October 23, 2020

Review : The Crucifixion


“Sungguh memuakkan setiap kali kecerdikan bulus berlindung dibalik kemuliaan.” 

Diantara setumpuk tema yang bisa dipilih untuk menggulirkan penceritaan dalam khasanah film horor, sineas-sineas negeri barat terhitung paling getol dalam mengelupas tema eksorsisme. Keputusan untuk mengungkit tema ini bahu-membahu amat masuk akal mengingat praktik pengusiran setan oleh rohaniawan utusan gereja maupun ‘orang pintar’ ini sendiri amat berbahaya dan beresiko menelan korban jiwa sehingga terdengar amat seksi apabila diaplikasikan ke dalam suatu film. Semenjak The Exorcist (1973) mendapat perhatian banyak sekali pihak dan pada jadinya menyandang status klasik, serentetan judul film memedi turut menyentuh tema ini yang beberapa diantaranya memiliki kualitas diatas rata-rata ibarat The Exorcism of Emily Rose (2005) dan The Conjuring (2013), meski tidak sedikit pula yang berakhir tragis. Salah satu judul terbaru yang membicarakan perihal eksorsisme yaitu The Crucifixion aba-aba sineas Prancis, Xavier Gens (The ABCs of Death; segmen X is for XXL, Frontier(s)). Guliran kisahnya dicuplik dari sebuah kasus positif yang menghebohkan Romania pada tahun 2005 yang disebut-sebut oleh media dengan nama ‘Tanacu exorcism’. Dalam kasus tersebut, seorang pastor dan empat biarawati didakwa bersalah atas tewasnya seorang wanita usai disalib selama beberapa hari dalam praktik eksorsisme. 

Melalui The Crucifixion, Xavier Gens mencoba untuk merekonstruksinya memakai pendekatan fiktif. Penonton tidak mengikuti pemeriksaan positif atas kasus final hidup seorang wanita berjulukan Adelina Marinescu (Olivia Nita) dari sudut pandang penyelidik sebelum vonis dijatuhkan kepada para tersangka dengan sesekali menengok ke masa-masa ketika Adelina masih ‘bersih’, melainkan selepas sang pastor dijebloskan ke penjara. Yang mencoba memperoleh kebenaran dari insiden Tanacu yaitu seorang reporter tanpa iman asal New York, Nicole Rawlins (Sophie Cookson). Telah sedari awal meyakini bahwa sang pastor merupakan psikopat dan praktik yang dijalankannya tidak lebih dari ritual sesat, menciptakan Nicole kesulitan mencerna informasi-informasi ‘ajaib’ yang diperolehnya dari teman baik Adelina, Vaduva (Brittany Ashworth), dan abang Adelina, Stefan Marinescu (Ivan Gonzales). Di tengah upayanya menyatukan kepingan-kepingan bukti yang didapatnya, Nicole mendapati sejumlah insiden ganjil sulit dijabarkan. Kebingungan, Nicole pun meminta derma pada seorang pastor muda, Anton (Corneliu Ulici), yang lantas mengingatkan Nicole untuk meninjau ulang keimanannya. Berkat wejangan-wejangan dari Anton dan situasi ganjil yang sering dihadapinya selama di Romania, perlahan tapi niscaya Nicole mulai meyakini bahwa iblis memiliki andil besar dalam kasus Tanacu.

Sejatinya tidak ada hal benar-benar gres yang coba ditawarkan oleh The Crucifixion. Penyampaian kisahnya sedikit banyak melayangkan ingatan kita pada The Exorcism of Emily Rose yang juga mengajak penonton untuk mengkaji kembali kebenaran dari suatu kasus nyata. Sederet pertanyaan dilontarkan oleh si pembuat film demi menghadirkan beberapa teori untuk kemudian menghasilkan suatu hipotesis. Apakah benar praktik eksorsisme dijalankan sang pastor semata-mata demi melampiaskan hasratnya untuk menyiksa? Apakah benar tindak tanduk nyeleneh Adelina dipantik oleh skizofrenia dan bukan lantaran lain? Apakah benar tidak ada campur tangan iblis dibalik segala kejanggalan ini? Ketiga pertanyaan ini berkhasiat pula dalam mengikat atensi penonton sehingga bersedia mengikuti Nicole untuk menyingkap suatu fakta. Usai berbincang-bincang dengan beberapa narasumber, beberapa fakta diperoleh: gereja menentang praktik eksorsisme yang dilakoni Pastor Dimitru lantaran dianggap sesat, kondisi kejiwaan Adelina tidak stabil usai kena tipu-tipu dari laki-laki Jerman yang memintanya untuk merelakan keperawannya, dan iblis itu memang positif adanya. Materi yang sungguh menjanjikan buat diolah, bukan? Sayangnya Xavier Gens agak kelimpungan dalam mengolahnya yang berdampak pada guliran pengisahan terhidang mentah dan ada kalanya menjemukan. Tidak menggugah selera penonton untuk mencicipinya. 

Dua elemen yang turut berkontribusi terhadap hasil final The Crucifixion yang kurang greget, naskah dan akting. Duo Chad Hayes dan Carey Hayes selaku penulis skrip terlalu fokus pada penjlentrehan proses pemeriksaan sampai-sampai mengabaikan perkembangan huruf Nicole. Alhasil, sosoknya pun berkembang menjadi menjadi huruf satu dimensi yang sulit diberikan simpati. Performa lempeng Sophie Cookson dengan intonasi pada pengucapan obrolan yang juga monoton terperinci sama sekali tidak membantu. Lakon terbaik dalam film – ibarat film eksorsisme pada umumnya – berasal dari si wanita yang kesurupan, Olivia Nita. Dari huruf yang dimainkannya, Adelina, penonton peroleh kengerian. Berbincang mengenai kengerian dan urusan menakut-nakuti yang mana inti dari suatu film horor, The Crucifixion tergolong tidak buruk. Malah boleh dikata cukup berhasil. Sebagian besar diantaranya sih telah diobral dalam trailer (sebaiknya kau tengok usai menonton saja, khusus melihat adegan ‘semut’ yang dipangkas gunting sensor), namun masih cukup efektif untuk membuatmu beberapa kali terlonjak dari bangku bioskop. Bulu kuduk juga acapkali meremang ketika Nicole menghabiskan waktunya seorang diri di kamar hotel. Entah ketika beliau berselancar di dunia maya, berada di kamar mandi, atau beristirahat. Terasa ada sesuatu yang salah di sekitarnya seakan-akan ada yang mengawasi. Kemampuan The Crucifixion dalam menghadirkan ketidaknyamanan pada penontonnya ini sedikit banyak mengampuni lemasnya sektor lain. Paling tidak, para pecinta film horor yang tiba ke bioskop dengan keinginan untuk ditakut-takuti tidak mendapat menu lempeng.

Ulasan ini bisa juga dibaca di http://tz.ucweb.com/7_1lzoN

Acceptable (2,5/5)