October 15, 2020

Review : The Hobbit: An Unexpected Journey

The world is not in your book and maps. It’s out there!” – Gandalf 


Sebenarnya, ini terdengar tak masuk nalar dan sangat dipaksakan. Novel The Hobbit rekaan J.R.R. Tolkien yang hanya terdiri dari kurang lebih 300 halaman dituangkan ke dalam tiga film? Oh, ini niscaya sebuah lelucon. Akan tetapi, sayangnya (atau malah justru untungnya?) inilah kenyataan yang ada. Well… money talks! Apapun dalih yang dikemukakan oleh Peter Jackson atau pihak studio, satu hal yang niscaya yaitu trilogi ini hadir alasannya alasan finansial. Siapa yang tidak terpengaruhi untuk mengulang kesuksesan The Lord of the Rings (TLOTR)? Ini terang yaitu sebuah kesempatan yang sempurna untuk kembali mencapai masa kejayaan. New Line Cinema enggan untuk setengah-setengah memerlakukan film pembiasaan novel yang lahir dari tangan cuek salah satu sastrawan Inggris terbaik ini terlebih sehabis serangkaian insiden yang menjadikan proses produksi The Hobbit jalan di daerah dan gres terlaksana nyaris satu dekade kemudian. Keputusan membawa kembali Peter Jackson untuk menggawangi film usai ditinggal Guillermo del Toro tidak bisa lebih sempurna lagi. Di bawah penanganan Om Jackson, The Hobbit: An Unexpected Journey bermetamorfosis menjadi sebuah kado final tahun yang rupawan dan menghibur. 


Menurut Anda, apa yang istimewa dari seorang hobbit berjulukan Bilbo Baggins (Martin Freeman)? Hmmm… nyaris tidak ada kalau saya bilang. Ketimbang mencium udara segar Middle-earth dengan berkelana dari satu daerah ke daerah lain demi mencari pengalaman hidup, Bilbo lebih menentukan untuk duduk manis di Bag End seraya menyeruput minuman hangat dan menggigit camilan manis manis. Baginya, inilah cara untuk merayakan kehidupan. Terima kasih kepada Gandalf the Grey (Ian McKellen) yang telah menyeret Bilbo keluar dari zona nyamannya. Tanpa ada perjalanan melintasi Middle-earth, maka bisa jadi Frodo pun akan terjebak dalam ‘live boringly ever after’ bersama sang paman. Mengambil setting waktu 60 tahun sebelum TLOTR, jilid pertama dari trilogi The Hobbit ini akan membawa penonton turut serta dalam petualangan Bilbo menemani 13 dwarf dalam perjuangan mereka untuk merebut kembali Lonely Mountain dari cengkraman Smaug, seekor naga jahat. Selama perjalanan, rombongan ini berjumpa dengan elf, troll, dan goblin yang sedikit banyak menghambat laju serta mengancam nyawa. 

Peter Jackson sama sekali belum kehilangan sentuhan emasnya kala kembali duduk di dingklik sutradara untuk mengomandoi The Hobbit: An Unexpected Journey (AUJ). Gerbang menuju Middle-earth dibuka lebar-lebar dan kita pun kembali diajak untuk mengikuti tur sehabis terakhir kali mengagumi keindahan alam dunia para hobbit, elf, dwarf, troll, sampai goblin ini sembilan tahun silam. Sisi visualnya tetap luar biasa, bahkan lebih indah dari sebelumnya. Apabila Anda tidak terlalu bersemangat dengan alur yang digulirkan, setidaknya mata masih bisa dimanjakan dengan pemandangan-pemandangan indah. Layaknya trilogi TLOTR, favorit saya di sini yaitu Rivendell dimana kawanan berjumpa dengan Elrond (Hugo Weaving) dan Galadriel (Cate Blanchett). Berkat kemajuan teknologi serta kucuran dana yang besar, tim imbas khusus yang masih ditangani oleh Weta Digital sanggup mengkreasikan setiap lokasi dan makhluk di Middle-earth dengan lebih apik ketimbang apa yang telah mereka hasilkan di trilogi TLOTR. Bahkan, Gollum (Andy Serkis) pun tampil lebih detil dan menakutkan di sini. Menyaksikannya dalam IMAX 3D yaitu pilihan yang terbaik, terlebih di beberapa bab kedalaman dan popped-up 3D-nya sangat terasa. 
Well… The Hobbit yang sejatinya menyasar belum dewasa sebagai sasaran utama pembaca tidak mempunyai jalinan penceritaan sepanjang dan sekompleks ‘sang adik’. Dibutuhkan tim penata skrip yang solid demi menghindari pengisahan yang bertele-tele dan menjemukan. Setidaknya kinerja mereka bisa dibilang cukup sukses untuk jilid pembuka ini. Fran Walsh, Philippa Boyens, Peter Jackson, serta Guillermo del Toro yang bertanggung jawab dalam urusan menumpahkan puluhan ribu kata milik Tolkien ke dalam bentuk naskah sanggup menerjemahkan setiap detil yang diharapkan dengan baik. The Hobbit: AUJ dimulai secara mengasyikkan dengan sebuah pengenalan para aksara utama dalam sebuah jamuan makan malam yang penuh kekacauan di gubuk Bilbo. Ketika perjalanan dimulai, grafik cenderung tidak stabil, naik dan turun. Sesuatu yang mau tak mau kudu dimaklumi mengingat ini beranjak dari novel untuk belum dewasa yang mana tidak terlalu banyak menjanjikan konflik serta membawa suasana dengan riang alih-alih suram. Beruntung akting gemilang dari Martin Freeman dan Ian McKellen yang eksentrik, kocak, dan senantiasa memberi keriangan sanggup menghindarkan film dari titik jenuh yang teramat sangat. Segalanya mulai menarik diikuti ketika rombongan terjebak dalam pertarungan ‘stone giants’, berhadapan dengan para Goblin di ‘Goblin’s Lair’, dan Bilbo terperosok ke dalam gua yang memisahkannya dari kawanan serta memertemukannya dengan Gollum. ‘Riddles in the Dark’ yaitu bab terbaik dari The Hobbit: An Unexpected Journey
Jadi, apakah The Hobbit: An Unexpected Journey bisa mengulang kegemilangan trilogi The Lord of the Rings? Untuk ketika ini terlalu cepat untuk menyandingkannya mengingat The Hobbit gres menelurkan satu jilid saja, namun kalau berpatokan pada The Fellowship of the Ring, An Unexpected Journey sama sekali tidak mengecewakan. Ini yaitu sebuah hiburan yang menyenangkan. Memang, ada beberapa momen datar yang sanggup menjadikan penonton menguap lebar-lebar (atau malah tertidur), terutama di awal dan pertengahan film, akan tetapi segalanya terbayarkan dengan lunas melalui titik puncak yang mengagumkan. Dimulai dari pertarungan ‘stone giants’ sampai credit title bergulir diiringi ‘Song of the Lonely Mountain’ merupakan saat-saat yang mengangkat film sehabis sebelumnya nyaris terperosok ke dalam ‘jurang membosankan’. Pada akhirnya, saya akan menyampaikan bahwa Peter Jackson telah mencurahkan segala kemampuannya untuk menyajikan The Hobbit: An Unexpected Journey secara layak kepada khalayak ramai. Bukan hidangan yang akan menciptakan saya mengucap, “Subhanallah, ini berasa di surga”, namun hidangan yang cukup menciptakan saya berkata, “ini enak.” Bagaimanapun, pengalaman sinematis yang disuguhkan tetaplah menakjubkan.

Exceeds Expectations