garing, atau tolol, melainkan justru menyegarkan. Di samping bentuk candaan yang berhasil membuat perut kram, pemandangan makanan-makanan glamor yang bertebaran – kecuali untuk bab molecular gastronomy – sanggup menjadikan perut berdendang. Ingin sekali mencicipinya. Pesan positif nan klise seputar jangan pernah mengalah terhadap mimpimu mirip yang diperlihatkan oleh tokoh berjulukan Jacky Bonnot yang jatuh berdiri membangun karir serta mendapatkan serangkaian penolakan karena tak bisa menyesuaikan sajian dengan selera konsumen, berhasil dihaturkan oleh Cohen tanpa kesan menceramahi. 
Pada akhirnya, The Chef atau Comme un chef ini rupanya tak sedatar yang aku duga. Mungkin dari segi penceritaan tak ada segala sesuatu yang baru, akan tetapi bila mengamatinya dari selera humor Daniel Cohen, maka menyimak The Chef bagaikan tengah menyantap hidangan molecular gastronomy. Penampilan luar yang menipu. Tak akan menduga bahwa The Chef sanggup tampil sebagai sebuah sajian berbintang 3 (dalam dunia kuliner) yang lezat, segar, jenaka, cerdas, sekaligus menyenangkan. Kepuasan konsumen pun berhasil didapatkan.

Exceeds Expectations