October 20, 2020

Review : The Grudge (2020)


“I went to the house. I think something followed me home.”

“Astaghfirullah” ialah reaksi pertama yang saya lontarkan selepas menyaksikan interpretasi gres dari The Grudge pada malam tahun gres kemarin. Sebuah reaksi yang umumnya muncul seusai hamba menonton sebuah film yang membuat stok kesabaran menipis. Bayangkan, ketimbang bersuka cita bersama kawan-kawan dekat, menyantap masakan lezat, atau melihat para musisi mempertontonkan kecintaannya pada musik di atas panggung, saya justru menghabiskan 90 menit untuk duduk di dalam bioskop guna menyimak sebuah tontonan yang sama sekali tidak mempunyai suka cita di dalamnya. Yang ada hanyalah penderitaan, penderitaan, dan kebosanan. Hingga pada satu titik, saya meyakini bahwa penderitaan yang dialami oleh para huruf dalam film ini tak sebanding dibanding penderitaan yang harus dilewati penonton yang telah memutuskan untuk menentukan The Grudge sebagai film epilog di tahun 2019 (atau film pembuka 2020). Entah apa yang telah merasuki saya sampai-sampai nekat menebus satu tiket tontonan memedi ini sekalipun masih dibuat trauma oleh Rings (2017) yang tak kalah amsyongnya. Usai mengolesi kepala memakai satu botol minyak angin beraroma terapi kemudian melahap sepiring steak sebagai comfort food, saya pun bisa kembali berpikir jernih untuk berkata ternyata ada dua alasan utama yang melatarinya: 1) kecintaan pada franchise Ju-On (atau The Grudge untuk remake) yang mempunyai satu huruf demit sensasional berjulukan Kayako, dan 2) jejak rekam sang sutradara, Nicolas Pesce (The Eyes of My Mother), yang cukup meyakinkan. Ditambah lagi adanya fakta bahwa Sam Raimi turut bertindak sebagai produser, saya tentu optimis The Grudge versi anyar ini akan lebih mendingan ketimbang dua jilid pendahulunya yang ternyata oh ternyata terbukti salah kaprah. Duh, duh, duh…

Sebelum saya lanjutkan kembali sesi mengeluh dan curhat colongan, izinkan diri ini untuk mewartakan jalan dongeng dari The Grudge. Membawa penonton kembali ke satu dekade silam, film memperkenalkan kita dengan Detektif Muldoon (Andrea Riseborough) yang gres saja pindah ke sebuah kota kecil bersama putra semata wayangnya guna menyembuhkan kepedihan hati akhir meninggalnya sang suami. Tak berselang lama sejak dirinya kembali aktif bekerja, Muldoon bersama rekan kerjanya, Detektif Goodman (Demian Bichir), ditugaskan untuk menyelidiki satu inovasi mayat. Konon, mayit yang diidentifikasi sebagai Lorna Moody (Jacki Weaver) itu ditemukan telah membusuk di dalam mobilnya yang merangsek ke dalam hutan. Untuk satu dan lain alasan, Goodman menolak mencari tahu lebih jauh mengenai penyebab kematian Lorna. Namun Muldoon yang notabene masih gres di kota justru merasa penasaran. Terlebih, beliau mengetahui bahwa masalah ini mempunyai keterkaitan dengan masalah yang pernah ditangani oleh Goodman dua tahun lalu. Sebuah masalah yang mengakibatkan seluruh personil Keluarga Landers meregang nyawa. Tanpa sedikitpun menaruh kecurigaan mengenai ancaman yang mungkin mengintai, Muldoon pun memutuskan untuk menyelidiki masalah ini seorang diri. Terbantu oleh setumpuk berkas dimana beliau mendapat informasi mengenai keterlibatan distributor properti, Peter Spencer (John Cho), Muldoon lantas mengunjungi kediaman Landers di Reyburn Drive no 44 yang sekarang ditempati oleh Faith Matheson (Lin Shaye) bersama suaminya. Sekilas, terlihat tidak ada yang salah dengan rumah tersebut hingga kemudian protagonis kita ini menemukan satu kejanggalan yang mengaitkan Lorna dengan Faith, Peter, bahkan Keluarga Landers.


Kala mengetahui The Grudge bakal dirilis di bulan Januari yang identik dengan film-film buangan dari studio besar, saya gotong royong sudah curiga. Tapi saya tidak pernah sedikitpun menyangka film ini bakal sangat mem-bo-san-kan. Hal paling mengerikan di sini bukanlah trik menakut-nakuti dari para memedinya, melainkan kenyataan bahwa saya telah menghabiskan waktu dan uang untuk menyaksikan sebuah film horor yang tak ubahnya dongeng pengantar tidur. Bersyukurlah Sony Pictures cukup sadar diri dengan melepasnya dalam durasi sepanjang 90 menit saja alasannya ialah jikalau lebih panjang sekitar 15-20 menit, saya meyakini bakal ada sejumlah penonton yang membentuk klub “paduan bunyi mendengkur” di dalam bioskop. Ya, The Grudge memang semembosankan itu. Padahal, menit pembukanya tampak menjanjikan. Ketika Fiona Landers (Tara Westwood) gres saja meninggalkan rumah kutukan, kemudian didera satu dua keganjilan yang diorkestrai oleh Kayako dan pada hasilnya membuatkan kutukan itu kepada keluarganya. Namun seusai pembuka yang memantik hasrat ingin tahu, film secara perlahan tapi niscaya mulai kehilangan energinya. Dari seabrek huruf yang diajukan oleh Nicolas Pesce, tak satupun diantaranya yang sanggup menarik tenggang rasa penonton alasannya ialah tanpa dibarengi pengembangan huruf memadai. Mereka semua selalu terlihat begitu menderita, mereka semua tampak sangat kelelahan, dan mereka semua terlihat tidak mempunyai gairah hidup. Sungguh depresif. Ditambah atmosfer pengisahan yang senantiasa suram mengikuti upaya film untuk tampil creepy plus laju penceritaan yang tak lebih cepat dari siput berjalan, The Grudge terasa sulit diikuti. Dan saya masih belum menyebut pilihan film untuk menunjukkan penghormatan kepada jilid terdahulu dengan menghadirkan plot bercabang yang tersusun atas tiga linimasa berbeda yakni 2004, 2005, dan 2006.  

Plot bercabang ini menuntut penonton untuk meletakkan fokusnya ke layar alasannya ialah ada banyak huruf berikut informasi yang mesti disusun oleh penonton. Apabila materinya memadai, tak sulit berkonsentrasi. Tapi ketika ketiga linimasa ini dibuat oleh duduk masalah (dan hasil akhir) yang bisa dibilang senada seirama, kenapa mesti repot-repot memakai teknik bercerita maju mundur (tidak) cantik? Demi menebalkan sisi misterius dari konflik utama? Atau semata-mata ingin membuat gambaran kompleks nan cerdas kepada penonton? Karena sejujurnya, The Grudge yang diperkenalkan sebagai reboot dari sebuah remake (halah!) ini tidak membutuhkan penyampaian yang dinjelimet-njelimetkan. Terlebih, penonton yang telah khatam tontonan horor – plus seri Ju-On dari Jepang atau Amerika – sudah bisa menduga dengan gampang apa yang tersembunyi dibalik misteri yang sama sekali tidak misterius ini. Yang disayangkan, keputusan untuk mendramatisir segenap duduk masalah hingga sedemikian rupa turut berimbas pada terlupakannya pembahasan ihwal mitologi dibalik kutukan dendam membara. Selain satu baris kalimat di permulaan, adegan pembuka, serta sekelumit eksposisi di pertengahan durasi yang sangat mungkin kau lewatkan jikalau berkedip, kita tidak benar-benar dibuat memahami apa yang sesungguhnya terjadi dan mengapa judul ini semestinya berada dalam rangkaian seri The Grudge. Sang antagonis utama dalam franchise ini, Kayako, hanya diposisikan sebagai cameo karena lebih menentukan untuk berjalan-jalan keliling Amerika (mumpung dapet tumpangan gratis, ya kan?) dan menyerahkan tanggungan untuk menakut-nakuti huruf beserta penonton kepada anak didiknya yang masih berstatus sebagai trainee minim pengalaman. Saya bilang minim pengalaman, alasannya ialah mereka sama sekali tidak berhasil membuat saya meringkuk tampan di bangku bioskop. Malah, mereka tergolong baik hati alasannya ialah bersedia membantu salah satu huruf untuk keramas maupun basuh muka. Sungguh mulia, bukan?


Hantu-hantu dengan tata rias menyerupai gres nyungsep di kubangan lumpur ini tak ubahnya hantu-hantu dari film horor lokal produksi Dee Company yang saking tak pedenya dengan kemampuan menakut-nakuti yang dipunyai, mereka lantas meminta sumbangan kepada departemen musik untuk memasang bunyi-bunyian pengejut jantung di level maksimal. Mereka acapkali menampakkan diri secara serampangan tanpa ada konteks berarti, kemudian musik pun dimainkan biar kita terperanjat. Kaget? Sesekali, ya. Takut? Tidak sama sekali. Jengkel? Pastinyaaaaa. Dua momen yang berdasarkan saya terbilang mendingan level mencekamnya ialah adegan pembuka yang melibatkan Kayako, dan adegan ruang berkas kala Detektif Muldoon menelusuri fail Keluarga Landers. Selebihnya ialah teknik ci-luk-ba generik yang perlahan tapi niscaya membuat diri ini sebal bukan kepalang karena kelewat sering, kelewat menyerupai satu sama lain, dan kelewat usang. Ya, trik menakut-nakutinya bukan saja tidak efektif, tetapi juga sudah teramat sangat sering sekali ditemui di film-film horor lain. Penampilan apik nan eksentrik dari Lin Shaye (well, satu-satunya performa pemain yang membekas) pun tak cukup untuk meredakan kejenuhan sekaligus kemarahan saya akhir porsi tampilnya yang terhitung amat singkat. Pada akhirnya, jikalau ada kemarahan besar yang bisa dirasakan dari The Grudge, maka itu ialah amarah dalam diri saya dan bukannya amarah dari para memedi yang terlihat sangat tidak bersemangat menyerupai karakter-karakter manusianya. Benar-benar film yang bikin istighfar.

Reaksi saya sehabis menonton. Membayangkan uang dan waktu yang sudah melayang sia-sia.



Troll (1,5/5)