July 15, 2020

Review : The Curse Of La Llorona


“Your children are safe now, but have they heard her crying? Have they felt the sting of her tears? They will, and she will come for them.”

Apakah kalian pernah mendengar dongeng angker mengenai makhluk halus berwujud wanita yang gemar menggondol belum dewasa selepas Maghrib? Apabila kalian tumbuh besar di Indonesia – terlebih lagi di tanah Jawa – dongeng mistis semacam ini telah menjadi santapan sehari-hari semasa bocah. Sejumlah orang renta kerap menakut-nakuti anak-anaknya dengan berseru, “nanti diculik wewe gombel lho!,” dikala si bocah masih kekeuh untuk bermain-main di luar meski matahari telah kembali ke peraduannya. Sosok mistik yang dikenal sebagai wewe gombel tersebut memang menjadi momok yang sangat mengerikan bagi para krucil di tanah air dan beberapa sineas pun melihat potensi besar yang bisa dikembangkan dari folklore ini… termasuk Hollywood! Tatkala membaca goresan pena ini, saya yakin banyak diantara kalian yang mengucek-ngucek mata saking terbelalaknya. Masa sih wewe gombel beneran sudah go international? Jika kalian tidak percaya, coba saja tengok The Curse of La Llorona (di sini memakai judul The Curse of the Weeping Woman) yang konon kabarnya dipaksakan oleh Warner Bros. untuk masuk ke dalam The Conjuring universe ini. Dalam film tersebut, kalian akan menjumpai sesosok memedi dalam rupa wanita yang hobi menculik bocah. Bukankah itu sangat terdengar menyerupai wewe gombel? Betul kan, guys? Guys? Kalian masih di sini kan, guys? Kalau kalian masih di sini, mohon dimaafkan kejayusan ini dan perkenankan saya mengakui sesuatu: The Curse of La Llorona tentu saja bukan film horor soal wewe gombel, melainkan demit asal Meksiko berjulukan La llorona (diterjemahkan sebagai weeping woman karena sumber teror dimulai dari terdengarnya bunyi isak-isak tangis perempuan) yang kebetulan mempunyai mitos senada.

Dalam versi film yang naskahnya digubah oleh Mikki Daughtry dan Tobias Iaconis (duo penggubah narasi Five Feet Apart), La llorona dikisahkan mempunyai masa kemudian yang pedih. Suami yang dicintainya pergi meninggalkannya demi wanita lain. Ditengah kesedihannya, si demit pun tetapkan untuk membalas dendam dengan cara menenggelamkan anak-anaknya yang tidak tahu menahu soal duduk perkaranya. Usai memberi sekelumit sejarah mengenai si villain yang hidup di kurun ke-16 ini, The Curse of La Llorona lantas membawa penonton ke Los Angeles pada tahun 1973 dimana kita dipertemukan dengan seorang pegawai di dinas sosial sekaligus janda berjulukan Anna Tate-Garcia (Linda Cardellini). Dalam kasus teranyar yang mesti dihadapinya, Anna berurusan dengan seorang ibu, Patricia (Patricia Velásquez), yang mengunci kedua anaknya di dalam lemari pakaian. Berhubung Patricia memperlihatkan alasan tak logis mengenai perbuatannya tersebut, maka dinas pertolongan anak pun tetapkan untuk turun tangan dengan merenggut kedua anaknya dan menjebloskan Patricia ke dalam penjara. Untuk sesaat, Anna memang menduga Patricia telah kehilangan kendali. Tapi dikala dua bocah yang telah berada di bawah pertolongan negara ini mendadak ditemukan tewas, Anna mulai berpikir ada sesuatu yang janggal apalagi dikala beliau mendengar nama La llorona disebut-sebut. Ditengah upayanya mencari tahu soal La llorona yang lantas menghantarkannya pada salah satu abjad dari Annabelle (2014), Father Perez (Tony Amendola), kedua anaknya yaitu Samantha (Jaynee-Lynne Kinchen) dan Chris (Roman Christou), justru mulai mengalami serentetan insiden mengerikan. Ternyata oh ternyata, lambat disadari oleh Anna, La llorona ternyata sudah menjamah keluarga kecilnya!


Disandingkan dengan sesama penghuni The Conjuring universe menyerupai Annabelle serta The Nun (2018) yang kualitas penggarapannya sungguh bikin istighfar dan mengelus dada, The Curse of La Llorona memang agak lebih mendingan. Paling tidak, sutradara pendatang gres Michael Chaves memperlihatkan bahwa beliau masih mempunyai kapabilitas yang mencukupi dalam hal meramu trik menakut-nakuti. Terbukti, film mempunyai satu dua momen angker di sepanjang durasi yang dihukum dengan kengerian di level “cukup” yang muncul dalam adegan-adegan dengan kata kunci La llorona ‘menjemput’ dua anak Patricia, serangan di mobil, dan payung ‘tembus pandang’. Dalam setengah jam pertama yang belum apa-apa sudah dibombardir dengan penampakan hantu wanita bergaun pengantin ini, saya sedikit banyak bisa memafhumi alasan James Wan untuk memercayakan dingklik penyutradaraan The Conjuring 3 kepada Chaves. Pengadeganannya tergolong efektif dalam membuat penonton terlonjak dari dingklik bioskop, terlebih lagi ada tunjangan musik pembangkit bulu kuduk dari Joseph Bishara. Saya akui, diri ini pun sempat dibikin terkaget-kaget di tiga adegan tersebut yang seketika memunculkan tanya “apa lagi nih kejutan yang dipersiapkan oleh si pembuat film di menit-menit selanjutnya?”. Membawa pengharapan cukup besar alasannya dua faktor: 1) babak introduksinya meyakinkan, dan 2) bahan pengisahan yang dikedepankan memungkinkan bagi film untuk tersaji emosional, pada kesannya saya malah terbenam dalam lumbung kekecewaan begitu mendapati The Curse of La Llorona berakhir sebagai sajian horor generik yang terlampau bergantung pada penampakan tak perlu dengan iringan musik jedang-jedeng demi menjadikan rasa ngeri.

Pada mulanya, trik menampakkan hantu dengan maskara luntur ini memang menjadi uji nyali tersendiri bagi penonton gampang dikageti menyerupai saya. Tapi dikala Chaves mengulanginya lagi dan lagi dengan pendekatan tidak jauh berbeda – plus beberapa diantaranya sudah digeber di trailer – saya pun perlahan tapi niscaya mulai kebal. Bahkan, rasa takut yang tadinya muncul seketika menjelma rasa sebal saking genggesnya Mbak Rona ini. Terlalu bencong tampil euy! Mengingat beliau dijuluki sebagai weeping woman, saya berharap Chaves akan lebih mengeksploitasi bunyi tangisnya yang entah muncul darimana guna membuat nuansa creepy yang membuat bulu kuduk meremang. Sayangnya, bukan langkah tersebut yang diambil oleh sang sutradara dan beliau lebih menentukan mendaur ulang trik menakut-nakuti dari babak pertama untuk diterapkan pada babak-babak berikutnya. Jika ini belum cukup untuk memunculkan komentar “duh, sayang banget sih” maka tunggu hingga melihat perlakuannya terhadap narasi yang tersaji dengan sangat cethek. Menghadirkan sosok La llorona yang mempunyai masa kemudian pilu sebagai villain dan memunculkan abjad pahlawan dengan deskripsi single mother yang rela melaksanakan apa saja demi menyelamatkan anak-anaknya, saya sempat menduga The Curse of La Llorona bakal tampil emosional. Mengaduk-aduk emosi. Alih-alih menggali konflik dua wanita lintas kurun dan lintas dunia ini, Chaves beserta dua penulis skrip hanya memanfaatkannya sebagai hiasan semoga film tak terkesan kosong. Mereka tak pernah membuatkan penceritaan untuk membuat koneksi antara penonton dengan para karakter.


Selama durasi mengalun, saya tak pernah benar-benar bisa memahami ‘cara kerja’ si hantu (mengapa beliau menyasar keluarga tertentu? Apa hanya keluarga hispanik yang disasarnya? Mengapa beliau bisa hijrah ke Los Angeles? Benarkah satu-satunya terusan masuk ke rumah hanya melalui pintu?) dan tak pernah pula bisa berempati kepada Anna. Disamping karakterisasinya memang datar, saya pun tak bisa mendapatkan fakta jikalau Anna nekat memboyong kedua anaknya ke TKP pada tengah malam yang menjadi awal mula kemunculan teror bagi keluarga Garcia. Maka begitu keluarga ini dirundung oleh teror, saya sukar untuk menaruh kekhawatiran karena tak ada afeksi kepada mereka dan para abjad terlampau sering mengambil keputusan yang membuat saya ingin mengeluarkan meme “jangan ngatain, jangan ngatain.” Syukurlah Raymond Cruz sebagai Rafael yang membantu mengusir arwah La llorona mampu tampil menghibur dengan celetukan-celetukan konyolnya sehingga babak pamungkas The Curse of La Llorona masih mengandung sisi fun meski saya sendiri mulai mencurigai nasib The Conjuring 3.

Acceptable (2,5/5)