October 18, 2020
Film / REVIEW / US

Review : The Emoji Movie


“My feelings are huge. Maybe I’m meant to have more than just one emotion! I have so much more.” 

Kita telah melihat bagaimana riuhnya interaksi antar mainan ketika ditinggal pergi sang majikan dalam trilogi Toy Story. Kita telah menyaksikan bagaimana serunya petualangan mengarungi dunia arcade game melalui Wreck-It Ralph. Dan kita juga telah menjadi saksi bagaimana peliknya contoh kerja para emosi kala menjalankan tugasnya dalam badan insan lewat Inside Out. Lalu, kapan kita akan mengintip dongeng rahasia para emoji di ponsel cerdas yang terang mempunyai donasi penting atas kesuksesan atau kegagalan tersampaikannya suatu pesan teks? Ternyata, tidak membutuhkan waktu usang bagi petinggi studio di Hollywood untuk merealisasikannya. Menyadari bahwa fenomena penggunaan emoji di kalangan generasi milenial kian merebak dan terinspirasi dari kesuksesan yang direngkuh Disney/Pixar, Sony Pictures Animation pun mengajukan konsep kurang lebih senada yang tak kalah ambisius mengenai dunia para emoji di dalam sebuah aplikasi ponsel melalui karya terbaru mereka bertajuk The Emoji Movie. Ditunjuk untuk mengomandoi proyek animasi kedelapan Sony yakni Tony Leondis yang sebelumnya mengarahkan Lilo & Stitch 2 dan Igor

Protagonis utama dalam The Emoji Movie yakni sebuah emoji berwarna kuning yang mewakili lisan ‘meh’ berjulukan Gene (disuarakan oleh T.J. Miller). Tidak ibarat emoji lain di Textopolis – sebuah kota digital dalam suatu aplikasi perpesanan di ponsel cerdas milik seorang cukup umur usia belasan berjulukan Alex (Jake T. Austin) – yang merepresentasikan satu lisan saja, Gene sanggup memperlihatkan banyak sekali macam lisan ibarat bahagia, sedih, hingga jatuh cinta. Kelebihan yang dimiliki Gene ini nyatanya dianggap sebagai malfungsi bagi sang pemimpin, Smiler (Maya Rudolph), karena Gene tanpa sengaja memasang lisan keliru ketika dipilih Alex untuk membalas pesan kepada gadis yang ditaksirnya. Kekacauan ini menyebabkan Smiler naik pitam sehingga menitahkan sejumlah bot antivirus untuk menghapus Gene dari aplikasi. Mengetahui keselamatannya terancam, Gene pun melarikan diri ke luar aplikasi perpesanan dengan impian menemukan cara yang sanggup mengubahnya menjadi ‘meh’ sejati. Di tengah-tengah pelarian, Gene bertemu dengan emoji tos yang terbuang, Hi-5 (James Corden), dan pemecah instruksi handal, Jailbreak (Anna Faris), yang bersedia mengulurkan tangan untuk membantu Gene mengubah jati dirinya.

Konsep yang diusung The Emoji Movie bahu-membahu bisa dibilang unik dan menarik. Jika Wreck-It Ralph membawa kita memasuki dunia di dalam kotak arcade game dan Inside Out memandu kita menyelami otak manusia, The Emoji Movie mengajak serta penonton untuk menengok kehidupan di dalam suatu ponsel cerdas dimana masing-masing aplikasi mempunyai komunitasnya sendiri-sendiri. Sayangnya, high-concept ini tidak dibarengi dengan naskah mumpuni yang bisa menjerat ketertarikan penonton dari banyak sekali lapisan usia secara penuh. Plotnya berikut pesan positifnya yang masih berkisar pada pencarian jati diri, persahabatan, serta penerimaan tak pernah digali lebih mendalam dan sekadar berada di permukaan saja. Selama durasi berlangsung, jangankan Hi-5 dan Jailbreak, kita tidak benar-benar memahami betul sosok Gene sehingga agak menyulitkan penonton untuk membentuk ikatan sekaligus memperlihatkan proteksi penuh terhadap perjuangannya. Yang lantas memunculkan ketertarikan dalam mengikuti petualangan tiga huruf terpinggirkan ini yakni bagaimana si pembuat film menggambarkan universe di dalam ponsel Alex yang dikategorisasi menurut aplikasi. Dalam setiap aplikasi, senantiasa muncul tantangan dengan tingkat kesulitan bermacam-macam yang mesti ditaklukkan oleh Gene, Hi-5, dan Jailbreak. 

Dari tantangan inilah, The Emoji Movie memperlihatkan daya pikatnya. Ada kesenangan tersendiri menyaksikan bagaimana ketiga protagonis ini berjibaku dengan tantangan menari dalam permainan Just Dance, bagaimana mereka berjumpa dengan virus-virus perusak di aplikasi tersembunyi, bagaimana mereka mengatasi arus yang mengikuti irama musik selama berlayar mengarungi Spotify, dan bagaimana Gene serta kedua teman barunya berupaya menemukan kata sandi yang sempurna untuk menembus firewall. Ya, intinya The Emoji Movie masih berada di level bisa dinikmati dan tidak senista ibarat dibilang para kritikus di luar sana yang menghujatnya habis-habisan seakan-akan film ini mempunyai kualitas lebih memprihatinkan ketimbang Happily N’Ever After (2006) atau Hoodwinked Too! (2011). Paling tidak, visual dalam The Emoji Movie terhitung cukup imajinatif dan beberapa lontaran humornya masih ampuh mengundang tawa renyah sekalipun plotnya kekurangan emosi serta sama sekali tidak bergigi untuk ukuran film berkonsep tinggi. Penonton cilik yang menjadi sasaran utama The Emoji Movie pun kemungkinan besar masih akan terhibur oleh pilihan warnanya yang cerah ceria serta animasinya yang hiperaktif.

Note : The Emoji Movie mempunyai sebuah adegan suplemen di pertengahan credit title.

Acceptable (3/5)