October 20, 2020

Review : The Gallows

Mungkin membutuhkan waktu cukup usang bagi penonton awam untuk menemukan tanggapan yang sempurna atas pertanyaan, “kapan terakhir kali film angker berkonsep found footage mencengkrammu erat?” sementara bagi pecinta tontonan horor kelas berat, sanggup jadi jawabannya ditemukan pada The Taking of Deborah Logan (surprisingly good!). Dimanapun posisimu, sulit untuk ditampik bahwa semakin langka menemukan hidangan yang meninggalkan kesan mendalam pada subgenre ini dengan Hollywood berulang kali meluncurkan tontonan berkualitas menyedihkan – halo, Devil’s Due dan The Pyramid! – ke layar perak dalam beberapa tahun terakhir sehingga tak mengherankan kalau lantas skeptisisme melanda para penggemar film horor found footage. Kepercayaan yang mulai meluntur ini pun sepertinya belum sanggup dibangkitkan dalam waktu erat oleh hidangan terbaru dari Blumhouse Productions, rumah produksi yang memberi kita Paranormal Activity, Insidious, dan seabrek film horor lain, bertajuk The Gallows yang sekalipun berada di level cukup terhormat tapi terang tidak dibekali daya mencukupi untuk menciptakan penonton kembali yakin. 

Gagasan yang dikemukakan oleh The Gallows sejatinya menarik, menyoal urban legend berwujud kisah hantu di sebuah sekolah menengah yang semuanya dimulai di tahun 1993 ketika pementasan drama berjudul ‘The Gallows’ berbuntut bencana dengan tewasnya Charlie Grimille karena properti mengalami malfungsi. Selama belasan tahun sejak kejadian tersebut, pihak sekolah menghentikan pementasan ‘The Gallows’ sampai diputuskan untuk dibangkitkan kembali dua tahun kemudian. Seorang atlet football berjulukan Reese (Reese Mishler) memutuskan terlibat dalam produksi ini semata-mata demi mendekati gadis yang ditaksirnya, Pfeifer (Pfeifer Brown), meski pada kenyataannya ia tidak mempunyai talenta akting yang mumpuni. Demi ‘menyelamatkan muka’ Reese, sahabat baiknya yang menjengkelkan, Ryan (Ryan Shoos), bersama sang kekasih, Cassidy (Cassidy Gifford), berinisiatif menggagalkan pertunjukkan dengan cara menyelinap masuk ke sekolah di malam menjelang hari-H untuk mengobrak abrik panggung. Awalnya tentu saja berjalan sesuai rencana, sampai hantu Charlie yang selama ini menjadi materi cerita-cerita angker menyambut kedatangan mereka. 

Duo sutradara pemula, Travis Cluff dan Chris Lofing, memulai langkah The Gallows secara mantap dengan memberi penonton mimpi jelek melalui rekaman Charlie meregang nyawa di atas panggung yang memunculkan kesan nyata. Walau berlangsung singkat, opening scene dari The Gallows yang boleh dibilang merupakan salah satu pembuka terbaik di ranah film memedi dalam beberapa tahun terakhir ini, tergolong efektif dalam menimbulkan rasa kejut pula takut sekaligus membangkitkan mood penonton untuk mengetahui seberapa jauh si pembuat film akan menggeber teror demi teror sepanjang durasi. Menyusul prolog yang mengejutkan ini, The Gallows mengaplikasikan gaya bertutur film sejenis yang tidak cepat memanas dengan menit-menit awal diisi percakapan-percakapan menjemukan seraya memperkenalkan setiap aksara (termasuk mereka yang tidak mempunyai bantuan signifikan terhadap guliran alur secara keseluruhan sekalipun) kepada penonton. Film kembali mendapat sisi menariknya tatkala Reese dan konco-konco mendobrak masuk ke sekolah pada malam hari dengan nuansa creepy semerbak tercium di setiap sudut. 
Ya, dilema yang menjumpai setiap aksara memang terlampau klise: masuk, terjebak, terteror, dan… (isi sendiri), dengan skrip yang tergolong menggelikan khususnya di penggalan konklusi, tapi The Gallows masih mempunyai sisi mengasyikkannya sendiri berkat cakapnya pergerakan kamera – walau seringkali mencederai budi – dan trik menakut-nakuti sekalipun busuk sanggup dipergunakan secara sempurna guna oleh Cluff serta Lofing. Duo sutradara ini tahu betul kapan ketika yang sempurna dalam memunculkan jumpscares biar tak berkesan mubazir sehingga penonton sanggup dibentuk terlonjak dari dingklik bioskop, menahan nafas, sekaligus sesekali menjerit. Masih ditemukannya kesenangan disana sini, terutama menginjak babak kedua ketika berkejar-kejaran dengan selesai hidup dimulai sampai menjelang tutup durasi ketika tersisa satu dua tokoh berjuang mempertahankan diri, menempatkan The Gallows di level lebih terhormat ketimbang sederet film horor berkonsep found footage dalam beberapa tahun terakhir. Walau bukan juga sebuah tontonan yang istimewa atau mengatakan pembaharuan di genrenya, setidaknya The Gallows tidak mengabaikan satu faktor yang membuatnya masih cukup layak buat disimak: fun.

Acceptable