October 22, 2020
Film / REVIEW / US

Review : The Hateful Eight


“Move a little strange, you’re gonna get a bullet. Not a warning, not a question… a bullet!.” 

Delapan orang asing dengan latar belakang dipertanyakan terjebak angin kencang salju di sebuah kedai singgah. Apa yang akan mereka lakukan?… atau ganti saja pertanyaannya, apa yang akan terjadi? Apabila satu sama lain tidak ingin membuat huru hara, maka sanggup jadi hingga waktu tak ditentukan mereka akan saling bertukar cerita, bersenda gurau, kemudian ngopi-ngopi manis seraya menghangatkan badan di depan perapian yang tak henti-hentinya mengobarkan api. Konflik masih sangat mungkin terpercik yang intensitasnya sangat bergantung pada korelasi antar jiwa-jiwa ‘penuh kebencian’ tersebut – sanggup tingkatan rendah, sedang, atau sangat tinggi. Tapi mengingat bencana ini berlangsung di film kedelapan dari seorang Quentin Tarantino, maka tentu kau tidak lantas menduga semuanya akan baik-baik saja, bukan? Ya, gampang untuk dideskripsikan sebagai versi Western dari salah satu karya terbaik sang sutradara, Reservoir Dogs, The Hateful Eight tentu tidak akan memberikanmu pertikaian sederhana antar karakter. Seperti sanggup kau harapkan dari Quentin Tarantino, kegilaan berdaya letup tinggi merupakan sajian utama yang ditawarkan ke penonton kala menyimak The Hateful Eight

Dalam perjalanan menuju Red Rock untuk menggantung seorang buronan, Daisy Domergue (Jennifer Jason Leigh), kereta kuda yang ditumpangi oleh sang pemburu bayaran ternama, John Ruth (Kurt Russell), dihadang dua orang asing. Keduanya ialah Major Marquis Warren (Samuel L. Jackson), mantan tentara serikat, dan Chris Mannix (Walton Goggins) yang mengaku sebagai sheriff gres di Red Rock. Disebabkan oleh beberapa alasan – kebanyakan berupa rayuan bernada bahaya – John Ruth pun terpaksa memperlihatkan sebagian ruangnya di kereta untuk Warren dan Mannix. Perjalanan mereka menuju Red Rock lantas terhambat ketika angin kencang salju mulai menerjang yang membawa keempat penumpang ini untuk singgah di Minnie’s Haberdashery. Tidak ada sang pemilik kedai, mereka disambut oleh Bob (Demian Bichir) yang dipercaya mengurus kedai selama Minnie pergi dan tiga orang asing lain; Oswaldo Mobray (Tim Roth), Joe Gage (Michael Madsen), dan seorang Jenderal Konfederasi, Sanford Smithers (Bruce Dern). Menggigil kedinginan, kedelapan orang asing ini mulanya bertingkah normal hingga percakapan demi percakapan mulai menyibak agenda terselubung masing-masing yang membuat kita mulai mempertanyakan kebenaran dari setiap ucapan mereka. 
Apabila ada yang melabeli The Hateful Eight dengan “bukan film untuk semua orang”, itu sanggup dikata betul adanya. Kunci utama semoga sanggup menikmati film kode sutradara pelopor Inglourious Basterds ini ialah kesabaran. Merentangkan durasi mencapai 167 menit – versi Roadshow malah mencapai 187 menit, termasuk Overture dan IntermissionThe Hateful Eight memang tidak cepat menggebrak. Malah, tergolong mengalun cukup lambat. Ya, setidaknya pada 100 menit pertama, film yang tuturannya dibagi ke dalam 6 kepingan ini hanya berisi dialog majemuk topik antar karakternya dengan sesekali intensitas mengalami kenaikkan. Perbincangan mereka memang tidak bersinonim dengan kata menjemukan lantaran ada banyak taburan humor-humor asing khas Tarantino yang membuat gelak tawa renyah dan mendengarkan celotehan setiap huruf tersebut merupakan kesempatan emas untuk mengenal karakteristik mereka lebih dekat, walau tak sanggup dihindari ada kalanya di titik-titik tertentu terasa sedikit mengendur yang memunculkan kesan lelah secara otomatis. Tapi ketika kau dibayangi harapan untuk menyerah, The Hateful Eight kembali menampakkan daya pikatnya yang menjerat kepenasarananmu dalam mengetahui “apa sih yang tolong-menolong terjadi?.” 

Dan, penonton pun ditempatkan pada posisi tidak pernah benar-benar sanggup mempercayai huruf tertentu. Mulanya kita akan menganggap Warren (atau setidaknya begitu maksud Tarantino) ialah huruf paling higienis diantara kerumunan begundal-begundal hingga beberapa pertarungan pengecap membuat kita ragu-ragu. Begitu pula terjadi ke Mannix dan Ruth yang tidak kalah abu-abunya dibanding Warren. Disokong olah tugas menakjubkan dari ensemble cast; kesemuanya bermain sangat cemerlang, namun tepuk tangan lebih keras patut disematkan untuk kuartet edan Samuel L. Jackson, Kurt Russell, Jennifer Jason Leigh, dan Bruce Dern, sampai-sampai sensasi rasa semacam gregetan, jengkel, dan curiga sanggup muncul secara silih berganti. Phew. Air hening yang keruh di lebih dari separuh durasi pertama perlahan-lahan mulai mengalir deras begitu Warren berkonfrontasi jago dengan Smithers yang berlanjut pada kegilaan tak pernah terbayangkan sebelumnya melibatkan kata kunci ‘kopi’. Dengan guliran pengisahan lantas menyusupkan pula elemen whodunnit, aroma sedap The Hateful Eight semakin tercium. 

Kesabaran menanti pun jadinya dibayar lunas oleh Quentin Tarantino di tiga kepingan terakhir yang menyimpan banyak kejutan, kebrutalan, dan kesintingan. Kebencian-kebencian tersembunyi lengkap dengan segala basa-basi di awal perjumpaan jadinya meledak juga lantaran secangkir kopi yang seketika memerahkan layar. Ketegangan meningkat tajam, terlebih tidak ada jalan keluar sama sekali lantaran para huruf terkepung angin kencang salju yang turun lebat. Siapa bersalah atau apa motif di balik segala kekacauan ini memang jadinya tidak dijabarkan secara memuaskan (kalau tak mau dikata, cenderung antiklimaks), namun duel janjkematian pada penghujung film divisualisasikan begitu brilian. Beruntunglah Quentin Tarantino masih menerima tunjangan dari para pelakon berkualitas jempolan, skoring musik kelas wahid gubahan Ennio Morricone, dan tata kamera mengesankan Robert Richardson yang efektif merekam sudut-sudut kedai sehingga kegilaan berdaya letup tinggi tetap sanggup dihantarkan di The Hateful Eight walau terperinci ini sama sekali bukan termasuk salah satu mahakarya yang pernah dihasilkan Tarantino.

Outstanding (4/5)