October 27, 2020

Review : The Conjuring 2


After everything we’ve seen there isn’t much that rattles either of us anymore. But this one, this one still haunts me.”

Umumnya, sekuel dari sebuah film yang sukses secara kualitas mengalami kendala berarti dalam melampaui – atau well, minimal menyamai – pencapaian dari instalmen pertama. Hanya segelintir judul yang sanggup membuyarkan ‘kutukan’ ini dan semakin mengerucut begitu kita membicarakan film dari teritori horor mengingat bukan kasus gampang untuk mengkreasi trik menakut-nakuti yang tidak sekadar pengulangan dari seri pendahulu demi memenuhi keinginan khalayak yang pastinya berharap lebih. Sulitnya menjumpai sekuel film menyeramkan dalam level “bagus” inilah yang mendasari skeptisisme menyambut kehadiran The Conjuring 2 sekalipun masih ada nama James Wan (Insidious, The Conjuring) di belakang kemudi. Ya mau bagaimana lagi, jilid perdananya merupakan salah satu film horor terbaik dalam beberapa dekade terakhir dengan teknik menebar teror kelas wahid dan ungkapan ‘lightning never strikes the same place twice’ lebih sering terbukti benar ketimbang keliru. Kaprikornus untuk meminimalisir kekecewaan, satu-satunya pengharapan yang kemudian diboyong masuk ke gedung bioskop hanyalah, “semoga masih ada satu-dua momen pemantik jeritan lepas!.” 

The Conjuring 2 membawa pasangan Warren, Ed (Patrick Wilson) dan Lorraine (Vera Farmiga), ke Enfield, London enam tahun selepas kejadian menyeramkan yang menimpa keluarga Perron di film pertama. Kali ini, mereka mencoba membantu seorang single parent dengan empat orang anak berjulukan Peggy Hodgson (Frances O’Connor) untuk membersihkan aktifitas supranatural di rumahnya yang telah berlangsung selama beberapa bulan. Aktifitas tersebut tidak sekadar mencakup benda-benda bergerak secara misterius, suara-suara aneh, serta penampakan-penampakan, melainkan juga termasuk adanya roh jahat yang bersarang dalam badan salah satu putri Peggy, Janet (Madison Wolfe). Tingkah laris janggal Janet sendiri dinilai berlebihan oleh sejumlah pihak sehingga ada kecurigaan bahwa masalah ini tidak lebih dari pura-pura Peggy demi memperoleh rumah pengganti dari pemerintah. Lorraine pun sempat dihadang keraguan untuk melanjutkan menangani masalah ini karena kebenaran mengenai Janet yang kerasukan mulai dipertanyakan dan adanya penglihatan yang memperlihatkan Ed dibunuh oleh sesosok iblis berkostum biarawati. 

Siapa menerka petualangan supranatural kedua pasangan Warren masih akan memberi sensasi ketakutan yang sama? Ungkapan ‘lightning never strikes the same place twice’ terang sama sekali tidak berlaku disini. Terlonjak hebat dari dingklik bioskop, berteriak-teriak kemudian diikuti tawa gemas guna melepas stres, serta meringkuk manis di balik jaket ialah reaksi yang sangat mungkin kau alami sepanjang menyimak The Conjuring 2. Dan, menghela nafas penuh kelegaan merupakan hal pertama yang saya lakukan usai menonton The Conjuring 2 di bioskop karena hampir sepanjang durasi dibentuk sesak nafas. Hanya mengharap ada satu dua momen mengerikan, nyatanya James Wan memperlihatkan lebih dari itu. Memang sih tidak ada adegan legendaris macam ‘hide and clap’ menyerupai sang predesesor, tapi The Conjuring 2 memiliki penyebaran teror yang lebih merata dan berlimpah tanpa pernah terasa murahan apalagi mubazir. Penampakan para memedi memiliki relasi berpengaruh dengan pergerakan dongeng – bukan asal nongol sesuka hati semoga penonton terkaget-kaget – dan kemunculannya pun diatur sedemikian rupa diiringi musik menghantui gubahan Joseph Bishara sehingga sekalinya muncul, istighfar maupun sumpah serapah dari verbal penonton seketika menggema.

Ya, The Conjuring 2 memang hero dalam urusan menakut-nakuti penonton entah itu memakai jump scares efektif atau atmosfir serba tidak mengenakkannya yang tercium berpengaruh utamanya di paruh awal. Wan tidak berbasa-basi terlebih dahulu – atau menunggu penonton menyiapkan mental – alasannya begitu lampu bioskop dipadamkan, kita ditarik memasuki rumah Amityville yang merupakan salah satu masalah paling terkenalnya pasangan Warren. Bahkan hanya sesaat sesudah duo protagonis merampungkan masalah tersebut, sorotan pribadi berpindah ke keluarga Hodgson. Memberi sekelumit citra terkait keluarga malang ini, teror kembali menghujam selepas Peggy bermain-main memakai papan Ouija. Kali ini benar-benar tiada ampun. Bulu kuduk merinding, tenggorokan tercekat, dan ada kalanya ingin mengalihkan pandangan dari layar. Suasananya begitu mengganggu, penampakan iblisnya pun sangat menyeramkan. Alih-alih bergantung pada komputer, tim produksi memutuskan untuk mendayagunakan kehebatan tim tata rias plus pencahayaan dalam mengkreasi tampilan si setan. Hasilnya, meyakinkan! Saking meyakinkannya, penonton berhasil dibentuk percaya bahwa apa yang mereka lihat di layar ialah sesosok iblis bukannya insan berdempul tebal (…atau jangan-jangan memang benar?). Yikes! 

Pun demikian, sumber kekuatan The Conjuring 2 tidak semata-mata berasal dari keahliannya menebar rasa takut, melainkan juga bagaimana film ini membuat rasa haru. Ada hati yang besar dibalik tampilan serba seramnya. Usai pasangan Warren mendarat di London, laju film sempat melambat namun tidak lantas membosankan untuk memberi ruang bernafas bagi penonton. Pada titik inilah, momen dramatik mulai tumbuh berkembang. Kita mengenal lebih jauh pasangan Warren, kita juga memperoleh embel-embel isu soal keluarga Hodgson. Wan menebalkan sisi humanis dan drama sentimentil untuk mendekatkan penonton dengan barisan huruf dalam film. Kita peduli terhadap apa yang para protagonis alami. Seolah-olah pasangan Warren dan keluarga Hodgson ialah orang-orang yang kita kenal baik di kehidupan nyata, bukan sekadar huruf dalam film. Inilah nilai lebih bagi The Conjuring 2 dibanding kebanyakan film horor masa sekarang yang sekaligus mengangkat derajatnya. Nilai lebih lainnya, para pelakonnya memberi bantuan akting ciamik dalam menghidupkan huruf masing-masing terutama duo Vera Farmiga-Patrick Wilson yang chemistry bagusnya membuat kita iri, luluh, serta terenyuh melihat kemesraan pasangan Warren. 

Memberi label The Conjuring 2 ‘lebih menyeramkan atau tidak lebih seram’ dari jilid pertama, tergantung seberapa jauh kau menyukai film perdananya. Apabila bagimu The Conjuring ialah sebuah tontonan horor yang sangat gemilang, sanggup jadi apa yang ditawarkan Wan disini tidak akan membuatmu terpesona. Tapi kalau kau menganggap seri pendahulu tidak sebagus yang diobrolkan banyak orang, well, The Conjuring 2 akan gampang memikat hatimu dan menilai tingkat keseramannya lebih tinggi ketimbang sang kakak. Pada akhirnya, mengesampingkan kemana keberpihakanmu, rasa-rasanya kita sanggup menyepakati film ini sebagai salah satu sajian horor paling menyeramkan keluaran negeri Paman Sam dalam beberapa tahun terakhir. Berkat The Conjuring 2, kita tidak akan lagi memandang sama para biarawati serta tidak akan lagi sanggup mendengar tembang “Can’t Help Falling in Love” maupun “Hark! The Herald Angels Sing” tanpa harus bergidik ngeri. Well done, James Wan!

Outstanding (4/5)