October 19, 2020

Review : The Dark Knight Rises


“When Gotham is ashes, you have my permission to die.” – Bane 

Setelah The Dark Knight yang hadir dengan sangat menawan empat tahun silam, serta mengumpulkan Dollar secara gila-gilaan, maka beban di bahu Nolan teramat sangat besar. Bagaimana caranya mengakhiri trilogi ini dengan spektakuler terutama sesudah bab keduanya eksklusif memuncak? Dari apa yang terjadi kepada sejumlah film superhero penyesuaian komik yang melejit di bab kedua, jilid ketiganya nyaris tak bisa berbuat apapun karena segalanya sudah terlanjur mengagumkan di film keduanya. Hal yang sama bisa saja terjadi pada trilogi Ksatria Hitam ini. Terlebih, hype yang diciptakannya begitu besar, menggema dimana-mana, melebihi film apapun yang dirilis di tahun 2012 ini. Harapan masyarakat, khususnya para ‘hardcore fans’ komik Batman dan Nolan, pun teramat besar. Apakah The Dark Knight Rises bisa menjadi sebuah konklusi yang tepat dari Batman Nolan? Bagi saya, ya, film ini ialah sebuah hidangan epilog yang manis dan memuaskan. Tidak semenggelegar dan segegap gempita menyerupai yang saya harapkan, namun tetap saja ini ialah sebuah film yang tidak seharusnya Anda lewatkan apalagi kalau Anda mengaku sebagai pemuja Batman dan Christopher Nolan. 

Anda tidak perlu merasa khawatir dengan resensi yang saya tulis ini apabila belum menyaksikan The Dark Knight Rises di layar lebar. Saya tidak sesadis Joker yang menebar ranjau disana sini. Sebisa mungkin, resensi ini menghindari spoiler. Twist ialah bab terpenting dari jilid selesai sepak terjang Sang Ksatria Hitam milik Christopher Nolan ini. Akan tetapi kalau Anda merasa bahwa apa yang akan saya beberkan disini berpotensi merusak kenikmatan Anda dalam menonton, maka sebaiknya Anda pendam saja hasrat untuk membaca sampai usai menikmati hidangan epilog dari Paman Nolan. The Dark Knight Rises bersetting delapan tahun sesudah sejumlah bencana dalam The Dark Knight terjadi. Film dibuka dengan Komisaris James Gordon (Gary Oldman) yang menawarkan penghormatan terakhir untuk Harvey Dent yang telah dianggap sebagai seorang pahlawan bagi masyarakat Gotham City. Pada awalnya, Gordon berniat untuk mengungkap kedok Dent dalam pidatonya ini. Akan tetapi, ia mengurungkan niatnya dengan pertimbangan masyarakat belum siap untuk mendapat sebuah kenyataan pahit. Dengan terpaksa, ia membuat sebuah kebohongan. Batman (Christian Bale) dijadikan sebagai kambing hitam atas kematian Dent. Nyaris semua lapisan masyarakat memercayai hal ini. Batman menjadi buronan. Sosok di balik kostum kelelawar tersebut, Bruce Wayne, menghilang dari peredaran. Dia asyik mendekam dalam rumah mewahnya. 
Dengan absennya si insan kelelawar, para pelaku tindak kriminal melihat ini sebagai sebuah kesempatan emas untuk menguasai Gotham City. Bane (Tom Hardy), yang bentuk topengnya membuat ia terlihat bagaikan Hannibal Lecter versi kekar, menjaring pasukan untuk memporak-porandakan Gotham. Hanya dengan sedikit sentuhan saja, Bane sanggup menyingkirkan semua pegawapemerintah keamanan, menghancurkan pasar saham dan sebuah lapangan futbol. Keadaan menjadi kian memanas ketika Bane membocorkan diam-diam seputar Dent yang selama ini ditutup rapat oleh Gordon. Masyarakat merasa ditipu. Revolusi kaum anarki pun dimulai. Gotham lumpuh. Di ketika menyerupai inilah, Batman dibutuhkan. Sang Ksatria Hitam harus bangun untuk menyelamatkan kota tercinta yang berada di ambang kehancuran. Seperti itulah garis besar dari The Dark Knight Rises. Masih banyak yang belum saya paparkan disini. Anda harus mencari tahu sendiri. Naskah yang dikerjakan oleh The Nolans padat berisi. Beberapa pertanyaan yang selama ini mengemuka terjawab dengan cukup memuaskan disini. Durasi yang terbilang panjang sama sekali tidak terasa melelahkan karena kelihaian The Nolans dalam mengolah cerita, ketepatan dalam menempatkan sejumlah konflik sampai pembongkaran dalam konklusi yang epik. Selapis demi selapis apa yang penonton ingin ketahui terkuak. Dengan cara menyerupai ini, rasa ingin tahu penonton berhasil terbangun. Akan tetapi, ada konsekuensi yang harus diterima oleh Nolan akhir ambisi besarnya demi mencapai sebuah epilog yang megah. Hampir tidak mungkin menjejalkan seabrek subplot dan huruf dalam durasi yang serba terbatas. Beberapa huruf dan plot menjadi kurang fokus, tergarap kurang maksimal, dan cenderung terbengkalai. Lihat saja bagaimana nasib Miranda Tate (Marion Cotillard), miliarder yang dipercaya oleh Bruce Wayne untuk menyelamatkan Wayne Enterprises dari keterpurukan, serta Peter Foley (Matthew Modine). Mempunyai tugas besar dalam film, namun tersia-siakan. 
Film dimulai dengan perlahan dan suram, setidaknya dalam 30 menit pertama. Setelah sebuah adegan pembuka yang memacu adrenalin, Nolan mulai menurunkan tensi. Paruh awal ini bisa jadi agak sedikit membosankan bagi sebagian orang, namun saya cukup menikmatinya. Arus yang mengalir damai membuat saya berkesempatan untuk mengenal lebih jauh Bruce Wayne serta para tokoh gres yang jumlahnya tidak bisa dikatakan sedikit. Sesekali humor khas Alfred Pennyworth (Michael Caine) berhasil melumerkan suasana yang seringkali sendu dan depresif. Sejumlah tokoh gres yang hadir disini antara lain Selina Kyle (Anne Hathaway), Miranda Tate, dan John Blake (Joseph Gordon-Levitt). Anda tentu sudah mengenal Selina Kyle. Dia ialah Catwoman. Tidak menyerupai versi Michelle Pfeiffer dalam Batman Returns yang cenderung genit, seksi, dan menarik hati – namun sangat tepat sampai sulit untuk ditandingi siapapun – maka Hathaway lebih menonjolkan sisi smart dan humoris dari sosok ini – sebagai catatan, nama Catwoman sama sekali tidak disebutkan disini. Dengan cara yang berbeda dari Pfeiffer, Hathaway bisa menghidupkan huruf ini dengan cemerlang. Sementara Marion Cotillard, menyerupai biasa, sama sekali tidak mengecewakan. Walaupun porsi tokoh yang dimainkannya serba tanggung, Cotillard tetap berhasil menyihir saya dengan gaya bicaranya yang… ah, menggoda. Joseph Gordon-Levitt, tetaplah seorang Joseph Gordon-Levitt. Sejak pertama kali mencuat lewat (500) Days of Summer sampai sekarang, tidak ada perubahan yang menonjol darinya. Penampilan yang sama dan gaya yang sama. Sulit untuk memandangnya sebagai seorang John Blake. 
Dari formasi cast, selain Hathaway, saya berhasil dibentuk terpesona oleh penampilan Michael Caine dan Tom Hardy yang sungguh luar biasa. Setiap momen bersama Caine terasa istimewa. Untunglah, untuk sekali ini, Alfred mendapat jatah tampil yang memadai sehingga memungkinkan bagi Caine untuk menunjukkan kemampuan akting kelas wahidnya dengan tampilan emosi yang begitu kuat. Simak adegan ketika Alfred menceritakan isi surat Rachel Dawes yang gotong royong kepada Bruce. Sulit untuk tidak meneteskan air mata melihat lisan penyesalan yang teramat ikhlas dari Alfred alasannya harus menyembunyikan kenyataan dari orang yang sangat disayanginya. Saya berhasil mencicipi rasa sakitnya. Namun, tentu saja, Tom Hardy akan menjadi yang paling banyak dibicarakan mengingat posisinya sebagai musuh utama dari Batman. Bayang-bayang Heath Ledger yang menawarkan sebuah penampilan yang sulit untuk ditandingi di film sebelumnya masih juga belum redup. Tom Hardy yang membawakan tugas Bane dengan apik – gestur tubuhnya meyakinkan – menjadi ‘korbannya’ sekalipun Joker dan Bane memiliki penokohan yang berbeda. Teror yang ditebar oleh Joker terasa lebih mengerikan ketimbang agresi brutal yang dirancang oleh Bane. 
Setelah berjalan dengan lambat dan suram pada paruh awal, The Dark Knight Rises perlahan tapi niscaya kembali meningkatkan tensinya sampai menuju ke sebuah epilog yang megah, seru, dan mengharukan. Terima kasih banyak kepada Hans Zimmer yang telah melengkapi jilid ini dengan musik skor gubahannya yang luar biasa sehingga setiap adegan dalam film ini menjadi kian bertenaga dan enak untuk dinikmati. Christopher Nolan berhutang banyak kepada Hans Zimmer. Dan bagi Anda yang mengharapkan adegan agresi yang jor-joran dengan efek khusus yang mencengangkan, jangan keburu kecewa. Walaupun Anda tidak akan menemukannya disini, namun Anda akan tetap menemui serangkaian adegan agresi yang intens. Sebagai sebuah penutup, The Dark Knight Rises memang tidak mengecewakan, sama sekali lumayan malah. Nolan menawarkan hampir semua yang diinginkan oleh fans Batman dan film-filmnya. Seri epilog dari trilogi Sang Ksatria Hitam ini dibentuk dengan lebih ambisius, lebih megah, lebih dalam, lebih suram, lebih rumit, dan lebih seru dari sebelumnya. Walaupun bagi saya Batman Begins dan The Dark Knight masih lebih unggul, khususnya dalam hal penceritaan, The Dark Knight Rises tetaplah sebuah konklusi epik dari Batman Nolan yang akan teramat sayang kalau dilewatkan begitu saja.

Exceeds Expectations