September 29, 2020

Review : The Gangster The Cop The Devil


“For a gangster, reputation is everything.”

Bagaimana jadinya ketika seorang pemimpin gangster yang ditakuti oleh banyak pihak mesti bekerja sama dengan seorang detektif muda yang cenderung congkak dalam meringkus seorang pembunuh berantai yang licin? Terdengar menyerupai premis yang menggiurkan untuk diusung oleh sebuah film beraroma action-thriller dengan sedikit sentuhan komedi, bukan? Dan memang, ini yaitu premis yang diutarakan The Gangster The Cop The Devil garapan Lee Won-tae (Spellbound, Man of Will) yang konon kabarnya didasarkan dari kejadian kasatmata yang pernah terjadi di Korea Selatan. Si pembuat film mencoba menghadirkan sebuah tontonan berpakem buddy movie dimana dua aksara dengan kepribadian bertolak belakang dituntut untuk membentuk suatu tim demi merampungkan suatu misi secara bersama-sama. Dalam konteks film ini, dua aksara ini berasal dari dua dunia yang sangat jauh berbeda: yang satu yaitu pemimpin organisasi kriminal yang sebisa mungkin dihindari apabila tidak ingin terjerat duduk kasus pelik (bahkan oleh pihak kepolisian sekalipun!), sementara satunya yaitu detektif ambisius yang acapkali bertindak diluar aturan termasuk mencampuri urusan gangster yang mempunyai koneksi dengan para penegak keadilan. Mengingat mereka mempunyai latar belakang, jalan pemikiran, serta tujuan hidup yang tak selaras, bukankah ini mengusik keingintahuanmu untuk mengetahui cara kerja mereka? Maksud saya, mereka terperinci bukan pasangan yang biasa-biasa saja.

Karakter gangster yang dimaksud The Gangster The Cop The Devil adalah Jang Dong-soo (Ma Dong-seok, Train to Busan) yang reputasinya sebagai kepala organisasi kriminal di Cheonan tidak perlu dipertanyakan lagi. Dia dikenal tangguh, berbahaya, sekaligus lihai dalam berbisnis. Jangan bertindak macam-macam dengan Jang Dong-soo apabila kau masih ingin anggota tubuhmu utuh dan berfungsi secara normal. Begitulah aturan yang dipegang erat-erat oleh rekan-rekan sejawatnya sekaligus penegak aturan di Cheonan. Reputasi sebagai seorang gangster kelas kakap yang telah dibangun dengan susah payah oleh Jang Dong-soo ini mendadak terancam tatkala beliau diserang oleh seorang pembunuh berantai berinisial K (Kim Sung-kyu) pada suatu malam. Jang Dong-soo yang menanggung aib pun seketika menitahkan anak buahnya untuk melacak keberadaan K, kemudian menghabisinya. Belum juga perburuan dimulai, Jang Dong-soo disambangi detektif muda berjulukan Jung Tae-suk (Kim Mu-yeol) yang sedang berupaya memeriksa masalah pembunuhan yang dilakukan K. Jung Tae-suk yang berambisi untuk naik jabatan tapi kinerjanya kerap dianggap sebelah mata oleh atasannya yang korup ini mengajukan penawaran kerjasama kepada Jang Dong-soo yakni mereka akan menyatukan kekuatan masing-masing untuk mendapat K. Meski mulanya ragu-ragu karena tidak memercayai pihak kepolisian, Jang Dong-soo pada akibatnya menyepakati kerjasama ini dengan prinsip, “musuh dari musuhku yaitu temanku.”


Walau memboyong premis yang menggigit seputar perburuan terhadap ‘sesosok iblis’ berkedok insan oleh dua pihak yang turut menyimpan sisi iblis dalam jiwa masing-masing, The Gangster The Cop The Devil tak pernah benar-benar tampil menjulang. Lee Won-tae melantunkannya kolam film laga generik dari Negeri Gingseng yang cenderung mementingkan untuk menggenjot adrenalin alih-alih mengusik anutan penonton. Ya, apabila pengharapanmu terhadap tontonan ini adalah: 1) menyaksikan momen-momen laga yang meminta kita untuk menghela nafas, dan 2) menyimak sajian yang sanggup membuat jantung berdegup kencang sekaligus bersemangat berkat tata laga mengasyikkan, maka The Gangster The Cop The Devil telah sanggup untuk memenuhinya. Saya langsung tidak keberatan dengan pendekatan yang ditempuh oleh si pembuat film sekalipun terbersit pula rasa menyayangkan karena film ini sejatinya mempunyai kesempatan dalam mengeksplorasi guliran penceritaannya. Karakter K yang mengedepankan modus operandi “menabrak kendaraan beroda empat korban dari belakang” tak pernah benar-benar dijabarkan motif maupun latar belakangnya. Kim Sung-kyu memang terlihat mengerikan sekaligus menyebalkan sebagai si buronan. Tapi melihat performa apiknya, saya justru mendamba karakternya lebih dari sekadar villain satu dimensi. Di sini, kita hanya sanggup membenci K dan kita hanya berharap duo wagu yang terdiri dari seorang kepala gangster dan detektif muda menjebloskannya ke neraka dunia. Tidak ada kompleksitas pada karakteristiknya yang meminta penonton untuk memahami tindakan-tindakannya.

Dua protagonis yang berada di area abu-abu, Jang Dong-soo dan Jung Tae-suk, pun mengalami duduk kasus serupa. Karakter mereka ditulis secara tipis tanpa pernah membuat penonton mengenal secara lebih intim. Kita hanya mengetahui dari permukaan saja; Jang Dong-soo yaitu gangster yang sangar, sedangkan Jung Tae-suk yang berada di barisan polisi idealis mempunyai perangai tergolong tengil. Selaiknya musuh bersama keduanya, karakter-karakter ini sangat terbantu oleh lakon ciamik dari para pemainnya. Kim Mu-yeol memberi secercah keceriaan ditengah nada penceritaan yang sepaneng dengan celetukan berikut polahnya yang ugal-ugalan, kemudian Ma Dong-seok yang nantinya akan kembali berperan dalam versi remake (yes, Sylvester Stallone sudah mendekap hak pembuatan ulangnya!) merupakan magnet bantu-membantu bagi film ini. Sosok gangster di tangannya didefinisikan secara mantap: berangasan nan mengerikan, tapi masih menyimpan kelembutan hati yang memudahkan bagi penonton untuk memberinya dukungan. Mereka membuat chemistry padu yang memberi penegasan bahwa kerja sama nyeleneh ini mungkin terjadi dengan segala dinamikanya. Disamping performa pemain, satu hal lain yang mengangkat derajat The Gangster The Cop The Devil adalah kapabilitas Lee Won-tae dalam mengkreasi adegan laga. Usai paruh awal yang berjalan santai (tipikal film Korea lah), film secara perlahan tapi niscaya mulai menggila selepas kerjasama tersembunyi antara gangster dengan polisi diresmikan. Sederet adegan laga yang erat kaitannya dengan gebuk-gebukan, kebut-kebutan, hingga kesadisan tak saja akan menggenjot adrenalinmu tetapi juga membuat momen sulit dilupakan. Seusai film berakhir, saya masih terkenang dengan adegan “samsak manusia”, copot gigi, dan “threesome mobil” di gang sempit.

Exceeds Expectations (3,5/5)