July 3, 2020

Review : The Equalizer 2


“We all got to pay for our sins.” 
Sepintas lalu, Robert McCall (Denzel Washington) tampak menyerupai laki-laki paruh baya yang mengasihi kedamaian. Jangankan beradu argumen dengan seseorang yang mempunyai perspektif bertentangan dengannya, untuk sebatas membunuh seekor nyamuk yang berlalu lalang mengganggu tidurnya di malam hari saja, beliau tampaknya enggan melakukannya. Ya, McCall terlihat sangat normal, sangat baik hati, dan sangat bijaksana. Orang-orang di sekitarnya merasa segan kepadanya alasannya ialah beliau menyampaikan wibawa dari seorang laki-laki terhormat, bukan alasannya ialah beliau mempunyai tatapan atau tendangan yang mematikan. Di jilid perdana The Equalizer yang didasarkan pada serial televisi berjudul sama dari kala 1980-an, McCall tak ubahnya rekan kerja yang bijaksana dan bukan penggemar intrik kantor. Dalam The Equalizer 2 yang masih ditangani oleh Antoine Fuqua (Training Day, The Magnificent Seven), beliau bertransformasi menjadi seorang pengemudi taksi online yang berkenan meminjamkan telinganya untuk mendengar keluh kesah penumpangnya sekaligus seorang tetangga yang ramah dan bersedia mengulurkan santunan bagi siapapun yang membutuhkan. Jika berpatokan pada pembawaan serta penampilannya yang cenderung santun ini, siapa sih bisa mengira bahwa McCall dibekali training dan kemampuan mumpuni untuk membekuk lawannya dalam satu kali percobaan? 

Rasa-rasanya sih, tidak ada. Robert McCall ialah deskripsi tepat dari pepatah klasik yang menyampaikan “jangan nilai buku dari sampul luarnya.” Kedoknya sebagai laki-laki paruh baya normal, memungkinkan McCall untuk menjalankan misinya dalam menyeimbangkan dunia dengan memberi pembalasan kepada mereka yang telah bertindak zalim tanpa pernah sekalipun mendapat sorotan. Dia bisa menyelamatkan seorang bocah yang diculik oleh ayahnya sendiri di Turki, beliau sanggup menghajar hingga babak belur sekumpulan cerdik balig cukup akal berduit yang gres saja menyengsarakan seorang perempuan, dan beliau bisa menghindarkan seorang cerdik balig cukup akal berbakat, Miles Whittaker (Ashton Sanders), dari harapan untuk bergabung dengan geng setempat demi mendapat penghasilan. Disamping itu, McCall pun dipercaya oleh orang-orang di sekitarnya, menyerupai seorang penyintas Holocaust yang terpisah dari adiknya, untuk mendengarkan dongeng mereka. Hanya saja, harapan McCall untuk melanjutkan pilihan hidupnya yang tenang ini seraya membaca sejumlah buku rekomendasi mendiang istrinya, mendadak terusik dikala beliau mendapat kabar bahwa sahabat baiknya, Susan Plummer (Melissa Leo), dibunuh dalam perjalanan dinasnya. McCall tentu tak bisa tinggal membisu dan beliau lantas memutuskan untuk memburu siapapun yang bertanggung jawab atas terbunuhnya Susan. 

Selaiknya jilid pendahulu, Fuqua tak bergegas dalam menuturkan kisah dalam The Equalizer 2. Dia kembali menerapkan pendekatan slowburn dengan membangun ketegangan yang diharapkan oleh film secara perlahan-lahan. Kita memang mendapati aksi-kelahi cukup seru sebagai sajian pembuka, tapi di sepanjang satu jam berikutnya, film lebih menekankan pada sisi kemanusiaan dari McCall yang berhasrat untuk menegakkan keadilan. Satu-satunya pertarungan yang bisa kita dapatkan dalam periode tersebut yakni ketika McCall memberi ganjaran kepada para lelaki tak bertanggung jawab. Selebihnya diisi oleh interaksi-interaksi yang tumbuh berkembang antara si protagonis utama dengan Miles yang diangkatnya sebagai anak didik beserta orang-orang di sekeliling McCall, menyerupai Sam Rubinstein si penyintas Holocaust, Susan yang menjadi satu-satunya sahabat McCall, dan penumpang-penumpang taksi online-nya. Kalaupun ada sentakan lain pada titik ini ialah masalah pembunuhan sepasang suami istri di Belgia yang nantinya mempunyai keterkaitan dengan plot utama dari film. Memerlukan kesabaran (dan kondisi badan yang prima) supaya bisa mencerna sederet pembicaraan bernada lambat yang menghiasi separuh durasi awal ini tanpa diselingi kantuk, terlebih tidak seluruh subplot yang dicelotehkan di sini mempunyai daya pikat yang sama kuat. Satu-satunya yang menarik, bagi saya, ialah hubungan mentor-murid antara McCall dengan Miles. 
Selebihnya hanya dipergunakan untuk memenuhi kuota durasi tanpa pernah mempunyai impak signifikan kepada pergerakan kisah. Justru, keberadaannya ini menghambat laju The Equalizer 2 untuk mengalun secara mulus sampai-sampai memunculkan pertanyaan, “apa bahwasanya permasalahan pokok yang hendak dikulik oleh film ini?.” Penonton tidak mendapat jawabannya hingga film menapaki separuh durasi. Sulit untuk disangkal, saya pun sempat terjangkit jemu karena narasi yang serasa di jalan tempat. Jika ada yang sanggup menciptakan mata tetap melek, maka itu ialah dialog-dialog filosofis mengenai kehidupan yang menggugah beserta performa dari Denzel Washington yang karisma memancarnya seakan-akan merayu saya dengan berkata, “tenang saja, semua ini akan terbayar dengan impas. Ada alasan dibalik keputusanku mengambil tugas ini lagi.” Benar saja, mengikuti pendekatan dari film pertama, ketenangan yang menghiasi babak pertama perlahan mulai raib di babak kedua utamanya selepas kita mendapati konflik sesungguhnya yang berkenaan dengan pembunuhan berencana. Adegan investigasinya sih kurang greget, tapi ada dua momen mendebarkan patut dikenang yang mencuat di The Equalizer 2. Pertama, upaya pembunuhan terhadap McCall di dalam taksi berjalan yang berujung pada pergulatan hebat, dan kedua, konfrontasi simpulan berlatarkan angin puting-beliung yang berhembus dengan kencang. Keberadaan dua momen keren tersebut bisa membayar impas penantian panjang cukup melelahkan yang berlangsung di lebih dari satu jam sebelumnya.

Acceptable (3/5)